Responsive E-Book Reader

Strategi Mengelola Bisnis Tanpa Stres

Dedy Sidarta, BKP. CFP. PFM. – Founder & CEO DConsulting

Front Cover

“Dapatkan wawasan berharga dari buku Strategi Mengelola Bisnis Tanpa Stres karya Dedy Sidarta! Dalam buku ini, Dedy berbagi pengalaman 12 tahun berbisnis dan mengungkapkan tip praktis untuk mengatasi tantangan bisnis. Mulai dari membangun tim yang solid, sistem yang efisien hingga mengelola keuangan dengan baik, semua ada di sini! Ditulis dengan gaya yang menarik dan mudah dicerna, buku ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang ingin mengembangkan bisnis sukses tanpa stres.”

~Denny Santoso
CEO Tribelio.com

“Kupu-kupu dibentuk dari ulat menjadi kepompong. Lalu, mengalami transformasi sangat berat sehingga menjadi makhluk yang sangat indah. Proses transformasi itulah yang WAJIB dijalani oleh setiap individu yang ingin sukses di bidang apa pun. Dedy Sidarta adalah salah satu contoh kesuksesan harus melalui proses transformasi yang sangat berat sehingga tidak ada proses yang sia-sia. Selamat atas penerbitan buku Strategi Mengelola Bisnis Tanpa Stres, Anda akan mendapat banyak manfaat dari pengalaman transformasi yang fenomenal dari sang penulis sekaligus pelaku. Salam hebat luar biasa!!”

~Chandra Putra Negara
Founder CPN Group dan success before 30

“If you plan to start a new business and you are not sure should you do it, or if you have just started your new business and you are not sure what to do next, or if your business is not growing as you expect, or you are feeling so stressed by your business, then YOU MUST READ Strategi Mengelola Bisnis Tanpa Stres by my friend Dedy Sidarta. This book is very open and honest. Dedy describes the worries, uncertainties and frustrations he used to face in his life and business, and more importantly, he shares the solutions. And his solutions are down-to- earth and very applicable. Read Strategi Mengelola Bisnis Tanpa Stres and you will start to really mengelola your business tanpa stres. Congratulations Dedy, and I wish for Strategi Mengelola Bisnis Tanpa Stres to become a solution, inspiration, and blessing to many, many people.”

~James Gwee
Indonesia’s Favourite Trainer & Seminar Speaker, Author of 13 best-selling books
Instagram @jamesgwee, TikTok @james_gwee_official, Youtube @jamesgweeofcial

“Mengelola bisnis memang tidak bisa hanya bermodalkan nekat dan keberanian saja. Sebagai pengusaha, kita harus bisa membuat sistem yang baik agar bisnis dapat berjalan sesuai dengan rencana. Buku yang ditulis oleh sahabat saya, Dedy Sidarta, cocok sekali untuk pebisnis yang baru mulai agar bisa belajar lebih banyak cara mengelola bisnis agar bisa tetap happy, healthy, dan tidak stres saat mengembangkan bisnis. Untuk pebisnis senior juga bisa menjadi referensi yang bagus untuk refresh ilmu atau insight tambahan.”

~Hendy Setiono
Founder & Group CEO Baba Rafi Enterprise

“Berdasarkan pengalaman saya melatih pengusaha, hampir semua bisnis tidak terlepas dari manajemen. Meskipun entrepreneur membutuhkan insting, namun tanpa manajemen yang baik akan merepotkan. Buku ini merangkum aspek penting dalam mengelola usaha secara profesional. Rekomendasi saya untuk Anda simak dan baca berulang kali.”

~Tom MC Ifle
Founder & CEO Top Coach Indonesia

“Saya mengenal Pak Dedy lebih dari 5 tahun. Saya melihat pertumbuhan bisnis Dconsulting sangat luar biasa, terlebih bisnisnya terus bertumbuh pada saat Covid-19. Menurut saya, siapa pun pemimpin bisnisnya, tidak mudah melewati masa-masa Covid-19 dan tantangan ke depannya. Saya sangat senang membaca cerita pengalaman Pak Dedy menjalankan bisnisnya mulai dari visi-misi, people, operation, finance (good corporate governance). Saya berharap, Anda semua bisa baca dan belajar dari pengalaman Pak Dedy. Sukses selalu untuk teman- teman, Pak Dedy, dan Dconsulting.”

~Melvin Mumpuni ST, MBA, CFP(R), QWP(R)
Perencana keuangan dan founder Finansialku.com

“Buku ini menceritakan pengalaman hidup sesungguhnya dari seorang Dedy Sidarta. Beliau memulai usahanya dengan merintis dari nol hingga seperti saat ini. Selama saya memimpin universitas, langkah-langkah yang dituliskan di dalam buku ini sangat relevan untuk dapat dijalankan. Semangat buat Anda untuk mempelajari buku ini hingga selesai dan gelorakan semangat selalu dalam mempraktikkan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya.”

~Drs. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc., Ph.D., Apt.
Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

“Jangan pernah memberi titik di dalam perjalanan hidupmu. Buatlah selalu “KOMA” untuk bisa menjadi sebuah pembelajaran dan pembekalan dalam meng-upgrade diri. Buku ini very insightful! Mengajarkan bagaimana para pengusaha agar berani melangkah. Setiap langkah yang dilakukan juga harus memiliki alasan positif untuk bisa selalu bangkit saat jatuh dan berlari saat “angin seirama” dengan kita. God always bless you in your journey.”

~Ariel Wibisono
CEO PT Putra Rajawali Kencana Tbk/PURA

“Dedy adalah sosok muda, yang selalu menginspirasi saya. Awalnya, kami memulai relasi sebagai rekan bisnis yang selalu berusaha mewujudkan kolaborasi. Kebetulan kami berdua berprofesi sebagai konsultan. Sempat saya menjadi klien Dedy untuk membenahi laporan keuangan perusahaaan saya. Lucunya, Dedy juga menjadi klien saya untuk membenahi sistem pengembangan SDM di perusahaannya. Dari sini, saya makin mengenalnya sebagai pribadi yang rendah hati, terbuka, dan sangat semangat untuk belajar. Dedy tidak hanya menawarkan sistem yang disajikan rata-rata seperti kebanyakan konsultan, namun ia benar-benar memiliki passion untuk mendalami setiap isu yang dimiliki oleh klien dan memberikan solusi yang spesifik. Tulisannya dalam buku ini bukan sekadar teori, namun merupakan buah pemikiran yang dijalaninya saat mengembangkan bisnisnya sendiri dan hasil praktik nyata di lapangan. Semoga buku ini bisa menginspirasi Anda juga sebagai pembaca!! Congrats ya, Ded!!”

~Amelia Hirawan
Coach & Founder Sinergia Group Indonesia
Points of You Indonesia Country Leader

“Menjalankan bisnis memang butuh strategi dan langkah yang tepat! Di UTOMODECK GROUP, kami selalu menjunjung tinggi aspek PEOPLE sebagaimana dalam buku ini. Buku ini adalah strategi praktis yang harus dilakukan oleh para pengusaha agar bisnisnya bisa scale up dan berkembang seiring bertumbuhnya sumber daya team member di dalamnya. Sukses terus untuk Pak Dedy Sidarta dan dconsulting.id.”

~Anthony Utomo
Founder Utomo solaRUV dan Co Founder Utomo Charge+
Managing Director Utomodeck Group
Wakil Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) periode 2021—2024

“Setelah bekerja di perusahaan multinasional dan akhirnya membangun bisnis sendiri, mengelola perusahaan adalah seni dalam menggabungkan bermacam-macam set skill untuk memaksimalkan chances of success. Tapi, ada hal yang kadang dilupakan oleh para entreprenuer, yakni risk-management. Di dalam buku ini dijabarkan bahwa manajemen risiko adalah salah satu kunci sukses untuk pengembangan bisnis yang sangat penting. Buku ini banyak merangkum contoh faktual praktik di dalam bisnis. Saya rekomendasi agar pembaca dapat memahami intisari dari contoh kasus yang disajikan di dalamnya.”

~Tama
CEO Mauna Group

“Berani mengakui kesalahan & belajar dari pengalaman, lalu mau memberikan solusi, adalah nilai plus utama dari buku ini. Selamat menikmati dinamika perjuangan seorang Pembelajar Dedy Sidarta dalam menggapai kesuksesannya lewat dconsulting.id yang sudah terbukti memberikan solusi bagi klien-klien maupun koleganya. Terus Menginspirasi Indonesia. Salam dari saya.”

~Tommy Wong
Ketum Billionaire Mindset Indonesia

“Seperti yang dituliskan dalam bukunya Michael E. Gerber, 80% perusahaan akan tutup dalam 4 tahun pertama. Tentu saja ini disebabkan karena banyak orang belum memiliki pengalaman untuk memulai usaha. Buku ini sangat detail menjelaskan langkah-langkah untuk membangun perusahaan yang baik.”

~Wilson Mandalaputra
Owner & CEO Millionaire Group Indonesia

“Fascinating read and he provide tool kit to help entrepreneur change minds, organization, and the best routes to change mindset as well removing all the barriers. We all know how it’s hard to managing company, and we are spending too much time pushing people and not nearly enough time unravel the obstacle to taking simultaneously action. Brother Dedy Sidarta outlines as a smarter and effective approach to gripping all the situations and savvy advices. I am grateful to be one of the many who read this book and its essential read for anyone in the business.”

~Rico Tedyono M.Sc., MBA
Co-Founder & Chief Operating Officer KOMUNAL Fintech Neo Rural Bank

“Mengelola bisnis tentulah tidak mudah. Banyak aspek yang perlu dikelola, dikontrol, dan dikembangkan. Melalui buku ini, Bro Dedy Sidarta membagikan pengalaman dan ilmunya. Cermat, detail, dan menarik untuk dibaca. Good job & thumbs up!”

~Paulus Sulastri, S.Kom., M.A.
Co-Founder Indonesia Pride Consulting & Business Expert

“Buku ini merupakan intisari dari pengalaman panjang Dedy Sidarta sebagai profesional hingga menjadi pebisnis. Kisah kesalahan maupun keberhasilan dalam berbisnis selama 12 tahun menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi pembaca yang akan dan sedang menjalankan bisnis. Lebih penting lagi, pengalaman tersebut berhasil disarikan dalam sebuah framework yang sistematis dan kokoh untuk mengelola bisnis. Sebuah buku yang layak untuk dibaca dan diterapkan guna meminimalkan risiko kegagalan dalam berbisnis.”

~Lukas Setia Atmaja, Ph.D.
Akademisi di Universitas Prasetiya Mulya & Founder of HungryStock Community

“Melalui buku ini bisa dilakukan general check up kesehatan bisnis kita masing-masing! Sangat lengkap dan detail.”

~Anton Thedy
Founder txtravel

“Memulai bisnis dan membangun bisnis itu mudah. Namun, mengelola bisnis sambil mengembangkan menjadi bisnis yang besar tidaklah semudah pada saat memulai. Itulah alasan banyak bisnis yang cepat mature dan tidak terlalu berkembang lagi. Memang tidak banyak buku yang membahas dan memberikan panduan secara komprehensif kepada para pelaku usaha agar bisa mengelola, menjalankan, dan bisa mengembangkan usahanya. Mengelola usaha membutuhkan multiple skill dari berbagai disiplin ilmu dan pengalaman yang berbeda-beda. Beruntung Pak Dedy dengan segudang pengalaman membantu berbagai jenis usaha ditunjang dengan ilmu manajemen, akuntansi, dan pajak yang mumpuni bersedia menuangkan semua ilmu dan pengalaman yang dimiliki dalam buku ini. Saya sangat percaya buku ini akan menjadi manual book yang sangat bermanfaat bagi semua pelaku usaha dalam mengelola dan membawa usahanya semakin maju. Saya sangat merekomendasikan buku ini.”

~Darwin Tjoe
Founder CPSsoft (Accurate Accounting Software)

“Setiap masalah, selalu ada jalan keluarnya merupakan semangat sekaligus solusi yang diberikan oleh buku karya Dedy Sidarta ini. Melalui buku ini, kita belajar dari pengalaman berharga dari seorang Muda yang Luar Biasa dalam membangun Bisnisnya sekaligus dilengkapi dengan strategi, tip, dan permasalahan yang sempat dihadapinya. Bro Dedy memberikan langkah-langkah konkret yang bisa kita ikuti dalam mengembangkan bisnis dan tentu saja dunia bisnis Indonesia akan semakin maju dengan adanya buku keren ini!”

~Imam Wijoyo
Chairman Indonesia Winning Institute
Co-Founder Indonesia Pride Consulting
Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan Cendekia Utama (Universitas Dr. Soetomo)

“Saya bertemu pertama kali dengan Pak Dedy karena diperkenalkan klien coaching saya yang juga sahabat beliau. Kesan pertama terhadap Pak Dedy adalah ini orang baik dengan energi yang positif. Pak Dedy jelas AHLI di bidangnya (Sistem Bisnis, Keuangan, dan Pajak), tetapi yang membuatnya berbeda dibanding lainnya adalah beliau ini peduli dengan orang lain, baik itu klien, tim, partner, atau rekan bisnisnya. Saat Anda ingin belajar dari seorang praktisi bisnis yang kredibel agar bisnis Anda bisa dikelola dan berjalan tanpa stres, miliki (dan baca) buku Strategi Mengelola Bisnis Tanpa Stres yang ditulis dengan hati oleh Pak Dedy Sidarta. Highly Recommended!!”

~Sukarto Sudjono
Digital Success Coach @ DigitalSuccess.id
Helping Business Owner to Grow & Expand Successfully in Digital Era

“Buku ini menceritakan kisah nyata dan kasus di bisnis yang dialami Ko Dedy Sidarta. Dari buku ini, kita akan belajar banyak. Buku ini isinya daging banget! Mulai dari membangun sistem, mengelola SDM hingga strategi pengembangan usaha dari sisi keuangan. Kalian harus baca buku ini sampai habis karena isinya sangat relevan. Setelah selesai baca, harus segera praktikkan juga ilmunya!”

~Richard Putra
Founder of Master Online Community

“Buku Strategi Mengelola Bisnis Tanpa Stres oleh Dedy Sidarta ini merupakan karya yang luar biasa & inspiratif. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata Dedy Sidarta di dalam dunia bisnis selama 12 tahun, dimulai dari pengalaman bisnis sebagai profesional di perusahaan hingga entrepreneur membangun & mengembangkan sendiri perusahaannya. Di dalam buku ini, Dedy banyak membagikan tip yang sangat nyata dan praktis untuk hal-hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari leadership yang baik, visi-misi yang jelas, constant business review untuk perbaikan, framework bisnis yang benar, dan financial control yang baik. Buku ini ditulis secara bertahap & kasus-kasus nyata yang dibahas. Buku ini mudah Anda cerna sebagai pedoman dan strategi jitu untuk mengembangkan bisnis.”

~Stephen Walla
CEO Jamu Iboe Group

Hai, rekan-rekan semua! Salam kenal, saya, Dedy Sidarta. Mungkin Anda mengenal saya melalui social media, seminar-seminar yang sudah sempat saya lakukan, atau bahkan baru mengenal saya dari buku ini. Salam kenal, ya! Saya doakan hari ini Anda semuanya selalu diberkati, selalu sehat, dan selalu berbahagia.

Di buku ini, saya mau sharing secuplik dari perjalanan hidup dalam membangun bisnis. Kisah sulitnya membangun dan mempertahankan sebuah bisnis hingga mendapatkan wisdom. Semua proses itu mengantar saya pada posisi dan pencapaian saat ini.

Saya dipercaya Tuhan untuk mengelola beberapa perusahaan sendiri, menjadi konsultan, dan pendamping para pengusaha supaya bisnis mereka bisa berkembang. Selain itu, saya juga menjadi investor kecil-kecilan yang mendanai beberapa proyek.

Di buku ini, saya akan sharing praktik riil dalam hidup, bukan teori semata. Semoga rekan-rekan yang membaca buku ini hingga selesai, bisa mendapatkan intisari perjalanan hidup saya. Mudah-mudahan kisah saya bisa menjadi inspirasi dan motivasi dalam berkerja, membangun usaha, dan bangsa Indonesia.

Saya menulis buku ini seperti rangkaian kisah hidup. Tentunya Anda akan membaca kisah saya membangun usaha dari nol hingga sekarang. Saya akan menceritakan problem-problem riil yang saya hadapi. Kisah problem yang semakin besar ketika usaha bertumbuh tentunya juga di dalam buku ini. Saya menjelaskan cara menangani setiap problem hingga selesai. Saya menceritakan cara menjadi 1% perusahaan yang bertahan pada tahun ke-20 dan tip-tip praktis pengusaha untuk membangunkan usaha.

Supaya buku ini bisa lebih bermanfaat untuk Anda, saya sudah persiapan beberapa tools dan video berikut ini:

  1. Templat (format) SOP yang bisa Anda gunakan di dalam memperbaiki sistem bisnis.
  2. Templat KPI yang bisa Anda gunakan untuk melakukan penilaian adil terhadap karyawan.
  3. Video “Mahir Keuangan untuk Entrepreneur” sebagai bahan mempelajari indikator-indikator keuangan yang perlu Anda perhatikan untuk membuat bisnis lebih berkembang.
  4. Video “5 Langkah Perbaikan Sistem Operasional (SOP) pada Bisnis untuk Mencegah Kecurangan”.
  5. Video “Merancang Key Performance Indicator untuk Peningkatan Kinerja Perusahaan dan Karyawan”.

Tools dan video-video tersebut bisa Anda unduh melalui link (tautan) berikut ini:
https://dconsulting.id/bisnistanpastres

Saya tahu, Anda yang sedang membaca ini sudah memiliki banyak permasalahan di dalam usaha atau hidup. Mungkin Anda merasa juga masalah tersebut sangat berat dan tidak mampu menanganinya. Tenang, Anda tidak sendiri! Saya juga seperti Anda, bahkan banyak orang-orang seperti Anda di luar sana! Satu hal yang saya yakini hingga saat ini bahwa SETIAP MASALAH, SELALU ADA JALAN KELUARNYA!

Semoga buku ini menjadi jawaban untuk setiap permasalahan yang Anda alami saat ini. Anda boleh menyimpan juga nomor tim saya yaitu 0878.5216.1789/0821.3232.8778. Dalam buku ini, saya akan memberikan tautan untuk mengakses materi atau tools yang Anda perlukan untuk menjawab setiap permasalahan. Apabila akses tautan tersebut bermasalah, Anda bisa menghubungi nomor tersebut.

Semoga dengan membaca buku ini hingga halaman terakhir, saya bisa memberikan support secara tertulis kepada Anda. Apabila ada kutipan di dalam buku ini yang menginspirasi Anda, bolehlah Anda membuat story di Instagram dan mention akun saya @dedysidarta_official dan @dconsulting.id. Supaya saya tahu, Anda sedang bersemangat dan belajar terus untuk mengembangkan usaha Anda lebih maju lagi. Terus semangat dan berjuang untuk menggapai mimpi, membesarkan usaha Anda, berkerja untuk diri sendiri dan bangsa, serta menjadi berkat untuk sesama!

Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang menjadi bagian dari perjalanan hidup. Terima kasih kepada istri saya yaitu Grace, orang tua, saudara-saudara, rekan-rekan keluarga besar dconsulting.id, partner dan saudara di Indonesia Pride Consulting, dan rekan-rekan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Tanpa mereka, tentunya saya tidak bisa seperti sekarang ini.

Dedy Sidarta

Saya buatkan beberapa pertanyaan yang perlu Anda jawab terlebih dulu untuk membuat buku ini lebih bermanfaat. Anda bisa mengetahui secara mandiri, seberapa besar masalah dalam bisnis yang sedang Anda hadapi saat ini.

Poin Pengaturan Karyawan

No. Pernyataan Ya Tidak
1. Karyawan Anda sering resign dari perusahaan.
2. Kesulitan mencari karyawan baru yang kompeten.
3. Karyawan sulit diarahkan dan mengikuti perintah.
4. Karyawan tidak loyal dan sering membuat masalah.
5. Karyawan pernah melakukan kecurangan dalam perusahaan.

Poin Pengaturan Sistem Bisnis

No. Pernyataan Ya Tidak
1. Pekerjaan setiap karyawan masih tidak jelas dan sering tumpang-tindih.
2. Anda masih turun tangan dalam kegiatan operasional perusahaan.
3. Anda kesulitan meninggalkan perusahaan untuk berlibur.
4. Anda kesulitan membuka cabang baru.
5. Anda semakin stres sering dengan bertambahnya karyawan atau cabang perusahaan.

Poin Pengaturan Keuangan

No. Pernyataan Ya Tidak
1. Anda tidak memiliki laporan keuangan yang jelas sampai saat ini.
2. Anda sering mengalami kekurangan pendanaan.
3. Anda tidak tahu aliran uang meskipun memiliki keuntungan.
4. Anda bertengkar dengan partner kerja karena urusan keuangan yang tidak beres.
5. Anda memiliki piutang dari klien dengan nominal besar dan tidak tertagih.

Coba Anda beri tanda centang terlebih dulu mana yang menjadi gambaran kondisi perusahaan Anda. Apabila pada setiap sisi, Anda mendapatkan banyak jawaban banyak Ya, berarti Anda sedang memiliki masalah di poin tersebut.

Tentunya untuk mendapatkan manfaat optimal, sebaiknya Anda membaca secara runtut apa yang saya tulis di dalam buku ini. Saya sudah berusaha memberikan tulisan terstruktur supaya Anda bisa memahami dari awal sampai selesai dengan kerangka berpikir yang lengkap. Namun saya juga tahu, kadang rutinitas sebagai pengusaha membuat Anda tidak memiliki banyak waktu. Oleh karena itu, saya memberikan shortcut dalam mempelajari dan memanfaatkan buku ini sesuai kemungkinan:

Bagi Anda yang memiliki banyak jawaban Ya di poin pengaturan karyawan, Anda bisa langsung menuju ke bab 7. Bab 7 berisi strategi yang bisa Anda lakukan untuk memperbaiki permasalahan karyawan dalam perusahaan Anda.

Bagi Anda yang memiliki banyak jawaban Ya di poin pengaturan sistem bisnis, Anda bisa langsung menuju ke bab 8. Bab 8 berisi cara untuk membangun sistem bisnis yang ideal dan langsung dapat diterapkan di dalam perusahaan Anda.

Bagi Anda yang memiliki banyak jawaban Ya di poin pengaturan keuangan, Anda bisa langsung menuju ke bab 9. Bab 9 berisi pengaturan keuangan yang tepat. Hal ini tentunya akan membuat usaha Anda lebih sehat dan berkembang.

Dalam penjelasan buku ini, ada langkah-langkah teknis yang perlu Anda tanyakan. Silakan berkomunikasi dengan saya melalui media sosial Instagram @dedysidarta_official, silakan story halaman di buku ini yang ingin Anda tanyakan dan tulis pertanyaannya. Saya akan berusaha menjawab pertanyaan Anda. Semoga dengan itu, buku ini bisa semakin bermanfaat untuk pengembangan usaha Anda.

Mulanya, kehidupan saya biasa-biasa saja sama seperti manusia pada umumnya. Saya bersekolah, masuk universitas, kemudian bekerja. Awalnya, saya masuk kuliah di salah satu universitas yang cukup terkenal di Kota Surabaya, yaitu Universitas Widya Mandala. Salah satu universitas yang cukup bergengsi pada zamannya. Saya mengambil jurusan S-1 Akuntansi karena desakan orang tua yang mengatakan bahwa Akuntansi adalah jurusan baik untuk kehidupan saya pada masa mendatang.

Sejujurnya, saya ingin mengambil jurusan manajemen. Namun, orang tua sudah bertitah seperti itu, ya sudahlah. Anak harus taat dengan saran dan rekomendasi orang tua. Lalu, masuklah saya menjadi mahasiswa baru. Saat menjadi mahasiswa baru dan mengikuti kegiatan-kegiatan kampus, saya merasa hidup kok begini-begini saja. Kemudian, saya putuskan mencari rutinitas lain dalam kehidupan kampus yang terasa standar saja. Akhirnya, saya menjadi pengurus sebuah organisasi, Badan Perwakilan Mahasiswa.

Dilema awal kuliah

Gambar 1. Dilema awal kuliah

Ternyata lumayan juga ya jadi pengurus organisasi, banyak teman, banyak kenal dosen, dan hal-hal menarik lain yang saya pelajari ketika berorganisasi di kampus. Setelah setahun berorganisasi, tiba-tiba saya dicalonkan menjadi ketua organisasi mahasiswa yang lain. Beberapa senior merasa saya memiliki kapabilitas. Akhirnya dengan berat hati, saya memberanikan diri mengikuti seleksi pemilihan ketua organisasi mahasiswa.

A. Belajar Memimpin Organisasi pada Masa Perkuliahan

Puji Tuhan, akhirnya saya terpilih menjadi ketua organisasi mahasiswa bersama beberapa rekan lain. Waktu itu, saya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi. Ternyata menjadi ketua dari sebuah organisasi mahasiswa berarti juga. Saya memimpin kurang-lebih 30 orang, beberapa orang lebih tua dari saya dan sebagian saya. Kesulitan terbesar saat itu, semua orang di dalam organisasi bebas memiliki kehendak masing-masing. Ada yang bisa disepadati, ada juga yang tidak bisa disepadati. Makmul juga karena mereka menjadi pengurus organisasi dengan sukarela dan tanpa mendapatkan upah apa pun.

Bahkan saya pernah menangis di dalam rapat karena minimnya pengalaman. Saya stress pada saat memimpin organisasi tersebut. Masih segar juga di dalam ingatan, bagaimana kami beradu argument di dalam ruang rapat, dan saling berusaha memenangkan pendapat masing-masing. Saya sebagai ketua belum mampu mengendalikan kondisi. Setelah melalui semua itu, akhirnya saya belajar dan berusaha meningkatkan kemampuan komunikasi, koordinasi, negosiasi, dan kepemimpinan. Pada akhirnya, saya bisa memimpin organisasi dengan baik dan program kerja pun berhasil dilaksanakan.

Pengalaman berharga memimpin organisasi berguna hingga saya menjadi pengusaha. Saya terus aktif berorganisasi hingga mendekati akhir semester perkuliahan. Saya lulus pada semester 7. Setelah siadang skripsi dan dinyatakan lulus, saya bingung mau melamar ke mana, ya. Saya pikir awalnya ingin berprofesi menjadi management trainee. Pikir saya saat itu adalah profesi yang bergengsi dan fasilitas dari perusahaan cukup besar. Bagus juga kali ya karena keinginan saya awalnya masuk jurusan manajemen.

Dinamika memimpin organisasi

Gambar 2. Dinamika memimpin organisasi

B. Bekerja di Dunia Keuangan

Namun saat mengurus dokumen-dokumen kelulusan, saya ditawari bekerja oleh rekan, (Almarhum) Eka di Kantor Akuntan Publik yang bernama KAP Drs. Hanny Wolfrey. Kebetulan waktu itu, IPK saya pas-pasan saja. Ya, memang IPK-nya masih lebih dari 3.00 sih, tapi masih di bawah 3.5. Hal itu membuat saya kurang yakin akan diterima di dalam kantor akuntan publik tersebut. Bayangan saya orang yang akan masuk ke dalam sebuah akuntan publik adalah orang-orang yang pintar dan mempunyai indeks prestasi di atas 3.5. Apalagi KAP Hanny Wolfrey termasuk salah satu kantor akuntan publik besar di kota saya. Cuma ya tetaplah saya coba untuk melamar, toh tidak ada ruginya.

Saya mengikuti dua tes yaitu tes tulis soal akuntansi, tes psikologi, dan tes ketelitian. Saya mengerjakan tes psikologi terkait gambar, tulisan, dan sebagainya. Selesai mengerjakan berbagai macam tes, saya kembali ke rumah dengan perasaan ragu, lulus dalam tahap tes atau tidak.

Proses wawancara kerja

Gambar 3. Proses wawancara kerja

Sehari setelah tes di KAP Hanny Wolfrey, saya ditawari pekerjaan lain oleh teman yang bernama Hartono di perusahaan pamannya di bidang konstruksi. Waktu itu, saya melamar juga menjadi accounting staff. Saya diminta langsung datang oleh Hartono dan membawa berkas-berkas lamaran yang diperlukan. Saya datang besoknya pada pukul 13.00 WIB dan langsung melalui proses tes dan wawancara. Perusahaan ini masih konvensional, jadi proses wawancaranya tidak terlalu panjang. Saya cuma diminta mengisi berkas dan sedikit soal-soal mengenai akuntansi.

Menariknya di dalam berkas aplikasi pelamar saat proses wawancara, saya diberikan sebuah pertanyaan, “mengapa saya melamar menjadi akuntan?” Dengan percaya diri saya menjawab, saya ingin mempraktikkan ilmu yang sudah saya pelajari pada masa perkuliahan. Saya memberikan berkas dan tes kepada seorang bapak yang melakukan proses tes tersebut. Tak lama kemudian, si bapak memanggil saya dan bertanya banyak hal. Karena sudah terbiasa berkomunikasi di organisasi pada saat kuliah, saya menjawab dan meyakinkan bapak tersebut dengan mudah. Namun anehnya, pada akhir sesi, bapak tersebut menyatakan bahwa saya menawarkan pekerjaan posisi marketing. Info dari beliau, mereka sedang membutuhkan marketing dan beliau merasa saya cocok untuk posisi tersebut.

Otak saya langsung berpikir cepat! Dalam hati ingin saya menjawab, iya. Saya mau ditempatkan di posisi marketing. Bayangan saya pada saat itu, memang ini adalah posisi yang saya idam-idamkan dari dulu. Akan tetapi, di dalam berkas lamaran, saya menginfokan bahwa saya mau bekerja di dunia akuntansi karena ingin mempraktikkan ilmu semasa kuliah. Terang saja ada konflik batin pada saat itu.

Saya mengambil keputusan dalam beberapa menit saja. Alasannya simpel karena saya sudah menulis sebuah pendapat atau komitmen dalam kertas lamaran tersebut. Saya tidak mau menjatuhkan sendiri. Saya berprinsip bahwa seseorang lebih harus bisa memegang teguh perkataannya! Belaiu tetap bersikeras mendorong saya menerima tawaran tersebut dengan iming-iming gaji besar, komisi, dan sebagainya. Namun, saya bersikeras menolak dengan alasan yang sudah saya utarakan tadi. Dengan berat hati, beliau bisa mengerti dan mempersilakan saya meninggalkan ruang wawancara.

Ternyata Tuhan punya rencana lain. Setelah proses wawancara yang cukup aneh menurut saya, sorenya sepulang wawancara di perusahaan konstruksi, tiba-tiba handphone saya berdering.

“Kring… kring… kring….”

Saya lihat nomor panggilan masuk adalah nomor lokal dan belum saya simpan. Jadi, saya tidak tahu siapa yang menelepon. Ketika saya angkat panggilan tersebut, ternyata penelponnya dari KAP Hanny Wolfrey. Saya diminta datang ke kantornya besok untuk bertemu dengan pimpinan.

Dengan cepat saja saya jawab, “Baik, Ibu. Saya akan datang besok.”

Eskonnya, saya bertemu dengan pimpinan utama dari KAP Hanny Wolfrey, Bapak Hanny Wurangian. Penampilannya sangat rapi dan profesional. Dengan nada suaranya yang hangat, beliau bertanya banyak hal dan saya jawab saja dengan adanya. Setelah kurang lebih 30 menit, beliau menyudahi pertanyaannya dan memberikan ucapan selamat kepada saya karena sudah lulus tahap wawancara akhir. Beliau memberi tahu gaji yang akan saya terima saat pertama kali masuk. Jujur saja waktu awal masuk bekerja gaji yang ditawarkan di bawah rata-rata dari perusahaan lain. Namun prinsip saya, bekerja dari konsultan keuangan bukanlah untuk mencari gaji, tapi mencari ilmu. Saya yakin akan mendapatkan banyak pengalaman dari dunia konsultan keuangan.

Tanpa pikir panjang, saya langsung menerima tawaran dari Pak Hanny. Beliau meminta saya untuk minggu depan bisa langsung bekerja. Yeaaah!!! Akhirnya, saya diterima bekerja! Rasa senang dan bahagia karena saya masuk ke level baru dalam kehidupan saya, yaitu memulai bekerja di perusahaan yang besar. Segala persiapan untuk memulai pekerjaan saya lakukan, mulai dari mencari pakaian kerja, mempersiapkan tas kerja, dan isinya.

Latar belakang dari keluarga yang biasa membuat saya harus efisien dalam membeli pakaian kerja. Alhasil, baju kerja yang dipersiapkan masih kurang. Kemudian, ayah memberikan beberapa baju kerjanya kepada saya. Wah senangnya dapat baju kerja dari ayah, meskipun bukan baju baru, tapi tetap saja senang mendapatkan dukungan dari orang tua.

C. Belajar dari Kisah Hidup Orang Tua

Di bagian ini, saya ingin menceritakan sedikit kisah hidup orang tua. Ayah berasal dari keluarga yang berkekurangan. Beliau sudah tidak memiliki ayah pada usia 8 tahun. Nenek harus bekerja keras untuk menghidupi 6 orang anaknya. Pada usia 12 tahun, ayah putus sekolah dan pada usia 14 tahun sudah harus kerja menjaga kuli angkut di Pasar Keputran, Surabaya. Bisa dibayangkan pada usia muda, beliau harus bekerja keras di kehidupan pasar tradisional.

Ayah berkatat dengan karung beras, jagung, kuli lain, preman pasar, dan sebagainya. Bagi kalian yang tidak tahu arti dari kuli, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang bekerja dengan mengandalkan kekuatan fisiknya (seperti membongkar muatan kapal, mengangkat barang dari stasiun satu tempat ke tempat lain) pekerja kasar.

Pekerjaan pertama ayah sebagai kuli

Gambar 4. Pekerjaan pertama ayah sebagai kuli

Tidak tamat SD dan berasal dari keluarga yang tidak mampu, bukan alasan beliau untuk tidak berusaha lebih giat. Meskipun tidak bersekolah, beliau tetap menggunakan akal sehat dan tenaganya dengan baik. Ketika bekerja menjadi kuli angkut, beliau sering mengangkut karung beras beratus-ratus kilogram di pundaknya sehingga pundaknya menjadi miring. Beliau berpikir bagaimana caranya agar bekerja tidak hanya menggunakan tenaga. Kemudian, beliau melamar ke perusahaan dan menjadi staff gudang. Tugas ayah adalah mengatur barang, pengiriman, dan melakukan proses packaging. Lepas dari pekerjaannya sebagai staff gudang, beliau naik tingkat menjadi staff penagihan dan urusan dengan pelanggan.

Berikut gaya bekerja dan cekatan, beliau naik pangkat menjadi soles. Possisi soles membuat beliau lebih terbuka dengan dunia usaha dan bertemu dengan lebih banyak orang. Dari bagian soles, beliau diangkat lagi menjadi kepala pabrik. Herannya, beliau bisa mengerjakan bagian yang tidak pernah dipelajari atau berkecimpung sebelumnya.

Kalimat yang saya ingat dari beliau adalah, “Selama mau, semua pasti bisa dipelajari!” Kalimat itulah yang saya pegang hingga saat ini. Tidak ada yang tidak bisa, selama kita mau belajar!

Jujur saya banyak belajar dari sosok ayah, seseorang yang bertanggung jawab, pekerja keras, cinta keluarga, dan pembelajar yang hebat. Hal yang menarik lagi dari kisah beliau adalah menjadi seorang wakil direktur di perusahaan yang cukup besar pada zamannya. Padahal beliau hanya lulusan SD dan harus memimpin orang-orang yang punya strata pendidikan lebih tinggi. Pada akhirnya, beliau tidak bisa menjadi direktur karena adanya politik perusahaan. Beliau didiskriminasi dari calon direktur karena pendidikannya bukan lulusan strata 1. Beliau mengundurkan diri karena politik perusahaan yang sudah tidak sehat. Ayah membuka usaha sendiri hingga saat ini. Beliau membiayai kami sejak kecil hingga anak-anaknya masuk ke dunia kerja. Saya sangat berterima kasih untuk usaha kedua orang tua yang bekerja keras demi mencukupi dan membesarkan anak-anaknya.

D. Tantangan Bekerja di Dunia Keuangan

Hari pertama bekerja, saya bangun pukul 5.00 WIB, berolahraga sebentar, mandi, dan mempersiapkan diri agar segera berangkat bekerja. Saya harus berangkat lebih pagi supaya tidak terlambat ke kantor. Apalagi, saya bukan tipe yang suka terlambat. Jadi, saya harus berangkat jauh lebih awal dari waktu yang ditentukan. Brum… brumm… saya naik sepeda motor pemberian orang tua, Honda Astra tahun 1998. Motor yang menemani saya juga selama kuliah. Motor lama, tapi masih sangat kuat untuk saya bawa ke mana-mana.

Saya sampai di tempat kerja pukul 7.30 WIB. Saya sampai sesuai dengan prediksi 30 menit lebih awal sebelum mulai bekerja pukul 8.00 WIB. Saya masuk kantor seperti kebiasaan di kampus, selalu mengucapkan sapaaan selamat pagi kepada semua orang yang saya temui. Kebiasaan itu membuat karyawan lain mengingat saya.

Hari pertama bekerja, saya langsung diberikan briefing penting dan pengarahan dari beberapa senior yang akan berkoordinasi dengan saya. Sayangnya, waktu itu pengarahan yang diberikan kurang jelas dan tidak terstruktur. Saya diberikan penjelasan, namun masih bingung. Beberapa hal yang saya ingat, saya diberikan pengarahan dari senior yang akan resign dalam jangka waktu 2 bulan. Waduh! Bagaimana saya bisa belajar dari orang yang akan resign dari perusahaan 2 bulan lagi. Siapa yang akan mengajar saya? Namun, ya sudahlah, saya coba saja semaksimal mungkin, tidak perlu banyak berpikir.

Setelah briefing singkat yang diberikan, sekitar 2 jam kemudian, saya sudah diberikan data-data yang saya butuhkan. Senior saya menjelaskan secara singkat apa yang harus saya kerjakan dan meminta saya memulai mengerjakan serta memeriksa data-data yang diberikan. Jujur waktu itu saya sangat bingung, bagaimana cara mengerjakannya. Briefing singkat sekali dan tidak ada pelatihan yang memadai. Mungkin senior yang membingungkan mengganggap saya sudah mengerti! Karena enggan dianggap tidak mampu, saya coba pelajari perlahan sambil bertanya kepada rekan selevei. Kebetulan waktu itu juga ada beberapa karyawan baru sehingga kami mudah berteman. Kami berdiskusi terkait pekerjaan.

Bukan hal yang mudah menjadi staff akuntan publik pada awalnya. Saya yang dulunya aktif berorganisasi dan sering beraktivitas secara dinamis, harus dipaksa diam di belakang komputer. Saya memeriksa data-data keuangan sehari-hari dan hanya bertemu dengan laptop serta dokumen ketika bekerja. Saya cukup stres mengikuti ritme kerja perusahaan yang jadwalnya cukup padat dan mengharuskan sering kerja lembur. Apalagi waktu kuliah, saya lebih banyak mendapatkan teori daripada praktiknya. Hal itu membuat saya tambah sulit beradaptasi.

Dalam pikiran saya, muncul beberapa hal yang menguatkan pribadi. Ada suara pelan yang berkata, “Kamu sudah telanjur basah, renang saja sekalian.” Saya mengintepretasikan kalimat itu menjadi, “Saya sudah telanjur masuk ke dalam sebuah kantor akuntan publik, dan saya sudah mempelajari beberapa hal di sana. Mengapa tidak saya lanjutkan saja?”

Stres awal bekerja

Gambar 5. Stres saat awal bekerja

Hari demi hari saya lewati dengan penuh semangat! Hampir setiap hari saya datang ke kantor pukul 7.30 WIB. Saya tidak mau terlambat. Tiap hari pun saya pulang hampir selalu overtime. Waktu pulang dari kantor saya harunya pukul 16.00 WIB. Namun, saya sering pulang lewat dari pukul 20.00 WIB, bahkan lebih dari pukul 22.00 WIB.

Banyak teman bekerja, mengapa saya tidak pulang overtime saja? Saya masih baru dan perlu belajar lebih banyak, itu yang ada dalam benak saya. Jadi, saya gunakan waktu selesai dari jam kerja normal untuk belajar hal baru, menyelesaikan pekerjaan dari senior, atau manjager yang belum selesai. Harapannya, ketika saya bisa belajar lebih giat dan mengerjakan deadline lebih cepat, saya bisa meminta pekerjaan, dan dipercepat melaksanakan proyek baru. Dengan demikian, saya bisa belajar lebih banyak.

E. Mendapatkan Kepercayaan untuk Mengerjakan Proyek Premium

Tak membutuhkan waktu lama, saya sudah dilihat oleh salah satu partner dalam akuntan publik tersebut, Pak Bose namanya. Tidak sampai 3 bulan bekerja, saya sudah diajak belajar mengerjakan proyek unggulan perusahaan. Saya terlibat dalam proyek membuat sistem bisnis perusahaan dan menyambungkan dengan program ERP (enterprise resource planning). Proyek tersebut adalah proyek pertama dengan nilai terbesar. Saat itu, saya mendapatkan klien besar, salah satu perusahaan pertambangan minyak bumi. Kami juga berkolaborasi dengan salah satu perusahaan penyedia layanan software ERP besar.

Wah bangga sekali ya dari sekian banyak orang di dalam perusahaan, saya terpilih menjadi tim yang mengerjakan proyek unggulan. Apalagi waktu itu saya belum genap 6 bulan bekerja di perusahaan. Saya sudah mendapatkan 1 laptop baru untuk mengerjakan proyek tersebut. Saat itu, tidak semua karyawan bisa mendapatkan laptop untuk bekerja. Karyawan diminta untuk sharing laptop dengan rekan lain. Laptop kantor hanya digunakan ketika bekerja dengan klien. Ketika di kantor, karyawan harus menggunakan komputer kantor. Dan tetapi, saya sudah dipercaya mendapatkan 1 laptop baru yang bisa saya sendiri dan bawa pulang untuk bekerja di rumah. Betapa bangganya saat itu!

Ada beberapa karyawan yang iri dan mengatakan bahwa saya adalah anak emas Pak Bose. Hal tersebut saya tanggapi secara santai, toh saya juga tidak aktif untuk melakukan hal jelek. Saya hanya diberikan kepercayaan. Saya ingin kepercayaan yang diberikan bisa terjaga dengan baik. Sebelum menangani proyek sistem bisnis itu saya diberikan pembelajaran secara intensif oleh perusahaan penyedia software ERP tersebut. Rasa semangat meliputi diri saya pada saat itu, meskipun saya cukup pusing juga dibuatnya. Saya harus mempelajari hal baru yang tidak pernah saya dapatkan di bangku perkuliahan.

F. Mendapatkan Leader yang Bukan “Leader”

Saat menangani proyek tersebut saya diberikan 2 orang leader. Leader pertama adalah seorang manajer wanita bernama Ibu D. Maaf, saya harus saya samarkan namanya karena ada kejadian kurang baik. Leader kedua adalah Ibu L. Kami belajar bersama-sama di Pelatihan Software ERP karena proyek tersebut juga baru untuk perusahaan. Bahkan manajer saya pun belum pernah menangani proyek tersebut. Setelah mempelajari selama 1 minggu, akhirnya kami dinyatakan siap mengimplementasikan proyek tersebut di lapangan.

Pelajaran dari penyedia sof tware ERP tersebut belum membuat saya siap seutuhnya.

Hal kedua yang perlu saya tangani adalah terkait pembuatan Standard Operational Procedure (SOP) untuk perusahaan klien. Saya belajar SOP hanya di kampus dalam mata pelajaran Sistemasi Informasi Akuntansi(SIA). Terlebih lagi selama 6 bulan bekerja di kantor akuntan publik, saya lebih banyak berkutat di divisi audit. Jujur saja, pusing juga membuat SOP awalnya! Saat itu, manajer pun tidak mengajari dengan detail. Beliau hanya memberikan saya contoh SOP miliknya dan meminta saya mempelajarinya sendiri. Tidak ada arahan yang jelas sama sekali seperti bulan-bulan awal ketika saya bekerja.

Ya, sudah! Tanpa pikir panjang, saya pelajari saja. Toh selama 6 bulan ini saya juga belajar secara mandiri. Akhirnya, saya pelajari SOP yang diberikan dan mencoba membuat SOP klien yang kami tangani secara mandiri. Sulit juga awalnya karena saya belum terbiasa!

Saya membutuhkan waktu seharian untuk membuat 1 SOP saja. Lama sekali menurut saya, tapi apa boleh buat saya belum terbiasa.

Seiring berjalannya hari, saya semakin terbiasa dan bisa membuat SOP lebih cepat dan lebih terstruktur. Sulitnya membuat SOP adalah pola pikir kita harus bisa tersambung antara proses bisnis satu dan proses bisnis lainnya. SOP itu seperti rangkaian jalur. Ibarat Anda sedang membuat jalur rel kereta api, jalur tersebut harus tersambung satu dengan yang lain supaya dapat memindahkan kereta dari satu tempat ke tempat lain.

Urgens SOP dalam perusahaan

Gambar 6. Urgens SOP dalam perusahaan

Saat saya berhasil membuat SOP cukup baik, sangat disayangkan tidak ada pujian atau penghargaan apa pun dari manajer. Padahal, saya bisa mengerjakan lebih cepat tanpa pengarahan apa pun. Setidaknya, dia bisa memuji atau memberi penghargaan kepada saya.

Namun, hal tersebut tidak terucap dari bibirnya! Ya sudah, saya pikir memang manajer bukan orang yang suka memberikan pujian kepada timnya. Seiring berjalannya waktu, saya sudah berkutat dengan pekerjaan membangun sistem bisnis di dalam perusahaan. Saya terbang ke Sumatra, Jakarta, dan kota-kota lain untuk mengimplementasikan sistem bisnis di perusahaan klien.

Pada tahun pertama bekerja dengan manajer ini, saya cukup tertekan. Beliau tidak pernah memuji, tapi suka menyalahkan tim. Bahkan, beliau tidak suka kalau timnya bisa lebih pandai. Pernah saya sedang berdiskusi dengan beliau dan senior. Saya memberikan saran yang lebih baik dari manajer. Waktu itu, senior sudah mengatakan saran saya bagus dan bisa diimplementasikan. Namun, manajer tidak senang karena merasa pendapatnya dikalahkan.

“Bahwa Dedy selalu benar!” itu kalimat yang beliau ucapkan dengan sinis dan agak membentak!

Geli juga pikir saya waktu itu. Masak ada leader yang tidak suka mendapatkan pendapat atau ide baik dari timnya? Padahal waktu memimpin organisasi di kampus, saya mendorong tim untuk memberikan ide terbaik yang akan dieksekusi. Rasa kecewa dan amarah saya tahan saja. Saya berusaha berpikir positif. Maklum saya sudah terbiasa berpikir positif gara-gara membaca buku karangan David J. Schwartz, The Magic of Thinking Big. Saya mencoba berpikir mungkin ini memang karakter manajer.

Beberapa orang yang satu tim langsung dengan beliau, biasanya tidak lama bekerja lalu bertengkar. Ada juga yang nekat resign dari perusahaan karena tidak tahan dengan sikap beliau. Ya sudahlah, saya bertahan saja dan tetap berusaha menyeimbangkan dengan manajer. Toh nanti di kehidupan saya bisa saja bertemu dengan tipikal orang-orang seperti ini. Kalau saya mencoba untuk lari dari hal ini, saya yakin pada kemudian hari akan bertemu dengan orang serupa.

Sudah lewat 2 tahun, saya menjadi tim beliau dan manajer tetap saja tidak berubah.

Beliau suka menyalahkan dan tidak pernah memuji. Itu adalah 2 hal yang saya ingat dari beliau. Karena sering disalahkan, saya punya kalimat mujarab untuk pernyataan beliau, yaitu, lupa. Apabila saya ditanya dan tidak bisa menjawab, saya bilang saja lupa. Akhirnya, beliau menyerah untuk menyalahkan sebab kata lupa tidak bisa disalahkan menurut beliau hahaha.

Entah mengapa waktu itu saya kok bisa mencari posisi aman sementara dengan kata-kata lupa. Mungkin karena sering disalahkan dan ditekan oleh beliau, membuat saya mencari zona aman.

Pada tahun ketiga bekerja, saya menjadi pribadi yang lebih tidak semangat dan tidak berkembang. Pada tahun ketiga, saya malah diberikan tambahan proyek dan bekerja penuh dengan beliau. Berdasar cerita teman-teman kantor, rupanya pimpinan tidak bisa mendapatkan tim lain yang bisa bekerja sama dengan beliau. Pimpinan merasa saya adalah orang yang bisa cocok dengan manajer tersebut. Gawat, pikir saya! Bagaimana caranya saya bisa berkembang kalau mendapatkan leader dengan tipe seperti ini! Bahkan manajer ini tidak berusaha mendorong saya berkembang, malah sering kali berusaha menjatuhkan!

Tidakan nyaman saat bekerja dengan manager

Gambar 7. Tidakan nyaman saat bekerja dengan manager

Pada awal bekerja, saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang pengusaha. Bayangkan saya awalnya hanya bekerja sekeras mungkin dan ingin menjadi manajer keuangan di suatu perusahaan. Maklum waktu itu banyak senior lain yang resign dari kantor akuntan publik tempat bekerja untuk menjadi manajer keuangan di perusahaan lain. Jadi, pikiran menjadi seorang pengusaha sangat jauh dari bayangan saya.

Saya merasa menjadi seorang pengusaha sangatlah susah! Tidak mungkin saya menjadi seorang pengusaha, apalagi ditambah orang tua hanya membuka sebuah toko kecil.

Saya lihat perjuangan beliau untuk mempertahankan tokonya sangat sulit. Setiap hari harus buka toko, bahkan minggu pun harus buka toko. Belum lagi customer yang terkadang juga tidak membayar utang. Akhirnya, orang tua harus menanggung kerugian atas utang dari customer yang tidak terbayar tersebut. So fix, saya tidak sama sekali berniat menjadi pengusaha!

A. Bertemu Calon Pendamping Hidup yang Suportif

Dalam perjalanan di dunia pekerjaan, saya bertemu secara tidak sengaja dengan istri sekarang. Saya bertemu dengan dia di kolam renang hahaha. Aneh juga ya bertemunya di kolam renang. Awalnya dia adalah teman dari pacar teman baik saya. Kebetulan waktu itu teman baik saya janji dating dengan pacarnya. Teman mengajak saya dan pacar teman mengajak istri yang waktu itu masih belum menjadi istri, ya.

Setelah bertemu dan melihat wajahnya, entah mengapa saya langsung jatuh hati dengannya. Kami berkenalan dan dia menyebutkan namanya, Grace. Mungkin itu adalah kisah dari cinta pandangan pertama. Kami berbincang, bergurau, dan tentunya sambil berenang juga. Ketika ngobrol, saya juga merasakan bahwa dia sangat enak sekali dalam berkomunikasi. Dia juga sering tertawa ketika saya bercerita dan mengajaknya bercanda.

Entah mengapa saya senang sekali kalau perempuan yang saya ajak ngobrol dan bercanda mudah tertawa. Serasa saya bisa menyatu dengan obrolan tersebut dan merasa penting karena lawan bicara senang berkomunikasi. Ketika saya membaca salah satu buku disebutkan salah satu daya tarik wanita bukan hanya paras cantiknya, namun juga wanita tersebut menyenangkan dan mudah tertawa atas candaan dari lelakinya. Pantas saja waktu itu si Grace sering kali didekati oleh para cowok.

Bahkan temannya Grace mengatakan dia adalah idola lelaki di sekolahnya. Kebetulan waktu itu kami bertemu ketika saya sudah bekerja dan Grace masih dalam masa perkuliahan.

Setelah berbincang panjang, akhirnya kami memesan makanan di restoran yang ada di kolam renang tersebut. Grace memesan mie goreng jawa dan saya memesan nasi goreng jawa.

Kebetulan restoran tempat kami memesan makanan merupakan spesialis masakan jawa timuran. Sambil menunggu masakan, kami berbincang-bincang dan mengorek cerita masing-masing. Tak lama makanan yang kami pesan datang dan kami menikmati hidangan tersebut sambil terus bercerita dan bergurau. Tidak sampai 10 menit masakan datang, nasi goreng saya sudah habis. Maklum saya kalau makan, tidak mau berlama-lama. Karena didikan orang tua, kalau kami makan cepat, kerja juga cepat! Entah benar atau tidak pendapat tersebut, tapi saya memang sudah terbiasa makan dengan cepat dari usia dini.

Ternyata si Grace tidak sanggup menghabiskan makanannya. Porsi mie goreng jawa yang disajikan oleh restoran tersebut memang cukup besar dan dia kekenyangan. Grace memanggil pelayan dan meminta mie goreng jawanya dibungkus. Wow jarang sekali saya melihat perempuan seperti ini, biasanya kalau baru kenal dan makanannya tidak habis, sering ditinggal dan dibuang. Berbeda ini perempuan! Batin saya berkata seperti itu. Rasa suka semakin mendalam kepada Grace. Saya adalah tipe lelaki pemilih. Saya sering dekat dengan perempuan, tapi tidak banyak yang bisa saya ajak untuk mendalami hubungan lebih lanjut.

Akan tetapi, Grace berbeda dan saya ingin lebih mengenal dia.

Awal pertemuan dengan Grace

Gambar 8. Awal pertemuan dengan Grace

B. Stres dan Jenuh di Dunia Pekerjaan

Pada tahun keempat bekerja, saya mengalami kejenuhan. Saya melakukan pekerjaan yang sama terus-menerus. Ditambah lagi manajer, si Bu D yang sampai dengan tahun keempat bekerja, sikapnya tetap saja dan tidak berubah. Semakin lama, saya menilai kinerja diri sendiri semakin menurun karena motivasi menurun dalam bekerja. Pimpinan di manajemen puncak pun tidak ada iktikad untuk memberikan dukungan karena sibuk dengan urusan masing-masing. Pimpinan lebih membela manajer karena beliau lebih lama bekerja dibandingkan saya.

Pernah suatu hari saya memberanikan diri untuk tegas kepada Bu D. Saya mengatakan bahwa sikapnya sangat mengganggu dan merugikan saya sebagai seorang manusia. Alih-alih berubah, beliau malah tidak suka dengan saya dan akhirnya melakukan diskriminasi. Karena tidak tahan dengan sikapnya, saya minta kepada pimpinan untuk dikeluarkan dari tim Bu D.

Permintaan saya disetujui dan dipercaya pimpinan untuk membuat tim lain. Namun, bayang-bayang Bu D masih melekat dan membayangi karier saya waktu itu. Meskipun dipercaya mengembangkan tim berbeda, secara struktural Bu D masih berada di atas saya dan menjadi manajer secara struktural. Meskipun dalam pekerjaan di lapangan, dia tidak boleh ikut campur oleh pimpinan.

Menurut saya waktu itu aneh juga, mengapa kok ada struktur organisasi seperti itu?

Setelah saya telaah lebih lanjut, memang kondisi perusahaan belum tersistem membuat pimpinan melakukan hal tersebut. Pimpinan tetap menaruh Bu D sebagai atasan karena beliau tidak memiliki orang lain yang bisa mengatasi proyek sistem bisnis yang sedang saya jalankan. Saya masih ingat betul suatu kejadian diskriminasi. Saya mendapati penilaian kinerja yang tidak adil dikarenakan Ibu D menilai secara subjektif. Ditambah lagi sistem penilaian perusahaan yang kurang baik, membuat manajer sewenang-wenang dalam menilai bawahannya. Parahnya lagi bawahan atau tim tidak bisa menilai atasan atau manajernya.

Jadi, saya hanya pasrah saja mendapatkan penilaian tidak adil.

Saya dinilai soal kemampuan membangun sistem bisnis di perusahaan. Dalam penilaian tersebut diberikan range angka penilaian 1—5. Angka 1 adalah angka paling jelek dan 5 adalah angka paling bagus. Bu D memberi saya nilai 2! What?! Padahal, banyak manajer dari divisi lain belajar kepada saya mengenai membangun sistem bisnis! Akan tetapi, beliau hanya memberikan saya angka 2! Manajer-manajer lain yang juga melakukan penilaian, memberikan angka 4 hingga 5. Beruntung waktu, itu ada manajer lain yang membela saya saat penilaian. Manajer tersebut mengatakan, apabila Bu D memberikan penilaian untuk membangun sistem bisnis kepada saya angka 2, berarti Ibu D harus menilai manajer tersebut dengan angka 1. Karena memang manajer yang membela saya tadi, mempelajari kemampuan membangun sistem bisnis dari saya.

Penilaian KPI yang tidak adil dari manajer

Gambar 9. Penilaian KPI yang tidak adil dari manajer

Dengan terpaksa, Ibu D tersebut memberikan saya tambahan nilai yaitu angka 3.

Sangat menggelikan, bukan? Beliau tidak menilai potensi baik dari timnya sendiri, bahkan berusaha menjatuhkan dengan cara yang tidak fair. Saya masih ingat betul pada Maret 2011, saya sudah merasa sangat malas bekerja di Kantor Akuntan Publik tersebut. Enggan rasanya pergi ke kantor dan melihat Bu D di mejanya. Buku-buku positif yang sudah sempat saya baca, sama sekali tidak bisa memotivasi karena setiap hari harus berhubungan dan melihat beliau di kantor.

C. Memutuskan Resign Berkat Dorongan Pujaan Hati

Hubungan saya dengan Grace yang dulunya hanya sebatas teman, akhirnya kami resmikan menjadi pasangan. Dalam kesehariannya, Grace sering berkomunikasi dengan saya. Kami termasuk pasangan yang sering berkomunikasi dan bercerita pengalaman masing-masing.

Tentu awalnya memang tidaklah mudah mencocokkan diri dengan pasangan yang baru kenal pada usia dewasa. Ada beberapa hal yang membuat kami tidak sepaham dan kadang bertengkar. Namun, pertengkaran malah membuat kami lebih dekat dan kenal satu sama lain dan tentunya bisa membuat kami saling beradaptasi.

Saya ceritakan apa adanya kepada Grace permasalahan pekerjaan di kantor, termasuk masalah dengan Bu D. Setelah mendapatkan cerita soal proses penilaian kinerja yang tidak adil, saya merasa letih dan loyo. Saya sudah malas sekali melanjutkan pekerjaan. Terlintas di benak, apa saya perlu resign saja ya untuk mendapatkan pekerjaan baru? Namun nominal gaji yang sudah cukup besar, membuat saya maju-mundur untuk berani melangkah.

Pada Mei 2011, saya masih tetap mencurahkan unek-unek yang sama kepada Grace.

Bahwa saya tidak bisa berkembang di perusahaan, padahal saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya merasa “di kotak” dan tidak bisa berkembang lebih jauh lagi. Pada saat itu, pandangan pekerjaan pengganti belum terlihat. Jadi, saya juga enggan melangkah.

Grace berkata, “Keluar saja kalau memang kamu sudah merasa tidak bisa berkembang di sana. Tuhan pasti akan buka jalanmu kalau memang sudah waktu-Nya.” Berkat kalimat Grace, akhirnya saya memberanikan diri memberikan surat resign kepada pimpinan akhir Mei 2011. Proses resign tidaklah mudah karena waktu itu posisi saya sudah senior. Pimpinan mempertanyakan motif saya resign. Saya memberikan alasan ingin membantu usaha orang tua. Jujur saja waktu itu belum ada pandangan apa pun karena saya belum melamar ke perusahaan lain. Jadi alternatif untuk membantu usaha orang tua adalah alternatif yang saya pikirkan ketika memang belum mendapatkan pekerjaan pengganti.

Setelah proses cukup panjang, saya diperkenankan resign oleh pimpinan. Namun, saya harus menunggu 2 bulan untuk mempersiapkan pengganti dan mengajarkan apa yang sudah saya kerjakan. Saya menyanggupi saja karena memang sadar posisi saya waktu itu sudah senior consultant dan butuh waktu untuk mengajar pengganti.

D. Diberikan Berkat Berlimpah Kala Resign

Setelah mendapatkan persetujuan resign pada akhir Juli 2011, waktu saya mempersiapkan segala sesuatu untuk memudahkan pengganti saya dalam bekerja. Berbagai macam instruksi dan manual book saya buat untuk nantinya bisa dibaca oleh pengganti. Meskipun dalam pendelegasian tugas, saya akan tetap mengajarkan hal-hal penting kepada pengganti.

Saya terbiasa mempertanggungjawabkan apa pun. Oleh karena itu, saya berprinsip ketika saya masuk ke perusahaan baik-baik maka saya resign dari perusahaan pun harus sebaik mungkin. Ada beberapa orang yang ditunjuk untuk menggantikan tugas-tugas saya.

Saya mengajarkan mereka apa pun yang saya tahu dengan penuh semangat. Saya berikan manual book yang sudah saya buat untuk memudahkan pekerjaan mereka.

Dalam kehidupan saya, Sang Kuasa punya andil sangat besar hingga berada di posisi saat ini! Selang 2 minggu mengajukan resign, ternyata Sang Kuasa mempunyai rencana lain.

Awalnya saya hanya ingin mencoba peruntungan untuk melamar ke perusahaan lain, mungkin melamar menjadi finance accounting manager(FAM). Kalau tidak diterima, ya saya melamar menjadi accounting supervisor. Namun, Sang Kuasa memberikan suatu jalan yang tidak bisa saya duga. Saya malah diperkenalkan oleh teman kepada relasinya yang lain. Ada beberapa teman dekat memberikan referensi, bahkan teman yang hanya sekali bertemu sudah berani memberikan referensi.

Pada saat itu, saya dipertemukan dengan calon-calon klien awal. Saya diminta membantu memperbaiki bisnis mereka sebagai konsultan bisnis profesional. Tidak pernah saya duga, sebelum resign, saya sudah dikontrak oleh 5 perusahaan berbeda untuk membenahi sistem bisnis mereka. Salah satu kemampuan yang saya pelajari selama 4 tahun terakhir. Amazing! Bahkan, saya kaget sewaktu menghitung total honor yang saya dapatkan 3 kali lipat lebih besar dari total gaji di perusahaan. How come? Saya tidak pernah mencari klien, tidak pernah tahu cara mendapatkan klien, tidak pernah promosi, tapi seakan berkat dicurahkan kepada saya.

Pertolongan Tuhan awal memulai usaha

Gambar 10. Pertolongan Tuhan awal memulai usaha

Setelah proses dealing dengan 5 klien tersebut selesai, saya tidak langsung mengerjakan proyek yang mereka berikan. Kembali kepada prinsip hidup bahwa saya bekerja harus bertanggung jawab. Saya utarakan kepada mereka semua, bisa membantu setelah benar-benar resign dari perusahaan, yaitu tanggal 31 Juli 2011. Beruntungnya mereka semua mengerti dengan penjelasan saya dan tidak keberatan dengan perjanjian lisan yang saya utarakan waktu itu.

Setelah totally resign dari perusahaan, akhirnya saya mulai menjadi konsultan bisnis secara personal pada 1 Agustus 2011. Inilah cikal bakal dconsulting.id berdiri. Ada beberapa rekan yang mengira bahwa saya bisa menjadi konsultan bisnis karena mengambil klien dari perusahaan lama. Bersyukurlah saya karena waktu itu berprinsip tidak akan menggigit tangan dari orang yang memberikan makan. Dalam kata lain, saya tidak akan mengambil rezeki atau menikung perusahaan yang sudah memberi saya pekerjaan. Jadi, benar-benar klien awal saya dimulai dengan cara yang benar dan murni pemberian dari Sang Kuasa. Perjalanan sebagai pengusaha pun dimulai

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun datang! Saya totally resign dari perusahaan dengan segala pelimpahan tugas dan wewenang yang sudah saya lakukan dengan baik. Saya pamit baik-baik dengan seluruh staf, pimpinan, bahkan manajer yang pernah mengawal saya selama bekerja di kantor tersebut. Terasa haru ketika harus meninggalkan kantor tempat saya bekerja selama kurang lebih 4 tahun. Teringat banyak kisah suka dan duka di dalam kantor tersebut. Saya bisa seperti sekarang ini pun, tidak luput dari pengalaman ketika bekerja di kantor akuntan publik. Namun perjalanan hidup saya tetap harus diarungi. Saya tidak bisa stay di tempat yang sama untuk bisa menjadi pribadi lebih sukses! Saya harus berlayar ke tengah samudra untuk menjadi pelaut yang hebat! Begitulah kira-kira yang ada di benak saya.

Pada 1 Agustus 2011, saya memulai pengalaman menjadi seorang pengusaha. Hari itu adalah hari pertama dconsulting.id muncul di kancah dunia persilatan pengusaha. Dconsulting.id bisa menjadi total solusi untuk membantu para pengusaha yang bisnisnya sedang bermasalah. Langkah sudah ditetapkan untuk menjadi seorang pebisnis dan seorang konsultan keren! Hahaha….

Ternyata menjadi seorang pebisnis tidaklah semudah itu, kawan! Saya menjalani kehidupan menjadi seorang “pengusaha”, tapi apa pun saya lakukan seorang diri! Mulai dari melayani customer, mengerjakan hal teknis, penagihan, proses pembelian barang-barang kantor, promosi, dan branding. Semuanya saya lakukan seorang diri! Saking sibuknya, waktu 24 jam itu terasa kurang. Saya sampai harus merelakan waktu tidur. Tidak jarang saya harus tidur pukul 3.00 dini hari dan pukul 6.00 pagi saya sudah harus bangun lagi untuk mempersiapkan pertemuan atau kunjungan ke klien luar kota. Untungnya waktu itu umur masih muda, jadi rasa capek tidak terlalu terasa.

Kala menjalani kehidupan seperti itu, saya belum merasa ada yang salah dengan saya. Penghasilan oke, pekerjaan bisa di-delivery dengan baik, klien happy maka menurut saya everything it’s okay! Pada suatu waktu, klien minta meeting dijadwalkan bersamaan karena ada ketidakberesan di perusahaan mereka. Ada klien yang mulai komplain juga karena saya cukup lama ketika harus membalas pertanyaan atau telepon mereka.

Imbas kesibukan saya tersebut, ada klien yang memutuskan untuk off karena alasan yang tidak dia sebutkan! Wah ini pertanda tidak baik, kalau sampai ada klien yang off! Itulah yang ada di benak saya saat itu. Kalau klien sampai berhenti kontrak, apalagi dengan alasan yang tidak disebutkan jelas maka klien tersebut tidak suka dengan pelayanan saya. Saya me-review, apa yang salah dengan saya?

Ketika saya mencoba me-review mengenai pelayanan. Saya menemukan memang pelayanan yang saya berikan tidak bisa totalitas pada suatu waktu tertentu. Ketika waktu itu memang ada problem teknis yang cukup berat di klien lain. Akhirnya, waktu saya tercurah banyak untuk membantu klien tersebut hingga masalahnya selesai.

“Wah tidak bisa begini terus!” pikir saya waktu itu.

Saya harus mengubah pola kerja! Saat itu, saya bisa menangani 5 klien seorang diri, tapi bagaimana caranya perusahaan bisa besar kalau saya menangani seorang diri terus untuk hal teknis? Pada bulan ke-6 dconsulting.id berdiri, saya memutuskan mencari karyawan. Harus ada yang membantu kalau mau usaha besar! Mau tidak mau saya harus mencari tim. Saya didik tim untuk bisa membantu hal teknis di lapangan sehingga saya perlu melakukan hal lain, minimal pekerjaan lain tidak terbengkalai.

Entah mengapa waktu itu saya dengan percaya diri mencari karyawan. Padahal, saya melihat pengusaha-pengusaha muda lainnya masih enggan mencari karyawan karena kesulitan mengarahkan atau percaya dengan karyawan. Saya buka lowongan kerja seadanya. Saya hanya posting tulisan di media sosial dan mengirimkan pesan kepada relasi-relasi sedang melakukan perekrutan karyawan. Tentunya yang saya kirimi pesan bukan klien. Tak lama melakukan post atau mengirimkan pesan, ada orang yang melamar pekerjaan. Dia adalah teman dari relasi, namanya sebut saja Rudy (bukan nama sebenarnya). Ketika bertemu Rudy, saya hanya melakukan wawancara seadanya. Maklum belum ada pengalaman melakukan wawancara yang baik hehehe.

Saya coba tes secara lisan, menanyai beberapa pertanyaan, dan melakukan review atas curriculum vitae. Kelihatannya oke sih si Rudy ini, baik saya terima saja! Saya minta Rudy bekerja mulai besok dan dia menyanggupinya. Yeah! Akhirnya, punya karyawan! Rudy bekerja di dconsulting.id dan saya mulai mengajarkannya hal-hal teknis yang bisa dibantu. Ternyata keputusan saya untuk merekrut karyawan tepat! Saya cukup terbantu dengan adanya Rudy. Saya bisa mendelegasikan beberapa perkerjaan kepada Rudy dan punya waktu lebih untuk melakukan hal lain di perusahaan. Saya juga memiliki waktu melakukan hal strategis untuk perusahaan ke depan. Dari 1 orang karyawan saya merekrut hingga 3 orang karyawan. Tentu dengan bertambahnya karyawan, customer dconsulting.id semakin banyak. Saya mulai mendapatkan customer dengan skala lebih besar dengan masalah yang juga semakin kompleks. Saat itu, saya juga masih terlibat di dalam teknis untuk menangani problem klien dan tetap melakukan konsultasi. Sebagian klien yang sudah lancar, bisa saya delegasikan ke tim untuk melanjutkan proses dan pelayanan konsultasinya.

Foto bersama 3 karyawan awal dconsulting.id

Gambar 11. Foto bersama 3 karyawan awal dconsulting.id

A. Karyawan Mulai Berulah di Perusahaan

Ketika saya merasa perusahaan sudah “baik-baik” saja, di situ Sang Kuasa mulai menguji. Minimal itulah yang saya rasakan ketika menjadi pengusaha selama 12 tahun terakhir. Bukan menguji dalam maksud yang jelek, ya. Namun, lebih ke arah supaya saya bisa lebih maju lagi.

Pada tahun pertama menjadi pengusaha dengan 3 orang karyawan, saya merasa semuanya sudah baik. Saya merasa cukup dengan penghasilan yang saya miliki waktu itu. Ujian pertama datang, si Rudy berbuat ulah! Awalnya, saya tidak tahu dia melakukan fraud atau kecurangan di dconsulting.id. Rudy orang yang sangat ramah dan bisa mengambil hati saya saat itu. Segala pekerjaan yang saya berikan, terlihat selesai dengan baik. Jujur saya tidak bisa mengontrol seluruhnya pekerjaan dari karyawan. Beberapa saja saya sampling untuk cek dan sisanya percayakan kepada karyawan.

Controling system usaha saya waktu itu juga masih lemah. Kami sebagai konsultan sering visit ke klien. Namun, saya juga tidak bisa mengontrol apakah tim benar-benar datang ke klien atau tidak hingga salah satu klien waktu itu menelepon saya. Beliau menanyakan mengapa si Rudy sudah hampir 2 bulan ini tidak datang ke kantornya? Apakah ada sakit atau semacamnya?

Saya kaget sekali waktu itu! Setahu saya Rudy selalu info bahwa dia mengunjungi klien. Ia juga mengerjakan segala pekerjaan yang saya berikan dengan baik. Segera saja setelah menutup telepon dari klien tersebut, saya langsung menghubungi Rudy dan bertanya dia sedang di mana? Si Rudy menjawab dia sedang di klien yang lain. Baik, mungkin dia benar-benar berada di tempat klien lain. Saya minta Rudy untuk bertemu di kantor dconsulting.id besok paginya.

Keesokan harinya Rudy datang ke kantor dan saya tanya terkait komplain klien. Awalnya Rudy mengelak dan menyebutkan dia rutin datang ke klien tersebut. Namun, ketika saya infokan bahwa kemarin sudah mendapatkan telepon dari klien, akhirnya Rudy tidak bisa mengelak dan mengakui perbuatannya. Waktu yang cukup lama, hampir 2 bulan tidak mengunjungi klien. Ternyata dia bermalas-malasan di rumah. Memang secara keuangan tidak merugikan, namun secara nama baik dan profesionalitas ini merugikan! Ini kecurangan pertama yang saya temui di perusahaan.

Selama menjadi auditor dan konsultan, saya selalu berfokus bahwa kecurangan itu selalu berupa materi. Namun, ternyata tidak! Ada juga kecurangan berupa waktu dan pekerjaan seperti yang dilakukan oleh Rudy. Segera saja saja setelah Rudy mengakui perbuatannya, saya memintanya untuk resign dari perusahaan. Kala itu, saya belum tahu juga cara memberhentikan karyawan. Jadi, saya minta saja dia resign hehehe. Misalnya, Anda memiliki pengalaman serupa, jangan khawatir saya juga pernah melakukan kesalahan yang sama.

Ketika meminta Rudy resign, saya tidak pikir panjang. Saya memiliki prinsip, meskipun perusahaan membutuhkan karyawan, apabila karyawan melakukan kecurangan, saya harus tegas menindak supaya menjadi contoh karyawan lain. Maklum sudah terbiasa menjadi auditor, jadi sudah tahu step yang mesti dilakukan untuk setiap kecurangan yang ada.

Pekerjaan Rudy beralih kepada saya. Kemudian, secara perlahan pekerjaan dari Rudy, saya delegasikan juga kepada 2 karyawan lain sambil mencari karyawan baru. Kasus Rudy ini memberikan pengalaman berharga pada saya bahwa membangun sistem dan fungsi kontrol di perusahaan sangatlah penting. Rudy bisa melakukan kecurangan seperti itu karena tidak adanya fungsi kontrol di dalam perusahaan. Jujur sering saya temui di banyak perusahaan bahwa karyawannya melakukan kecurangan dikarenakan tidak adanya SOP (Standard Operational Procedure) dan fungsi kontrol yang jelas di perusahaan.

B. Melakukan Perbaikan Berkelanjutan Supaya Usaha Semakin Bertambuh

Setelah kasus Rudy selesai, saya mulai memikirkan sistem kontrol di dalam perusahaan dconsulting.id. Dulunya kami tidak memiliki SOP karena awalnya kami berpikir yang penting jalan dulu! Mungkin juga banyak pengusaha pemula melakukan hal yang sama. Mereka tidak ambil pusing dengan SOP dan fokusnya hanya pada omzet semata! Itulah juga yang awalnya saya lakukan. Namun, saya berkaca bahwa hal tersebut tidak baik dilakukan, terutama apabila ingin perusahaan bertumbuh. Saya memperbaiki secara perlahan, menutup celah kecurangan, membakukan proses-proses tertentu hingga membuat fungsi kontrol yang baik.

SOP dan fungsi kontrol yang baik harus dilakukan oleh 2 pihak berbeda serta tidak saling berkepentingan. Supaya Anda lebih bisa membayangkan apa yang saya lakukan di perusahaan, saya akan berikan contoh perbaikan untuk kasus Rudy. Dulu Rudy mengunjungi klien tidak ada laporan apa pun, hanya secara lisan kepada saya bahwa dia mengerjakan tugas klien. Saya pun tidak pernah mengontrol atau bertanya kepada klien terkait kinerja Rudy.

Perbaikan sistem di perusahaan saya adalah meminta karyawan melaporkan secara tertulis kunjungan ke klien. Laporan tertulis berisi tanggal kunjungan, nama klien yang dikunjungi, pekerjaan yang dilakukan, tanda tangan klien yang bersangkutan, dan stempel perusahaan. Tentunya saya harus konfirmasi awal terkait dengan bentuk tanda tangan dan stempel perusahaan klien. Dengan demikian, saya tidak bisa dimanipulasi lagi dengan tanda tangan atau stempel perusahaan palsu. Inilah salah satu perbaikan yang saya terapkan di dconsulting.id dari sekian banyak SOP atau perubahan baru saat itu.

Contoh daftar kunjungan ke klien

Gambar 12. Contoh daftar kunjungan ke klien

Tentunya perubahan atau SOP yang saya buat tidak bisa langsung sempurna. Saya buat dulu sesuai dengan keadaan. Saya melakukan perbaikan secara berkala dan melakukan update SOP secara periodik. Banyak orang beranggapan bahwa membuat SOP cukup sekali saja dan tidak perlu di-update. Menurut saya, anggapan tersebut kurang tepat! SOP yang ada di dalam perusahaan harus selalu di-update sesuai dengan kondisi perusahaan. Bayangkan, apabila Anda membuat SOP ketika karyawan Anda hanya 3 orang, lalu perusahaan semakin berkembang dan jumlah karyawan 100 orang, apakah Anda tetap bersikukuh menggunakan SOP yang sama? Tentunya, tidak bisa! Anda harus update SOP dan menyesuaikannya dengan kondisi perusahaan yang baru.

Setelah melakukan perbaikan SOP secara berkelanjutan, dconsulting.id semakin berkembang dari 3 karyawan menjadi 8 karyawan. Cukup happy! Saya melakukan benchmark dengan perusahaan konsultan lain yang seumur dengan perusahaan. Karyawannya pun belum sebanyak karyawan yang saya miliki. Kebetulan waktu itu saya kenal dengan beberapa konsultan, termasuk senior-senior dari kantor akuntan publik lama yang membuka kantor konsultan sendiri.

C. Menikah dengan Sang Pujaan Hati saat Membangun Perusahaan

Perjalanan dconsulting.id diwarnai dengan kisah asmara saya dengan Grace. Pada tahun 2011, dconsulting.id berdiri dan Grace yang mendorong saya untuk terus berkarya. Memang benar kata orang, “Di balik suksesnya seorang lelaki, selalu ada wanita bijak yang mendampinginya.” Itulah yang saya rasa dilakukan oleh Grace.

Memang hubungan kami tidak semulus jalan tol. Bukan berarti selama berpasangan, kami tidak pernah bertengkar. Kisah kami seperti halnya sinetron banyak drama pertengkaran dan percintaan. Saya ingat dulu pernah bertengkar hebat dengan Grace karena ketidaksesuaian pandangan dan saling memaksakan kehendak. Kedua orang tua pun sempat meragukan hubungan kami karena sama-sama keras. Namun itulah kisah percintaan kami.

Saya tidak pernah menolak mengakui bahwa awalnya memang sulit untuk mencocokkan kedua kepala yang memiliki pandangan hidup masing-masing. Namun seperti peribahasa, besi menajamkan besi, manusia menajamkan manusia. Itulah yang saya rasakan ketika menjalin kisah asmara dengan Grace. Lambat-laun, kami bisa saling mengerti dan saling mengasihi. Kami bertengkar karena ingin memaksakan yang terbaik untuk pasangan. Kami saling berekspektasi bahwa pasangan harus mengetahui yang baik versi masing-masing dan memaksa supaya berubah sesuai dengan yang kami harapkan.

Namun, Anda tahu bukan bahwa manusia tidak dapat diubah oleh orang lain? Manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas dan tidak bisa diubah oleh siapa pun, termasuk pasangan Anda, anak, atau orang-orang terdekat lainnya. Mereka hanya bisa berubah oleh dirinya dan pikirannya sendiri! Peran Anda dalam hal tersebut hanyalah mengingatkan dan membimbingnya tanpa berekspektasi apa pun. Minimal itulah yang saya alami dengan Grace. Kami akhirnya saling mengasihi dan mencoba untuk tidak saling berekpekstasi. Kami hanya saling membimbing dan saling mengingatkan saja.

Peran Grace di dalam hidup saya dan suksesnya dconsulting.id sangatlah besar. Di dconsulting.id awalnya memang dia tidak ikut terlibat, tapi memberikan dorongan dan semangat. Sering kali dia juga memberikan opini dan ide untuk perbaikan perusahaan. Saran yang cocok saya gunakan, namun yang kurang cocok saya tampung dulu. Maklum, dia belum berkecimpung di dalam perusahaan. Jadi, memang kadang sarannya belum relevan untuk dilakukan. Namun, saya melihat iktikad baiknya bersumbangsih pada usaha yang sedang saya perjuangkan untuk masa depan kami kelak. Seiring berjalannya waktu, saya merasa lebih mantap untuk melanjutkan ke jenjang lebih serius dengan Grace. Saya merasa langkah ke jenjang lebih serius adalah langkah saya menjadi seorang pria yang lebih bijaksana dengan mengarungi rumah tangga.

Foto resepsi pernikahan saya dan istri

Gambar 13. Foto resepsi pernikahan saya dan istri

Benar saja kata penelitian yang dilakukan oleh para konsultan bisnis dunia bahwa dari 100% perusahaan yang didirikan, hanya akan tersisa 4% pada tahun ke-10! Apabila Anda melihat ada 100 teman yang menjadi pengusaha saat ini, pada tahun ke-10 hanya akan tersisa 4 orang yang tetap menjadi pengusaha. Sisanya akan berpindah profesi atau melakukan hal lainnya.

Minimal itu yang saya rasakan.

Pada tahun ke-4 dconsulting.id berdiri, tidak mudah kami menghadapi berbagai macam problem di perusahaan. Meskipun sistem sudah dibangun, namun masalahnya bukan hanya pada sistem saja. Problem manusia menjadi salah satu masalah umum yang dihadapi oleh perusahaan. Masalah lain yang tidak kalah menguras pikiran adalah masalah mengatur keuangan. Meskipun saat itu kami berprofesi sebagai konsultan bisnis, sering membantu perusahaan customer, ternyata masalah tersebut juga terjadi pada kami.

Peribahasanya adalah dokter tidak dapat menyembuhkan dirinya sendiri hehehe….

A. Karyawan Resign Bersama-sama dan Menyabotase Perusahaan

Meskipun kami sudah memperlakukan karyawan perusahaan sebaik mungkin, ternyata hal tersebut tidak cukup membuat mereka menjadi karyawan yang baik. Ketika kami memiliki 8 orang karyawan, ternyata lebih sulit lagi kami untuk mengatur karyawannya. Ketika memiliki karyawan 3 orang, kami kira hubungan baik sangat berpengaruh pada kinerja. Kami sering ajak karyawan mengobrol, membangun hubungan secara personal, ajak makan bersama, dan sebagainya. Akan tetapi, semakin besar tim, semakin kami tidak memiliki waktu personal dengan mereka. Sebab, klien yang harus ditangani juga semakin banyak pula. Pada saat itulah muncul masalah baru! Ketika Sang Kuasa merasa belum waktunya Anda merasa berada di zona nyaman, Dia akan memberikan Anda tantangan baru.

Pada tahun ke-4, terjadi sabotase di dalam perusahaan. Ada karyawan yang merasa iri dengan karyawan lain. Ada yang merasa saya “menganakemaskan” karyawan lain. Ada juga yang merasa tidak puas dengan treatment bonus, reward perusahaan, dan tentunya masalah-masalah lain. Parahnya, mereka tidak serta-merta menyampaikan rasa tidak puasnya kepada saya. Mungkin mereka sungkan karena saya sudah bersikap baik kepada karyawan.

Alhasil “silent problem” membuat dilema baru di dalam perusahaan. Ada beberapa karyawan baik yang memutuskan resign karena adanya rasa tidak suka dari karyawan lain. Ada juga karyawan yang menghasut karyawan baru untuk pindah kerja bersamanya. Bahkan, ada yang mengatakan dconsulting.id tidak bisa memberikan reward yang pantas mereka dapatkan. Perlahan, tapi pasti karyawan saya resign. Dari 8 karyawan tersisa 3 karyawan saja pada tahun 2014.

Ada-ada saja problem di perusahaan! Sudah enak-enak punya 8 orang karyawan, tiba-tiba harus kembali lagi jadi 3 orang. Karyawan-karyawan awal yang saya didik pun harus meninggalkan saya. Tiga orang yang tersisa murni karyawan-karyawan baru. Bahkan, ada karyawan yang mengambil klien kami miliki dengan menawarkan harga kontrak lebih murah.

Jujur, saya stres berat! Istri pun sampai stres dan sering menangis karena cobaan berat yang kami terima. Waktu itu, serasa tidak ada jalan keluar buat kami.

Sempat terlintas pikiran, saya harus menutup dconsulting.id! Saya ingat pada saat karyawan terakhir resign, saya sedang berada di Kota Merauke. Saya hanya termenung di hotel dan duduk terdiam tanpa bisa berkata-kata. Memang karyawan yang terakhir resign sudah tidak bisa kami hubungi selama 7 hari terakhir. Dia lenyap tanpa kabar.

Saya hanya bisa mendengarkan istri menangis dalam telepon, “Bagaimana cara kita melayani klien-klien yang ada? Tenaga kita tidak cukup! Kita hanya punya 3 orang karyawan, sedangkan klien-klien yang lain tidak bisa tertangani dengan baik!”

Ujian pertama dconsulting.id

Gambar 14. Ujian pertama dconsulting.id

Memang ada beberapa klien yang diambil oleh karyawan yang resign, tapi masih banyak juga yang bertahan karena hubungan baik dengan saya. Namun, masalahnya tidak ada yang bisa menangani klien-klien bagian dari karyawan resign. Ketika memikirkan solusinya, tiba-tiba ada ilham yang memasuki pikiran. Ada sebuah tulisan yang saya ingat terlintas, “Setiap masalah, pasti ada pemecahannya!” Kalimat itulah yang membuat saya mencoba berpikir dari sisi positifnya!

Memang saat itu kami ditinggal oleh karyawan-karyawan dan sangat kecewa dengan mereka. Pada sisi lain yang masih bisa disyukuri, minimal kami tidak ditinggal oleh seluruh klien. Masih banyak klien yang percaya dan berharap kami bisa membantu perusahaan mereka. Saya mencoba memutar otak, bagaimana caranya menangani klien-klien tersebut?

Dalam setiap masalah, selalu ada peluang perbaikan! Minimal itu yang saya temui di perusahaan saya.

Saya akhirnya membuat perbaikan dalam sistem kinerja, membuat modul-modul pelatihan untuk mencetak konsultan dengan lebih cepat dan tetap berkualitas. Saya juga melibatkan Grace. Istri yang sebelumnya hanya membantu di manajemen, terlibat sebagai konsultan pula. Saya pun harus menerima tanggung jawab untuk menangani klien lebih banyak dan lebih efektif.

Alhasil langkah yang kami lakukan terbukti efektif! Tidak ada 1 klien pun yang komplain dan mereka tetap merasa tertangani dengan baik. Padahal waktu itu kami hanya memiliki 3 karyawan saja! Ternyata bisa juga ya! Saya tidak menyangka produktivitas karyawan bisa sangat meningkat dengan melihat poin-poin yang bisa diefektifkan dalam bekerja. Dulunya kami merasa kinerja karyawan “baik-baik” saja karena tidak berusaha melihat dari sudut pandang lain. Begitu mendapatkan cobaan dari Sang Kuasa, barulah kami mencoba berpikir kreatif dan mencari perbaikan yang bisa dilakukan.

B. Belajar dari Kesalahan dan Memperbaikinya

Masalah yang kami hadapi pada tahun ke-4 dconsulting.id berdiri berangsur-angsur mereda. Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, semua masalah pasti ada jalan keluarnya! Meskipun belum tentu saat itu jalan keluar yang terbaik, tapi minimal bisa meredakan “sakit” yang kami alami saat itu. Perlahan kami menemukan lagi karyawan yang bisa membantu menjalankan operasional perusahaan. Terkait kualitas dan pelayanan yang diberikan oleh karyawan baru, saya juga membuat manual book. Manual book bisa digunakan dalam memberikan training secara langsung kepada karyawan baru terkait hard skill dan soft skill yang wajib mereka miliki. Tujuannya, supaya proses konsultasi yang kami berikan kepada klien tetap bisa dilakukan secara maksimal.

Saya juga buatkan manual book dan catatan pembelajaran tentang langkah-langkah teknis yang harus dilakukan untuk mengatur sistem bisnis di perusahaan klien. Selain itu, manual book juga berisi cara mengimplementasikan sistem informasi akuntansi, cara mengatur manusia, memeriksa laporan keuangan yang benar, dan analisis laporan keuangan tersebut.

Segala cara saya lakukan demi usaha dconsulting.id tetap berjalan dengan baik. Karyawan yang ada pun saya dorong untuk segera menaikkan skill level. Mereka harus belajar lebih keras dan bekerja lebih cerdas. Untungnya, semua karyawan bisa mengerti posisi perusahaan dan mau membantu mengatasi masalah tersebut.

C. Bertemu dengan Mentor yang Suportif

Dalam kondisi yang tak terduga, saya bertemu salah satu orang yang membantu proses “pendewasaan” bisnis. Ketika mulai aktif mengikuti seminar-seminar kecil, saya bertemu dengan salah satu mentor, yaitu Pak Gendro Salim. Beliau adalah mentor pertama setelah saya menggeluti bisnis selama 4 tahun. Awalnya, saya bertemu beliau hanya biasa saja. Saya tidak pernah memiliki bayangan perlu mentor.

Saya mengira sudah tahu terkait bisnis dan keuangan. Hal itu yang terpikirkan karena sudah sering membantu pengusaha agar bisnisnya bertumbuh. Apa yang saya lakukan itu berhasil di klien-klien. Pak Gendro Salim mengatakan bahwa CEO besar pun masih membutuhkan mentor untuk bisa mengembangkan usaha atau dirinya. Barulah saya mencoba terbuka dengan hal itu.

Kebetulan sebelum bertemu beliau pada tahun 2014, saya suka sekali menonton salah satu film box office, Rocky Balboa. Karakter Rocky diperankan oleh Sylvester Stallone. Film tersebut bercerita tentang seorang petinju jalanan yang akhirnya berkiprah di kancah internasional sebagai petinju kelas dunia. Saya sangat menyukai film Rocky Balboa karena penuh makna dan inspirasi. Film-film lanjutannya pun saya masih tonton. Satu kesamaan dari film Rocky Balboa dan proses kebutuhan mentor dalam diri saya adalah seorang Rocky memiliki coach untuk membantunya berlatih.

Poster film Rocky Balboa

Gambar 16. Poster film Rocky Balboa

Rocky adalah seorang petinju yang luar biasa dan berlatih sangat keras. Dia memenangkan banyak sekali pertarungan, bahkan pertarungan yang tidak masuk akal pun dia menangkan. Di balik kesuksesan seorang Rocky, ada seorang coach yang sudah berusia lanjut. Namun, beliau yang membimbing Rocky menjadi petinju kelas dunia. Coach tersebut saya yakin dan percaya tidak bisa bertinju selayaknya Rocky bertinju di atas ring. Saya yakin ketika coach tersebut dengan Rocky pun, tidak sampai ronde berhadapan pertama berakhir, si coach pasti sudah dibuat KO oleh Rocky. Pertanyaannya, mengapa seorang Rocky bisa percaya dilatih oleh coach yang sudah tua tersebut?

Secara nalar saya ada beberapa pilihan yang bisa menjadi jawaban. Pertama, coach pasti memiliki keahlian dan cara yang baik dalam bertinju dan keahlian tersebut tidak dimiliki oleh seorang Rocky. Misalnya, Rocky sudah memilikinya, apa gunanya dilatih oleh orang yang sudah lanjut usia tersebut. Begitu kira-kira pandangan saya. Kedua, Rocky perlu mendapatkan masukan atau sudut pandang lain yang tidak bisa dia lihat ketika sedang bertarung di ring.

Begitu ada orang yang melihat dari sudut pandang lain, tentunya dia bisa melihat apa yang salah dari posisi atau gerakan Rocky. Coach bisa memberikan saran untuk memperbaiki langkah atau pukulan Rocky.

Pemikiran itu membuat saya sadar, sebagai pebisnis dan konsultan, tidak berarti saya selalu benar. Tentunya masih banyak hal-hal di luar sana yang mungkin belum saya pahami. Terlebih lagi, mungkin masih banyak langkah keliru ketika saya membangun bisnis. Kalau sudah benar, harusnya tidak ada kasus resign berjamaah pada tahun ke-4. Kondisi saya juga serupa dengan Rocky, saya menyadari kebutuhan adanya mentor yang membimbing. Akhirnya, saya meminta Pak Gendro untuk menjadi mentor pada tahun 2014.

D. Pentingnya Visi dan Misi dalam Pengembangan Usaha

Awal proses mentoring, Pak Gendro menyinggung terkait visi dan misi perusahaan. Beliau bertanya, apakah saya sudah memiliki visi dan misi perusahaan? Hmm visi dan misi? Pernah sih saya dengar di perusahaan-perusahaan besar rasanya selalu memiliki visi dan misi. Akan tetapi, apakah perusahaan yang baru seumur jagung dan karyawan sedikit, perlu memiliki visi dan misi? Dconsulting.id belum memikirkan visi dan misi. Ternyata hal serupa terjadi di banyak perusahaan UMKM yang baru berdiri. Tidak pernah terpikir, pentingnya membuat visi dan misi.

Dilema pentingnya visi-misi pada awal usaha

Gambar 17. Dilema pentingnya visi-misi pada awal usaha

Jujur saya agak geli ketika harus memiliki visi dan misi di dalam perusahaan. Pandangan saya seperti mengada-ada dan sok keren, padahal belum tentu visi dan misi tersebut bisa diwujudkan. Ternyata anggapan saya salah total! Mentor saya menjelaskan bahwa perusahaan membutuhkan pondasi supaya usaha bisa berkembang dan berkelanjutan. Pondasinya berupa visi dan misi perusahaan. Lha kok bisa? Ternyata tujuan utama adanya visi dan misi adalah memberikan arah kepada perusahaan dan karyawan terkait tujuan akhir perjalanan perusahaan. Saya coba detailkan terkait visi-misi ini.

Visi adalah tujuan jangka panjang atau akhir yang akan dicapai perusahaan. Hal ini akan membuat seluruh tim tahu, ke mana perusahaan akan melangkah. Tim dapat memutuskan ingin ikut atau tidak melangkah ke tujuan yang akan diraih oleh perusahaan. Adapun misi adalah langkah-langkah konkret yang diterapkan di setiap perjalanan untuk mencapai visi perusahaan tersebut. Dalam misi ini juga bisa diselipkan beberapa hal yang bisa memotivasi karyawan dalam bekerja bersama untuk mencapai visi tersebut.

Perusahaan ibarat sebuah bus yang mengangkut penumpang. Penumpang di dalam bus diibaratkan sebagai karyawan atau tim. Bus Anda akan melaju ke Borobudur. Borobudur ini dianalogikan sebagai visi perusahaan Anda. Jika bus Anda berangkat dari Kota Surabaya menuju Candi Borobudur, Anda akan melalui beberapa rute dan lokasi. Misalnya, Anda akan berkumpul di suatu titik penjemputan tertentu untuk seluruh karyawan. Dari titik penjemputan itu, Anda akan melalui rute tol Surabaya—Solo. Di dalam tol, Anda akan berhenti di tempat peristirahatan di Km 725. Anda akan mengizinkan karyawan untuk beristirahat sebentar, mungkin sambil minum kopi atau makan snack. Setelah 20 menit beristirahat, bus Anda melaju melewati Kota Solo dan mencari SPBU untuk mengisi BBM. Di Solo, bus Anda sekalian mampir ke Pasar Klewer dilanjutkan makan siang di salah satu restoran lokal. Setelah makan siang, bus melaju lagi berangkat ke Kota Yogyakarta.

Sampai di Kota Yogyakarta, Anda akan singgah dulu di hotel untuk beristirahat. Perjalanan ke Borobudur akan dilanjutkan esok harinya sebab malam hari adalah malam yang santai dan bahagia. Seluruh penumpang akan berkelana dulu ke Malioboro untuk menikmati indahnya Kota Yogyakarta sambil makan di angkringan. Esoknya, Anda siap berangkat ke Candi Borobudur pukul 8.00 pagi usai sarapan pagi. Anda dan seluruh penumpang sampai di Candi Borobudur beberapa waktu kemudian. Rute-rute inilah yang dinamakan misi.

Ilustrasi visi dan misi untuk berangkat ke Borobudur

Gambar 18. Ilustrasi visi dan misi untuk berangkat ke Borobudur

Tidak adanya visi-misi itulah yang membuat adanya masalah pada akhir 2013 sampai dengan awal 2014. Meskipun kami sudah bersikap baik kepada karyawan, tapi nyatanya hal tersebut tidak cukup membuat mereka mau berjuang bersama-sama. Kami selalu utarakan mimpi kami, tapi mungkin hal itu bukan bagian dari mimpi mereka. Akhirnya, mereka tidak mengerti apa yang ingin dicapai oleh perusahaan, apakah perusahaan mampu mengayomi mereka hingga akhir atau kekhawatiran lain di benak mereka. Itulah salah satu penyebab mereka bisa melakukan resign berjamaah.

Kami memulai proses pembuatan visi dan misi. Perlahan, kami membuat visi dan misi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Ternyata proses membuat visi dan misi yang benar tidaklah mudah. Jika hanya menuangkan mimpi ke dalam sebuah tulisan, tentunya Anda pun dapat melakukan dengan mudah. Sering terjadi, ketika kita hanya menuangkan mimpi-mimpi menjadi sebuah visi-misi, visi-misi tersebut hanyalah sebuah tulisan yang terkesan egois. Bahkan, mungkin hanya memikirkan kepentingan si pemilik saja. Ternyata membuat visi dan misi yang powerful ada caranya! Hal paling penting yang perlu diperhatikan adalah visi-misi tersebut bisa menginspirasi pembacanya dan membuat visi-misi tersebut bagian dari mimpi mereka.

Supaya Anda lebih memahami gambaran visi-misi yang menginspirasi, coba saya contohkan dari visi-misi dconsulting.id. Visi dconsulting.id terbaru adalah mencetak 1.000.000 pengusaha andal untuk bersama memajukan Indonesia. Sebagai informasi, ternyata menciptakan 1 visi ini butuh beberapa kali revisi selama beberapa tahun terakhir. Akhirnya, kami menemukan visi yang cocok dengan passion dan keyakinan hehehe.

Kandungan dalam visi dconsulting.id, kami ingin lebih berdampak untuk Indonesia. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, kami berharap dengan program-program yang telah dilakukan. Mulai dari program mentoring/consulting, program pelatihan, program membership bisa berdampak untuk mengembangkan negara menjadi lebih maju dan makmur. Minimal pengusaha-pengusaha yang sudah sempat belajar dengan kami, bisnis mereka bisa lebih berkembang dan maju. Dengan bisnis yang lebih maju, harapannya pengusaha-pengusaha tersebut juga bisa berdampak bagi karyawan serta lingkungan sekitar. Akhirnya, perusahaan menjadi saluran berkat bagi pihak-pihak yang terhubung. Dengan berdampaknya perusahaan bagi lingkungan sekitar, kami berharap bisa menjadi langkah kecil yang berdampak untuk Indonesia Visi ini yang kami bawa ke dalam kegiatan operasional dconsulting.id maupun kami ajarkan kepada klien. Benar saja, visi ini akhirnya memberikan inspirasi untuk karyawan.

Kebetulan mayoritas karyawan kami adalah karyawan milenial. Ternyata usia milenial saat ini memiliki rasa nasionalisme tinggi. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi dan visi yang kami miliki, karyawan memiliki keyakinan dengan bekerja di dconsulting.id, mereka punya kesempatan berdampak dan memajukan Indonesia.

Jujur dengan visi yang tepat ini saja akhirnya membuat karyawan lebih niat untuk bertahan dan berkarya bersama. Dampak baiknya, tentunya turnover karyawan juga ikut menurun. Jangan salah ya, tentunya perusahaan bukan hanya membutuhkan visi saja, ya. Masih ada hal-hal lain yang harus berjalan bersama dengan visi ini. Tentunya akan saya jelaskan pula pada bab berikutnya.

Oke visi dconsulting.id sudah saya bahas! Sekarang saya akan memberikan contoh membuat misi. Sebagai contoh misi, saya juga akan menggunakan misi dari dconsulting.id supaya Anda bisa lebih memahami kaitan visi-misi yang harus Anda buat di perusahaan. Berikut contoh misi dconsulting.id.

  1. Mentransformasi pengusaha Indonesia agar bisnisnya berkembang dan berdampak bagi bangsa.
  2. Mendidik tim yang profesional dan berakhak mulia.
  3. Melakukan kolaborasi berkelanjutan dengan para partner untuk kemajuan bersama dan meningkatkan kesejahteraan seluruh stakeholder.

Poin nomor 1 kami menjelaskan ingin membantu pengusaha indonesia agar bisnisnya berkembang dan berdampak. Tugas kami sebagai konsultan adalah memberikan langkah-langkah pengembangan secara kontinu dan memberikan check list hal yang perlu diperbaiki pengusaha. Jadi mereka tahu, apa saja sih yang masih kurang dalam bisnisnya dan cara memperbaikinya. Bagi Anda yang ingin tahu check list lengkapnya, bisa check di tautan berikut ini (https://www.dconsulting.id/bcutools-ytds).

Tentunya langkah-langkah untuk membantu para pengusaha Indonesia juga tecermin dalam time schedule dan kegiatan mentoring/consulting yang kami lakukan kepada klien. Jadi, kami serius menerapkan misi dalam keseharian operasional. Memang sebagai pengusaha yang bergelut di dunia konsultasi, fee adalah salah satu sumber pemasukan perusahaan.

Dalam misi pertama, kami ingin membantu transformasi pengusaha Indonesia agar bisnisnya berkembang dan berdampak bagi bangsa. Jadi program-program mentoring yang sudah kami buat selama 12 tahun terakhir dan sudah kami terapkan lebih dari 350 klien-klien. Mentoring kami terbukti berhasil dan membantu mengembangkan perusahaan-perusahaan klien.

Tidak sampai situ saja karena kami ingin berdampak lebih kepada perusahaan-perusahaan klien dan 80 juta UMKM yang ada di Indonesia. Kami juga menciptakan program pelatihan mandiri yang bisa digunakan oleh semua UMKM di Indonesia untuk melakukan pengembangan bisnis yang terarah secara mandiri. Pertimbangan kami tidak semua pengusaha memiliki dana untuk menyewa jasa konsultan. Mereka kadang masih baru merintis usahanya atau belum memiliki dana lebih untuk investasi jasa konsultan. Oleh karena itu, kami berinisiatif membuat pelatihan-pelatihan kepada UMKM-UMKM yang ada di Indonesia, mungkin salah satunya Anda. Harapannya UMKM dapat menerapkan secara mandiri langkah-langkah yang sudah kami lakukan dalam pengembangan usaha. Anda bisa coba cek pada tautan berikut ini (https://academy.dconsulting.id/).

Kami juga mengajar pengusaha yang bisnisnya sudah berkembang untuk lebih taat membayar pajak. Pajak yang dibayar oleh pengusaha digunakan untuk membangun negara.

Perlu kita ketahui bahwa dari APBN (Anggaran Pendapataan dan Belanja Negara), 70% lebih sumber pendapatannya didapatkan dari perpajakan. Bisa Anda bayangkan, berapa banyak orang yang rela membayar pajak secara resmi? Tentu saat ini jawabannya tidak banyak!

Kami selalu mengedukasi para pengusaha yang menjadi klien atau pengusaha yang mengikuti pelatihan jika usaha mau besar, tidak mungkin kita tidak akan tampak. Ibaratnya kalau kita sebagai “gajah”, tidak mungkin kita tidak kelihatan. Jika Anda ingin bisnisnya nyaman, aman, dan berkembang bisnisnya di Indonesia sebaiknya melaporkan pajak dengan legal.

Dalam edukasi mengenai pelaporan pajak yang legal, kami tetap menaruh unsur hemat di dalamnya. Kami membantu pengusaha untuk melakukan perencanaan pajak yang legal dan hemat. Meskipun, mereka melaporkan pajaknya secara riil, masih ada beberapa hal yang bisa dilakukan penghematan secara legal. Bahkan, kami siapkan juga para pengusaha tersebut pelatihan menggunakan e-course. E-course yang kami buat sederhana untuk memberikan pemahaman secara lengkap kepada pengusaha UMKM terkait perpajakan.

Berikut tautan pelatihan pajak yang kami siapkan untuk para pengusaha UMKM, termasuk Anda (https://www.dconsulting.id/mahirpajak).

Misi kedua dconsulting.id, kami ingin mendidik tim yang profesional dan berakhak mulia. Kami memberikan janji tertulis kepada seluruh karyawan ingin membuat mereka menjadi konsultan profesional dan berakhlak baik. Misi ini tidak hanya ditulis saja, namun juga harus diwujudkan. Kami sudah melakukan pelatihan intensif kepada seluruh klien. Mulai dari pelatihan secara langsung, baik dari trainer internal maupun trainer eksternal.

Kami sudah menyiapkan modul pelatihan yang sudah terstandardisasi sehingga begitu memiliki karyawan baru mereka bisa langsung mendapatkan pelatihan secara online. Mereka bisa belajar kapan pun. Tentunya, kami sudah menyiapkan batas waktu dan tes untuk menguji kemampuan mereka setelah mempelajari materi yang sudah kami persiapkan.

Tentunya tujuan misi kedua ini juga mendidik tim untuk memiliki akhlak yang baik. Pelatihan yang kami siapkan bukan hanya untuk pelatihan teknis saja, namun kami juga sudah mempersiapkan pelatihan untuk karakter, kemampuan komunikasi, kemampuan kepemimpinan, mindset, dan lain-lain. Jadi, kami mempersiapkan sematang mungkin untuk menerapkan misi. Akhirnya, kami membuat seluruh karyawan dconsulting.id memiliki keyakinan mereka berada di tempat yang tepat untuk bertumbuh.

Pada misi terakhir dconsulting.id, kami menuliskan terkait kolaborasi berkelanjutan dengan para partner untuk kemajuan bersama dan meningkatkan kesejahteraan untuk seluruh stakeholder. Poin yang kami tekankan adalah kami berusaha meningkatkan kesejahteraan bersama untuk seluruh stakeholder. Stakeholder yang kami maksud di sini adalah seluruh pihak berkepentingan dan berpengaruh dengan perusahaan, termasuk perusahaan klien dan karyawan perusahaan.

Kami juga memberikan janji tertulis kepada karyawan bahwa sebagai perusahaan tidak hanya ingin mereka bekerja. Akan tetapi, kami juga peduli dan berkeinginan membantu mereka mencapai kesuksesan. Poin inilah yang akhirnya membuat karyawan tahu bahwa perusahaan peduli dan mereka mau berjuang bersama-sama dengan perusahaan.

Namun, saya perlu klarifikasi dulu kepada Anda bahwa awalnya kami tidak langsung bisa membuat visi dan misi yang pas. Proses untuk mencari jati diri perusahaan melalui visi-misi yang sesuai membutuhkan waktu lama. Sebentar saya akan ceritakan proses dan rintangan yang saya hadapi.

E. Sulitnya Menanamkan Visi dan Misi Perusahaan

Setelah membuat visi dan misi, apa tugas berikutnya? Tugas berikutnya membuat seluruh karyawan paham dan mau bersama-sama menjalankannya! Ini hal yang sangat penting dan butuh waktu untuk bisa menerapkannya. Saya masih ingat betul pertama kali menyosialisasikan visi dan misi kepada karyawan. Mereka tidak langsung bisa menerima visi dan misi yang sudah saya buat. Mereka hanya mendengarkan sambil lalu. Bahkan, beberapa saling berpandangan tanpa berkata-kata dan tersenyum sedikit mengejek. Mungkin mereka berpikiran, apalagi hal aneh yang Pak Dedy lakukan? Visi dan misi ini buat apa?

Wajar kalau nantinya Anda juga mengalami hal yang sama karena belum pernah membuat visi dan misi seperti ini. Jika akhirnya karyawan bersifat skeptis dan serasa menolak perubahan yang dilakukan. Bahkan beberapa perusahaan lain yang tidak menerapkan visi dan misi dengan perlahan mengakibatkan beberapa karyawan lama memutuskan resign. Inilah yang juga perlu Anda pikirkan strateginya untuk merapkan visi dan misi yang cocok untuk perusahaan.

Sebagian besar orang cenderung enggan berubah sebab menjadi hal yang menyakitkan. Jadi perlu persiapan secara perlahan supaya mereka bisa menerimanya.

Namun, hal ini kembali kepada karakter kepemimpinan Anda. Kalau memang Anda rasa perlu secara langsung menerapkannya, go ahead saja! Kalau karakter Anda lebih calm dan persuasif, ada baiknya Anda melakukan penetrasi secara baik.

Setelah melakukan sosialisasi tersebut, saya segera menempel visi dan misi di dinding kantor dengan harapan karyawan lebih mengerti dan menerapkan. Ternyata harapan saya adalah harapan kosong. Tidak mudah memang membuat seluruh karyawan mengikuti visi dan misi yang baru. Lantas apa yang saya perbuat waktu itu? Bersama dengan mentor, kami merumuskan sesuatu yang bisa mendorong percepatan perubahan, membangun budaya kerja atau company culture.

Sosialisasi visi-misi kepada karyawan perusahaan

Gambar 19. Sosialisasi visi-misi kepada karyawan perusahaan

Jujur waktu itu saya juga tidak tahu, apa sih pentingnya membuat budaya kerja? Kan sudah ada visi dan misi, apalagi gunanya membuat budaya kerja perusahaan? Ternyata pandangan saya salah total setelah memahaminya. Penting sekali membuat dan menerapkan budaya kerja tersebut. Budaya kerja adalah poin-poin dari sebuah karakter manusia yang diharapkan ada di dalam diri karyawan sebuah perusahaan. Apabila Anda sedang mencari seorang karyawan, sifat karyawan seperti apa yang ingin Anda cari? Pasti jawabannya bisa beraneka karakter, bukan? Contoh, orangnya harus jujur, tanggung jawab, murah senyum, cekatan, disiplin, rapi, ramah, dan kriteria-kriteria lain.

Anda sebagai business owner perlu mendefinisikan dulu kriteria karyawan dalam perusahaan. Anda tidak boleh meniru kriteria yang diinginkan dari teman atau saudara. Keinginan setiap manusia akan berbeda. Bisa saja Anda membutuhkan orang yang sangat rapi, tapi perusahaan belum tentu membutuhkan karyawan rapi. Oleh karena itu, penting bagi Anda mencari waktu tenang untuk bisa memikirkan kriteria karyawan yang diinginkan.

Ketika Anda sudah menemukan kriteria karyawan yang diinginkan, definisikan beberapa kriteria tadi ke dalam suatu kata. Contoh, saya akan memberikan Anda kasus nyata budaya kerja dconsulting.id. Budaya kerja yang kami miliki adalah CHART. CHART merupakan singkatan dari Cepat, Hemat, Akurat, Rapi, dan Tumbuh. Budaya kerja inilah yang awalnya menjadi kriteria awal kami memilih karyawan.

Kami tidak akan memilih karyawan jauh dari culture yang sudah kami definisikan. Contoh, ketika wawancara kami menerima kandidat yang tidak rapi, baju compang-camping, rambut tidak disisir, dan bau badannya menyengat. Sudah pasti kriteria yang seperti ini tidak akan kami terima di dalam perusahaan. Jika kami bertemu dengan kandidat yang menjawab pertanyaan tidak konsisten dan menjawab hanya untuk memuaskan penanya, jelas kandidat seperti itu tidak akan kami terima.

Budaya kerja akan membuat suatu standar jelas bagi perusahaan dalam menentukan kriteria karyawan yang dibutuhkan. Tentunya ini juga akan membantu departemen HRD Anda untuk melakukan filter kandidat sesuai dengan kriteria. Sering saya temui di lapangan bahwa tim HRD kebingungan memilih karyawan. Begitu karyawan yang diwawancari lolos dari departemen HRD, namun tidak pernah lolos ketika bertemu dengan pimpinan perusahaan.

Anehnya, ketika pimpinan perusahaan ditanya mengapa kandidat tersebut tidak diloloskan? Jawabannya selalu feeling-nya tidak masuk hahaha. Feeling ini yang harus didetailkan menjadi budaya kerja.

Berdiskusi dengan HRD mencari kandidat karyawan terbaik

Gambar 20. Berdiskusi dengan HRD mencari kandidat karyawan terbaik

Ada kasus, business owner malah tidak pernah memiliki standar mencari karyawan. Karyawan yang diwawancarai hampir semuanya diloloskan, asal kriteria minimalnya sudah dicapai. Contoh, pelamar terlihat oke, rapi, jujur, dan bertanggung jawab. Intinya semua berdasarkan penampilan dan tidak ada standar baku untuk menilai hal tersebut. Hal tersebut malah membuat kualitas karyawan di dalam perusahaan menjadi kurang baik. Karyawan sering berkompetisi secara tidak sehat, tidak mudah diatur, dan tidak mengikuti aturan perusahaan. Bahkan, sering saya lihat karyawan melakukan kecurangan yang merugikan perusahaan. Oleh karena itu, budaya kerja awal ini yang bisa membuat standar baru perusahaan dalam mencari dan mengelola karyawannya.

Setelah kami mendefinisikan budaya kerja CHART di dalam dconsulting.id, tugas berikutnya adalah menerapkannya di dalam perusahaan. Tujuan utama penerapan budaya kerja tentunya untuk mempermudah terwujudnya visi dan misi perusahaan. Masalah utama waktu itu adalah karyawan-karyawan yang sudah ada ternyata tidak semua sesuai dengan karakter CHART. Tugas tambahan ini! Pikir saya waktu itu.

Setelah saya evaluasi, ternyata lebih dari 50% karyawan saya belum menerapkan dan memiliki karakter yang sesuai dengan budaya kerja dan hendak diimplementasikan. Pantas saja untuk mencapai visi dan misi yang sudah tertempel didinding, tidak mudah untuk dilakukan. Akhirnya ada 2 pilihan yang bisa saya lakukan waktu itu.

Pertama, saya berusaha menanamkan budaya kerja baru tersebut kepada karyawan yang sudah ada. Kedua, saya melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) karyawan yang tidak memiliki budaya kerja sama dan melakukan perekrutan karyawan baru. Dengan penuh pertimbangan, saya memutuskan untuk memilih langkah pertama. Menurut saya, itu langkah paling masuk akal yang saya lakukan.

Saya percaya bahwa setiap manusia bisa berubah selama pemimpin memiliki waktu untuk membina dan membimbing karyawan. Oke, langkah sudah ditetapkan dan show must go on! Hari berganti hari, ternyata ada beberapa tim yang mulai bisa menangkap visi-misi perusahaan dan mulai berjalan bersama. Bahkan, ada yang sudah mulai menangkap budaya kerja dan perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan budaya kerja baru. Meskipun tetap saja ada beberapa tim yang enggan berubah dan masih menerapkan cara lama.

Uniknya, ketika saya menerapkan visi-misi dan budaya kerja baru, karyawan mulai terfilter sendiri. Ada karyawan yang enggan berubah dan tetap mempertahankan prinsip mereka secara perlahan resign dengan kemauan sendiri. Karyawan yang mau maju bersama dan mau berubah sesuai dengan visi-misi dan budaya kerja, secara perlahan mengikuti arahan serta berubah menjadi lebih baik. Wow! Sebesar itu ternyata dampaknya membuat visi-misi dan budaya kerja.

Dalam pelaksanaannya, saya secara rutin melakukan sharing, briefing, meeting, dan mentoring kepada karyawan. Hal itu saya lakukan supaya bisa menyelaraskan pikiran dan mengerti pandangan mereka masing-masing. Seiring berjalannya waktu, akhirnya visi-misi dan budaya kerja tersebut mulai mengakar kepada karyawan serta perusahaan. Tentunya bukan dalam jangka waktu singkat untuk menerapkannya, kami memerlukan waktu dan kesabaran.

F. Pentingnya Briefing dalam Menyosialisasikan Value dan Culture Perusahaan

Budaya kerja perusahaan ini juga perlu dibuatkan suatu jingle. Kalau tidak dibuatkan jingle, minimal harus sering diucapkan dan disosialisasikan secara kontinu kepada karyawan. Tujuannya, karyawan bisa lebih mengilhami dan menjadikannya sebagai kebiasaan baru di dalam berkarya. Jujur, setelah membuat visi-misi dan culture, kami akhirnya melakukan briefing pagi.

Briefing pagi yang kami lakukan pun bervariasi. Contoh, kami melakukan briefing pagi dengan memulai dengan doa bersama, lalu loncat-loncat sambil berteriak pada hari Senin. Tujuannya, membangun semangat pagi seluruh tim. Setelah itu, kami berbagi hal positif. Berbagi ini dilakukan oleh seluruh tim yang ada di kantor, baik secara online atau offline. Kebetulan kami memiliki 2 kantor, yaitu di Jakarta dan Surabaya. Setelah semua selesai berbagi, kami tutup dengan toast bersama dan meneriakkan yel-yel perusahaan.

Hari Selasa—Jumat, kami briefing dengan cara berbeda. Kami tetap berdoa bersama, lalu loncat-loncat semangat. Setelah itu, kami mengambil kertas undian berisi kata-kata positif yang harus diucapkan pada hari itu. Misalnya, saya mendapat kata-kata ramah maka seluruh tim akan menyuarakan seperti ini, “Hari ini saya ingin menjadi pribadi yang lebih ramah.” Kalimat tersebut diucapkan dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Setelah itu, karyawan baru memulai kegiatannya. Hari Sabtu, kami juga memiliki cara briefing berbeda.

Pada hari Sabtu, kami belajar. Tim HRD sudah siap memberikan materi, baik dari eksternal trainer, internal trainer, ataupun training yang dilakukan oleh tim HRD sendiri. Setelah melakukan doa bersama dan loncatan semangat pada Sabtu pagi, lalu kami akan membaca visi-misi dan budaya kerja perusahaan. Pertanyaannya, mengapa pembacaan visi-misi dan budaya kerja hanya dilakukan seminggu sekali, yaitu pada hari Sabtu? Karyawan dconsulting.id sering melakukan kunjungan dinas ke klien dan mereka sering kali keliling Indonesia. Kebetulan dconsulting.id sudah menangani lebih dari 350 perusahaan di seluruh Indonesia. Jadi kami hanya bisa berkumpul bersama pada hari Sabtu. Hari itu, kami gunakan untuk membangun engagement dengan karyawan. Setelah membaca visi-misi dan budaya kerja, barulah kami melakukan training dan diakhiri dengan toast bersama.

Pada hari Sabtu, sering kali tim HRD dari dconsulting.id melakukan training kepada seluruh karyawan. Training yang dilakukan bisa jadi dilakukan secara internal, maupun secara eksternal. Pertanyaannya, apa sih gunanya training untuk karyawan? Bahkan, banyak perusahaan yang enggan mengeluarkan budget untuk melakukan training karyawan.

Ternyata, mereka tidak merasakan penting untuk mengeluarkan budget pelatihan tersebut. Bahkan, mereka kadang enggan melakukan training karena takut karyawannya pandai, lalu menjadi saingan bisnisnya, atau mendapat tawaran pekerjaan lain dari kompetitor. Apakah pandangan tersebut salah? Iya, memang sering terjadi juga. Setelah karyawan yang menjalani training menjadi pandai, mereka bisa membuka bisnis sendiri atau bekerja di tempat kompetitor. Namun, perlu kami tanyakan kembali kepada diri sendiri adalah apa yang terjadi jika karyawan tersebut tidak menjalani training dan masih bekerja di perusahaan?

Tentunya Anda akan mendapati karyawan yang sedang berjuang belum tentu memiliki kapabilitas yang sesuai dengan laju pertumbuhan usaha. Bisa jadi mereka yang tidak pernah Anda training, malah laju pertumbuhan usaha Anda akan menjadi terhambat.

Kegiatan briefing dan training yang dilakukan dconsulting.id

Gambar 21. Kegiatan briefing dan training yang dilakukan dconsulting.id Sumber: dconsulting.id

Lantas apakah solusinya harus melakukan PHK dan mencari karyawan baru yang lebih sesuai? Tidak semudah itu, bukan? Tentunya melakukan PHK kepada karyawan yang sudah mengabdi kepada Anda, bukanlah langkah yang tepat. Pada satu sisi adalah alasan kemanusiaan. Namun, tentu tidak mudah Anda menemukan karyawan baru dan fit dengan perusahaan. Belum lagi harus paham dan menjiwai visi-misi dan budaya kerja. Hal ini tentu terkait dengan memahami teknis kerja dan kebiasaan kerja yang ada di perusahaan Anda.

Ketika melakukan perekrutan untuk posisi supervisor atau manajer, saya sering menemukan bahwa manajer atau supervisor yang ada memang memiliki keahlian untuk menempati posisinya. Namun, berkaitan dengan budaya kerja perusahaan, mereka sering kali tidak bisa move on dari kebiasaan lama di perusahaan sebelumnya.

Dalam melakukan training secara internal kepada karyawan, saya sering juga menjadi pembicara atau trainer. Saya selalu meminta tim HRD untuk menyisipkan slot kosong beberapa bulan sekali agar saya bisa menjadi trainer internal. Ketika menjadi trainer, saya memberikan materi atau insight positif yang mereka perlukan. Mengapa saya melakukan hal tersebut? Bahkan di perusahaan lain, jarang sekali pemiliknya menjadi pemateri dalam pelatihan yang diberikan kepada karyawan.

Mungkin ini bisa menjadi insight Anda juga untuk bisa terlibat di dalam pelatihan tim. Hal yang saya pikirkan adalah karyawan atau tim, saya anggap sebagai “anak” sendiri. Anak yang saya didik di dalam perusahaan. Bagaimana saya bisa mempercayakan sepenuhnya pendidikan anak saya kepada orang lain? Padahal belum tentu orang yang melakukan training kepada karyawan saya tersebut adalah orang yang memiliki value sama dengan saya atau dconsulting.id. Daripada value yang sudah kita siapkan tidak tersampaikan dengan mendalam kepada seluruh tim, ada baiknya saya mengambil peran sebagai orang tua yang siap mendidik anaknya. Saya juga mendorong mereka untuk maju dan berkembang sesuai dengan budaya kerja kami.

Ketika saya melakukan training internal di perusahaan dconsulting.id

Gambar 22. Ketika saya melakukan training internal di perusahaan dconsulting.id Sumber: dconsulting.id

G. 7 Level Kepemimpinan Penting dalam Bisnis

Ketika melakukan training kepada karyawan, saya tidak hanya memberikan knowledge saja. Hal yang lebih penting adalah menyelipkan value yang ingin saya bangun untuk karyawan. Value yang dimaksud adalah value budaya kerja yang sudah ditetapkan di perusahaan ataupun value kehidupan yang perlu dibangun di dalam diri mereka.

Saya sering mengajarkan karyawan dconsulting.id bahwa setiap diri adalah seorang pemimpin. Oleh karena itu, penting sekali kita belajar untuk menjadi pemimpin yang baik. Minimal pemimpin untuk diri sendiri, pemimpin keluarga, atau calon keluarga. Jujur saja untuk belajar menjadi pemimpin, saya kira jauh lebih susah dari belajar membuat laporan keuangan. Kita hanya harus tahu logika berpikir dan teliti saja untuk membuat laporan keuangan atau laporan pajak. Transaksi mana yang akan ditempatkan di jurnal debet dan kredit. Kemudian, kita tinggal merangkumnya dan membuat sebuah laporan keuangan.

Namun beda sekali ketika kita harus belajar memimpin! Memimpin adalah sebuah seni. Kita tidak bisa menggunakan ilmu pasti, seperti saat membuat laporan keuangan. Ketika kita memimpin sekelompok orang, sering kali tidak bisa menggunakan cara memimpin sama ketika memimpin kelompok orang yang beda. Saya juga yakin bahwa kepemimpinan adalah salah satu masalah yang Anda hadapi sekarang. Benar, bukan? Hehehe.

Cukup sulit memahami atau mempelajari kepemimpinan hanya berdasar teori saja. Oleh karena itu, saya coba memberikan pemahaman kepada seluruh karyawan dengan menggunakan analogi dari 7 level kepemimpinan yang sempat ditulis di buku oleh Pak Paulus Bambang WS (salah satu mantan direktur Perusahaan ASTRA). Beliau adalah salah satu figur pemimpin luar biasa yang saya kagumi. Beliau banyak terlibat dalam membangun bisnis ASTRA Group hingga berkembang luar biasa. Meskipun beliau sudah sangat sibuk dan memiliki penghasilan dengan nominal sangat besar, tapi beliau tetap meluangkan waktu melakukan kegiatan sosial. Beliau banyak terlibat mengajar pengusaha-pengusaha UMKM untuk mengembangkan bisnisnya dengan jalan benar, melalui Komunitas Kingdom Business Community (KBC).

Saya akan jelaskan kepada Anda, 7 level kepemimpinan ini menjadi sangat mudah diterapkan di dalam perusahaan saya. Sebelum itu saya coba tuliskan detail satu per satu mulai dari level terendah, 7 level kepemimpinan ini.

  1. Pemimpin Tipikal Penjajah
  2. Pemimpin Tipikal Pemungut Cukai
  3. Pemimpin Tipikal Pengawas
  4. Pemimipin Tipikal Petani
  5. Pemimpin Tipikal Pelayan
  6. Pemimpin Tipikal Penggembala
  7. Pemimpin Tipikal Parents (Orang Tua)

1. Pemimpin Tipikal Penjajah

Namanya saja sudah penjajah! Pasti Anda bisa langsung membayangkan tipe seperti apa pemimpin di level ini. Sudah jelas bahwa kata penjajah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah orang yang terlalu menguasai (menindas dan sebagainya) orang lain (bawahan dan sebagainya). Dari arti kata ini, bisa Anda bayangkan tipikal pemimpin penjajah. Sudah pasti tipikal pemimpin ini lebih suka memberikan perintah daripada mengerjakan sendiri.

Pemimpin tipe ini pun sering memberikan target yang tidak masuk akal, melebihi kapasitas timnya. Akhirnya, timnya malah stres dan kelelahan.

Ketika memberikan tugas berat dan dapat diselesaikan tim, belum tentu pemimpin dengan tipikal ini akan menghargai timnya. Mengucapkan terima kasih saja belum tentu dilakukan, apalagi memberikan reward kepada tim. Hal tersebut tidak akan pernah dilakukan oleh pemimpin dengan karakter penjajah. Bayangkan kalau ada tipikal pemimpin seperti ini di perusahaan Anda? Kira-kira apa yang akan terjadi dengan karyawan-karyawan Anda yang lain? Sudah tahu ya jawabannya? Sudah pasti karyawan lain tidak akan betah dan kemungkinan besar tingkat turnover karyawan di dalam perusahaan akan sangat tinggi.

Pemimpin Tipikal Penjajah

Gambar 23. Pemimpin Tipikal Penjajah

Bersyukurnya selama lebih dari 12 tahun saya berkecimpung di dunia bisnis, jarang saya menemukan tipikal pemimpin seperti ini di perusahaan Indonesia. Mungkin juga karena orang Indonesia terkenal dengan sifatnya yang ramah dan sering bertoleransi dengan sesama. Jadi jarang ada tipikal pemimpin seperti ini di perusahaan. Anda pun pasti tidak ingin mendapatkan pemimpin dengan tipikal penjajah di dalam usaha Anda, bukan?

2. Pemimpin Tipikal Pemungut Cukai

Kata-kata pemungut cukai mungkin tidak umum diucapkan di kalangan umum. Arti kata di Wikipedia, kata pemungut cukai adalah istilah yang digunakan untuk orang yang bertugas memungut pajak dari masyarakat Yahudi, kemudian diserahkan kepada pemerintah Romawi.

Jangan Anda bayangkan petugas pajak waktu zaman Romawi itu sama dengan petugas pajaknya Indonesia ya hehehe. Kalau Anda lihat sekarang, petugas pajak di Indonesia bersikap sopan dan ramah. Mereka memeriksa laporan pajak dengan meminta terlebih dulu data-data keuangan perusahaan Anda. Setelah menerima data, barulah mereka melakukan pemeriksaan. Apabila ditemukan kesalahan, mereka akan memanggil Anda ke kantor pajak dan berdiskusi dengan sopan hingga ada kesepakatan angka yang harus dibayar.

Pada zaman Romawi, tentunya tidak ada pembukuan serapi sekarang, tidak ada program akuntansi. Oleh karena itu, tentunya banyak pengusaha zaman itu yang tidak melaporkan pajaknya dengan baik. Seorang pemungut cukai sering mendatangi pengusaha-pengusaha dengan bantuan tentara. Mereka akan meminta pembayaran cukai/pajak dari pengusaha. Tentunya seorang pengusaha juga tidak mudah untuk diminta membayar pajak.

Ketika pengusaha tidak mau bekerja sama membayar pajak sesuai dengan harapan raja maka tugas pemungut cukai adalah memaksa mereka membayar pajak. Sering kali ketika ucapan tidak diindahkan, tindak kekerasanlah yang dilakukan.

Pemimpin Tipikal Pemungut Cukai

Gambar 24. Pemimpin Tipikal Pemungut Cukai

Meskipun tipikal pemimpin ini sedikit lebih baik daripada tipikal pemimpin penjajah, tetap saja tipikal pemimpin ini masih sangat memikirkan dirinya sendiri. Ketika mereka memimpin, sebagian kecil tetap akan memikirkan timnya. Akan tetapi, mayoritas dari mereka memikirkan diri sendiri. Bagaimana mereka bisa “tampil” baik di hadapan atasan dan menggunakan tenaga dari bawahannya tanpa banyak memberikan kredit.

Tipikal pemimpin ini pun tidak akan pernah memotivasi timnya. Sering kali dia menganggap timnya sebagai alat untuk mengerjakan hal-hal yang perlu dilakukan supaya dia tampak baik di hadapan atasannya. Ketika Anda memiliki tipikal pemimpin ini, Anda akan kesulitan untuk mengembangkan potensi karyawan. Bahkan kemungkinan besar karyawan Anda tidak akan merasa betah dan sering mengajukan pengunduran diri.

3. Pemimpin Tipikal Pengawas

Oke, sekarang kita masuk ke karakter pemimpin level 3, yaitu pemimpin dengan tipikal pengawas. Kata-kata pengawas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya orang yang mengawasi. Kalau saya mencoba mendeskripsikan dengan contoh lebih sederhana, tipikal pengawas ini seperti tugas dari seorang mandor. Tentunya Anda pasti tahu profesi mandor, ya? Kalau Anda pernah membangun kantor atau membangun rumah, pasti Anda bisa melihat apa saja yang dilakukan oleh seorang mandor. Setiap kali saya membangun atau merenovasi bangunan, sering saya melihat tugas seorang mandor hanya mengawasi saja. Benar-benar mengawasi tanpa melakukan hal lain hehehe.

Biasanya seorang mandor ketika sampai di tempat kerja akan membagi tugas kepada tim, mengecek pekerjaan tim, dan mengoordinasikan apa yang harus diselesaikan hari ini. Akan tetapi, sering seorang mandor tidak mau terlibat dalam membantu timnya mengerjakan sesuatu. Bahkan, sering saya melihat timnya mengalami kesulitan untuk mengerjakan tugas. Seorang mandor hanya memarahinya saja, tanpa memberikan solusi yang tepat.

Ketika selesai tugasnya untuk membangun atau merenovasi bangunan, tentunya mandor yang akan melaporkan kepada pemilik proyek. Dia juga yang akan mendapatkan segala pujian atas keberhasilan membangun proyek tersebut. Tentunya secara penghasilan, mandor mendapatkan bagian terbesar dibandingkan tukang atau tim lain. Tentunya analogi saya ini tidak berlaku untuk semuanya, ya! Tetap ada saja mandor yang baik sekaligus pemimpin yang baik.

Pemimpin Tipikal Pengawas

Gambar 25. Pemimpin Tipikal Pengawas

Memang kepemimpinan tipikal pengawas ini masih lebih baik dibandingkan dengan 2 tipikal kepemimpinan sebelumnya. Tipikal kepemimpinan penjajah dan pemungut cukai, jauh lebih memperhatikan dirinya sendiri. Berbeda dengan tipikal pengawas yang lebih memperhatikan tim, meskipun sebagian besar hal yang baik tentunya akan diutamakan untuk dirinya sendiri. Kalau saya perhatikan di perusahaan-perusahaan klien, ada sebagian besar pemimpin mereka memiliki karakter seperti ini. Memang karakter ini tidak akan langsung membuat tim atau karyawan resign dari perusahaan, tapi mereka tidak akan juga membuat karyawannya berkembang. Inilah salah satu alasan mereka tidak ingin diungguli oleh bawahannya.

Coba Anda pikirkan jika punya tipikal pemimpin seperti ini di perusahaan? Apa coba yang akan terjadi di perusahaan Anda? Sudah pasti tim Anda akan kesulitan untuk mengembangkan diri dan berada pada kapabilitas seperti itu-itu saja. Sudah sempat saya tulis di poin sebelumnya jika perusahaan mau berkembang, Anda juga harus meningkatkan kapabilitas tim. Tidak mungkin Anda bisa mengerjakan hal teknis di dalam perusahaan seorang diri.

Anda harus mempercayakan sebagian besar pekerjaan di lapangan kepada karyawan atau tim. Ketika tim Anda lebih pandai dan memiliki kapabilitas, hal itu akan mendorong percepatan untuk kemajuan usaha Anda. Tentunya diimbangi dengan teknik pengarahan tim yang benar ya. Pertanyaannya bagaimana cara melakukan pengarahannya? Sabar, nanti saya akan bahas di poin-poin selanjutnya ya.

4. Pemimpin Tipikal Petani

Kita sekarang masuk kepada karakter kepemimpinan level 4, yaitu karakter petani. Tipikal petani ini adalah karakter pemimpin yang sering dimiliki oleh sebagian besar pengusaha-pengusaha di Indonesia. Karakter ini dianalogikan benar seperti petani. Coba Anda bayangkan apa saja yang dilakukan oleh seorang petani dalam kesehariannya? Seorang petani melakukan berbagai macam hal untuk memastikan sawah atau ladangnya bisa produktif. Contohnya, menanam benih, menyirami tanamannya, memberi pupuk dan vitamin supaya tanamannya sehat, dan lain-lain. Tujuannya, benih tersebut tumbuh menjadi tanaman yang sehat dan siap dipanen.

Dalam masa tanam dan segala prosesnya, tujuan petani adalah memanen tanaman. Dia melakukan segala hal yang baik untuk tanamannya dengan harapan bahwa tanamannya bisa berbuah dan menghasilkan hal baik untuk dirinya. Ketika terjadi wabah atau bencana yang membuat tanamannya tidak bisa dipanen, petani akan merasa kecewa dan merugi karena tanamannya tidak menghasilkan.

Ketika memasuki masa panen, petani dengan senang hati melakukan panen. Inilah yang mencerminkan proses kepemimpinan saat ini dari seorang pemimpin dengan tipikal petani. Tipikal pemimpin di levei ini akan berusaha mengajar, mengarahkan, dan memberikan yang terbaik buat timnya. Akan tetapi, hal tersebut tidak dilakukannya dengan tulus dan ikhlas. Tentunya mereka berharap setelah timnya pandai, mereka akan berusaha yang terbaik untuk sang pemimpin atau perusahaan.

Pertanyaannya, apakah pandangan tersebut salah? Menurut pandangan saya, ya memang tidak salah, sah-sah saja kalau setiap pemimpin punya pandangan seperti itu. Namun, apa yang terjadi jika tim atau karyawan tidak seperti harapan? Bagaimana kalau ternyata tim tersebut gagal “panen”? Pastinya, pemimpin di level ini akan merasa kecewa atau sakit hati.

Pemimpin tipikal petani

Gambar 26. Pemimpin tipikal petani

Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh pemimpin tipikal petani karena sebagian orang bisa seperti kacang lupa dengan kulitnya. Mereka tidak lagi ingat siapa orang yang selalu menolong, berusaha mengembangkan, dan mendorong maju. Ketika tim tersebut menjadi pandai dan mendapatkan keberhasilan, mereka akan melupakan pemimpinnya dan pindah ke perusahaan lain. Jika mereka memiliki ekspektasi nanti akan menuai hal baik setelah menabur tentu akan kecewa.

Saya pernah merasakan hal itu ketika tim saya keluar berjamaah. Mungkin Anda yang sedang membaca tulisan ini juga sedang merasakan hal yang sama? Tenang, berarti Anda tidak sendirian! Banyak orang-orang seperti Anda yang sering merasa dikecewakan oleh tim atau karyawannya. Oleh karena itu, dalam 7 level kepemimpinan, kita harus berusaha naik level lagi. Supaya rasa sakit hati ataupun kekecewaan tersebut dapat berkurang dan hilang.

5. Pemimpin Tipikal Pelayan

Masuk lagi ke level kepemimpinan lebih tinggi, yaitu kepemimpinan dengan tipikal pelayan. Kemimpinan di level 5 ini, sudah masuk kepada tipikal pemimpin yang lebih mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri. Coba Anda pikirkan apa makna kata pelayan dalam benak Anda? Dalam Wikipedia, kata pelayan adalah orang yang bekerja di restoran, bar, maupun kafe untuk melayani pengunjung yang datang. Pelayan mencatat pesanan pengunjung, kemudian membawa makanan atau minuman ke meja pemesanan. Seorang pelayan yang baik dapat membantu pengunjung dengan merekomendasikan menu terbaik.

Seorang pelayan akan bertugas melayani orang lain sebaik mungkin, terutama pengunjung yang datang ke tempat mereka. Mereka berusaha memberikan pelayanan terbaik supaya pelanggan puas. Sesekali tamu tersebut akan memberikan tip kepada pelayan apabila mereka merasa puas. Namun, apakah semua tamu akan memberikan tip? Tentu saja jawabannya, tidak. Hanya sebagian kecil yang akan memberikan tip. Pertanyaannya, apakah pelayan tersebut memberikan pelayanan yang kurang untuk orang yang tidak memberikan tip dan hanya memberikan pelayanan terbaik untuk orang yang memberikan tip? Jawabannya juga tentu tidak! Tentunya pelayan tidak akan tahu, mana tamu yang akan memberikan tip atau tidak.

Pemimpin tipikal ini akan berusaha segenap hati untuk membimbing, mengajar, mengarahkan, mengembangkan, dan memimpin timnya sebaik mungkin. Mungkin dalam hatinya masih ada keinginan bahwa timnya nantinya bisa menjadi tim loyal, tim yang bisa menghasilkan, dan tim yang mendukung dia. Meskipun dia paham bahwa tidak semua orang bisa berbalas budi, tentunya akan ada orang-orang yang akan hanya mengambil keuntungan dan pergi.

Jujur saja, ketika saya sering membantu pengusaha-pengusaha di Indonesia untuk mengembangkan bisnisnya, tipikal kepempinan di level 5 jarang saya temui. Lebih banyak tipikal pemimpin di level petani. Coba Anda bayangkan, jika bisa menjadi pemimpin tipikal pelayan atau memiliki pemimpin dengan tipikal seperti ini, apa yang bisa terjadi dalam perusahaan Anda. Minimal lingkungan kerja di perusahaan akan menjadi lingkungan kondusif, nyaman untuk bekerja, dan saling mendukung. Tentunya tingkat turnover karyawan akan berkurang karena mereka nyaman dengan lingkungan kerja, partner kerja, dan pemimpinnya.

Kebiasaan mengembangkan diri akan membuat tim Anda lebih berkapabilitas. Hal tersebut pastinya akan berdampak juga kepada bisnis Anda yang ikut berkembang.

Saya berusaha membimbing manajer atau supervisor yang ada di dconsulting.id untuk memiliki karakter hati seperti pelayan. Hal itu dituangkan dalam tujuan tahunan yang kami buat. Anda boleh percaya atau tidak, tapi pemimpin-pemimpin di dconsulting.id memiliki karakter pelayan dan membuat respons positif dari seluruh tim. Mereka merasa tidak mudah menemukan perusahaan dengan lingkungan positif dan saling mendukung seperti yang kami miliki. Sebagian besar dari mereka malah merasa sangat nyaman dan membuat tim betah untuk bekerja bersama. Meskipun load kerja konsultan jauh lebih besar daripada karyawan, tapi lingkungan yang mendukung membuatnya lebih mudah.

6. Pemimpin Tipikal Penggembala

Kepemimpinan level 6 pastinya akan memiliki hati yang jauh lebih tulus lagi dibandingkan level bawahnya. Kepemimpinan di level ini digambarkan dengan kata-kata gembala. Kata gembala yang dimaksudkan di karakter pemimpin ini, tidak sama dengan figur gembala yang mungkin Anda tahu. Kalau Anda sering melihat penggembala kambing atau penggembala domba di lapangan, mereka tugasnya hanya menggiring kawanan hewan yang dia jaga ke ladang. Mereka menunggu ternak makan dan setelah selesai makan, membawa kembali kawanan hewan tersebut ke dalam kandang.

Analogi dari penggembala ini diambil dari contoh penggembala di zaman kuno, tugas mereka cukup penting. Pada zaman itu, orang kaya yang memiliki kawanan ternak, pasti akan memeliharanya dengan sangat baik. Tugas menjaga ternak tersebut diberikan kepada penggembala. Tugas penggembala saat itu sangat banyak, mulai dari memberi makanan secara rutin kepada hewan ternak dan membawanya ke ladang supaya kawanan tersebut tidak stress serta lebih sehat.

Penggembala juga merawat badan, bulu, kuku, telinga, dan bagian tubuh lain supaya bebas penyakit dan menjadi hewan yang sehat. Hal itu dilakukan secara terus-menerus sampai dengan hewan tersebut dijual atau dipindahkan kepada pemilik lain. Tentunya dalam upaya penggembala dalam menjaga kawanannya sangatlah besar. Ketika terjadi sesuatu yang kurang baik kepada hewan ternak tersebut, penggembala yang akan bertanggung jawab.

Pemimpin tipikal penggembala

Gambar 27. Pemimpin tipikal penggembala

Dalam tanggung jawab yang besar ini, si penggembala tetap mendapatkan sedikit hadiah. Hadiah tersebut berupa upah dari bos atau pemberi kerja. Coba bayangkan jika Anda menjadi penggembala! Bagaimana Anda bisa menikmati mengerjakan hal yang sama dan berhadapan dengan kawanan hewan setiap hari? Tentu butuh hati yang sabar dan tulus dalam melakukan tugas tersebut. Mungkin Anda akan menjadikan hewan ternak tersebut kawan dan berbicara dengan mereka. Meskipun mereka pun tidak akan pernah menjawab Anda hehehe. Lucu sekali, bukan? Kalau Anda perhatikan di dalam 7 level kepemimpinan ini, setiap naik level maka karakter pemimpin akan semakin bijaksana dan lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada diri sendiri.

Bayangkan kalau semua pemimpin di dalam perusahaan Anda berada di level 6. Banyak pemimpin perusahaan Anda yang menjadi penggembala. Mereka sibuk membantu tim dalam proses berkembang. Mereka sabar mendidik timnya, mendorong mereka bukan hanya dengan ucapan, tapi tingkah laku dan contoh yang bisa menginspirasi tim. Mereka dengan lembut memberikan saran kepada tim supaya memperbaiki diri dan menjadi pribadi lebih baik. Tentunya hal-hal positif akan terjadi di dalam perusahaan Anda, bukan begitu?

Namun memang tidak mudah untuk menemukan pemimpin dengan level ini. Banyak pengusaha berharap bisa menemukan tim dengan karakter kepemimpinan di level ini. Namun jujur saja tidak gampang! Ketika Anda buka lowongan kerja dan berani bayar berapa pun, belum tentu Anda bisa menemukan orang yang memiliki kepemimpinan dengan level ini. Namun, saya percaya kepemimpinan yang baik bisa dibentuk, selama karakter dasar pemimpin baik.

Prinsip saya ketika sulit menemukan pemimpin tipikal penggembala, ciptakan sendiri di internal perusahaan. Ingat, semesta kita seperti magnet. Kita akan menarik orang yang sama. Ketika Anda adalah pribadi dan pemimpin yang baik maka semesta akan mendukung bertemu dengan orang-orang yang memiliki karakter sama dengan Anda. Begitu Anda bersikap sebaliknya, tentunya orang-orang dengan karakter “kurang” yang akan bertemu dengan Anda.

7. Pemimpin Tipikal Parents (Orang Tua)

Oke, kita sampai pada tipikal kepemimpinan di level terakhir yang sering saya ajarkan dan berusaha implementasikan kepada seluruh tim dconsulting.id. Kepemimpinan di level 7 ini adalah kepemimpinan paling tinggi. Pemimpin ini dianalogikan sebagai pemimpin dengan tipikal parents atau orang tua. Mengapa kepemimpinan ini dianalogikan sebagai orang tua?

Dalam perspektif saya, orang tua adalah seseorang yang akan selalu memberikan segalanya tanpa pamrih. Minimal itu yang saya tahu ya. Mohon maaf bisa jadi Anda mengalami suatu hal berbeda dari yang saya jelaskan. Sebagian besar dari yang saya tahu, orang tua akan selalu berusaha memberi tanpa pamrih, khususnya untuk anaknya.

Mengapa saya bisa katakan memberi tanpa pamrih? Mari kita bayangkan bagaimana proses seseorang menjadi orang tua. Pada awal kehamilan, sepasang suami istri yang akan menjadi orang tua berusaha menjaga calon bayinya sebaik mungkin. Mulai si calon ibu yang akan berusaha memilih makanan bergizi untuk calon buah hati. Sang bapak juga akan berusaha menjaga si ibu supaya tetap sehat, tetap gembira, dan melahirkan dalam posisi yang siap. Ketika memasuki bulan ke-7 atau ke-8 kehamilan, mereka akan mengelus si calon bayi dengan mengelus perut si ibu.

Mereka bercakap-cakap dengan si bayi dan berkata, “Sehat-sehat ya, Nak. Mama dan Papa sudah tidak sabar menunggu kamu keluar.” Bayangkan sebelum sang buah hati keluar dari perut, besar sekali rasa cinta yang terpancar dari sepasang orang tua. Ketika si buah hati sudah keluar dari perut si ibu, kedua orang tua akan lebih berupaya untuk menjaga sang buah hati supaya tetap sehat dan terawat.

Mulai dari memberinya susu, menjaga supaya sang buah hati tidak sampai kedinginan, menggantikan popok, begadang tengah malam, dan hal-hal lain demi menjaga sang buah hati. Begitu besar pengorbanan, rasa sayang, dan cinta kedua orang tua kepada sang buah hati. Mereka pun tidak sempat terpikir bahwa sang buah hati nantinya harus berbakti dan membalas jasa baik orang tua. Saya yakin dan percaya orang tua hanya memberi, memberi, dan memberi. Tak akan tebersit sedikit pun rasa pamrih dan mengharap si bayi harus membayar upah untuk mengganti jerih payah mereka waktu merawat bayi.

Inilah yang menyebabkan kepemimpinan di level ini menjadi kepemimpinan tertinggi. Saya yakin Anda semua sepakat, tidak ada profesi yang lebih tulus dan ikhlas selain profesi sebagai orang tua. Oleh karena itu, ketika mencoba memahami karakter kepemimpinan di level ini, Anda tinggal melihat sosok orang tua ideal yang Anda tahu. Minimal sepemahaman saya akan menjadi pribadi yang perhatian dengan tim. Pribadi tersebut akan berupaya mendidik dan mengusahakan yang terbaik untuk perkembangan tim. Tidak hanya memberikan hadiah kepada timnya, tapi juga tuntunan yang tegas, agar timnya semakin berkembang. Tidak peduli apakah timnya akan membalas jasanya, namun terus memberi, memberi, dan memberi.

Saya kira tidak mudah menemukan tipe pemimpin seperti ini, bahkan saya dan Anda belum menjadi karakter pemimpin seperti ini. Coba bayangkan, begitu Anda berupaya mendidik seluruh tim untuk memiliki tujuan sama, menjadi pemimpin seperti orang tua, yakin dan percaya lingkungan kerja akan membahagiakan. Ketika seluruh tim berbahagia, melakukan segalanya secara positif, dan mengandalkan Sang Kuasa dalam setiap hal yang dilakukan, pasti hasilnya akan menjadi baik.

Baik sampai di titik ini, saya akan mencoba meninjau ulang apa saja kesalahan sampai dengan 5 tahun awal berbisnis. Fase 5 tahun awal ini juga menjadi fase yang sangat krusial. Banyak pengusaha yang mengakhiri usahanya pada 5 tahun pertama karena kesalahan-kesalahan sama seperti yang saya lakukan. Oleh karena itu, saya mencoba memberikan Anda intisari kesalahan-kesalahan tersebut. Pada bab selanjutnya, saya akan jelaskan langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan.

A. Tidak Memilih dan Membangun Karyawan dengan Benar

Kesalahan pertama saya dalam bisnis adalah saya tidak memilh karyawan dengan tepat. Hal itu terjadi karena ketidaktahuan saya dalam memilih karyawan yang sesuai dan tepat. Tentunya hal ini membuat usaha saya awalnya sangat kesulitan berkembang. Awalnya saya memilih karyawan hanya menggunakan perasaan saja.

Apabila karyawan mudah tersenyum, ringan tangan, dan tegas dalam menjawab, kemungkinan besar saya terima. Apabila indeks prestasi akademiknya bagus dan ditambah pula dengan aktif berorganisasi di universitas, peluang untuk saya terima menjadi lebih besar.

Namun, itu bukan cara terbaik untuk memilih karyawan. Ternyata perasaan yang digunakan bisa jadi salah. Ternyata ada caranya memilih karyawan dengan benar! Awal-awal memulai usaha, saya tidak memilih karyawan dengan benar. Dampaknya, saya mendapati karyawan adalah karyawan yang tidak bisa mendukung perkembangan usaha.

Saya dulunya berprinsip apabila perusahaan sukses, karyawan di dalamnya akan ikut sukses. Akhirnya, ada ekspektasi lebih supaya mereka juga mau berjuang sungguh-sunguh mendukung kemajuan perusahaan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya! Karyawan menyabotase kegiatan perusahaan, resign berjamaah, dan sulitnya mengatur karyawan. Oleh karena itu, memiliki karyawan yang pandai saja tidak cukup! Namun, lebih baik memiliki karyawan yang pandai, tapi memiliki akhlak atau hati yang baik pula. Lantas bagaimana cara memilih karyawan yang baik? Tenang, saya akan jelaskan pada bab-bab berikutnya.

B. Tidak Memiliki Visi dan Misi Perusahaan yang Jelas!

Kesalahan kedua adalah saya tidak membuat visi dan misi perusahaan yang jelas. Hal ini karena ketidaktahuan saya akan pentingnya visi dan misi untuk mempercepat kemajuan perusahaan. Ditambah lagi suatu hal baru yang membuat saya menjadi merasa aneh untuk melakukannya.

Kesalahan itu malah membuat usaha saya tidak memiliki arah yang jelas. Saya hanya sibuk mengejar mimpi-mimpi dan harapan, tapi sering kali mimpi tersebut terkaburkan oleh hal-hal lain. Akhirnya, membuat perusahaan tidak terarah dengan benar. Langkah-langkah yang dilakukan pun sekadar mengatasi masalah yang ada sekarang, mencoba bertahan, dan mempertahankan perusahaan saja.

Tentunya karyawan tidak bisa melihat ke mana arah perusahaan. Hal itu tentu membuat mereka bertanya-tanya. Apakah mereka cocok untuk berjuang bersama dengan perusahaan? Apakah perusahaan ini bisa menjadi tempat mereka bersandar untuk mencari penghasilan? Ataukah perusahaan ini benar-benar akan mempedulikan mereka? Dari keraguan-keraguan yang muncul di benak karyawan tersebut, malah membuat mereka memilih untuk meninggalkan perusahaan.

C. Tidak Memiliki Budaya Kerja yang Baik

Kesalahan ketiga adalah tidak membuat budaya kerja perusahaan. Seperti penjelasan saya sebelumnya, budaya kerja perusahaan mencerminkan karakter orang-orang yang ada di dalam perusahaan. Budaya kerja ini juga menjadi standar sikap karyawan dan seluruh komponen lingkungan kerja perusahaan. Budaya kerja bisa digunakan HRD sebagai standar memilih atau mendidik karyawan.

Apabila tidak ada budaya kerja yang jelas dan tertulis, karyawan bersikap sesuai dengan kemauannya sendiri. Contoh, Anda punya anak yang melakukan kesalahan dan dia tidak pernah meminta maaf karena ketidaktahuannya. Apakah dia salah? Mungkin, iya. Apakah dia salah untuk tidak meminta maaf? Seharusnya tidak! Mengapa kok saya bisa mengatakan tidak salah? Karena anak tersebut tidak tahu bahwa secara norma sosial, dia diharapkan untuk meminta maaf apabila melakukan kesalahan. Ini sama seperti budaya kerja yang diharapkan ada dan tertulis di dalam perusahaan.

Itulah mengapa waktu saya memiliki karyawan dalam perusahaan, muncul rasa senioritas di antara mereka. Mereka merasa bahwa dirinya lebih tua dan lebih lama bekerja.

Jadi, mereka lebih merasa senior dan bisa berbuat agak semena-mena terhadap karyawan baru. Ada yang tiba-tiba iri hati dengan rekan kerjanya karena merasa lebih saya perhatikan daripada karyawan lain. Padahal saya sendiri tidak merasa seperti itu hehehe. Hal ini dikarenakan budaya kerja belum mendarah daging di dalam lingkungan kerja perusahaan.

Apabila hal ini terjadi secara terus-menerus, pengusaha akan kesulitan untuk mengurusi hal-hal sepele seperti ini! Sayangnya, saya mengalaminya dan harus mengurusi hal-hal tersebut.

D. Tidak Ada Sistem yang Jelas!

Kesalahan keempat adalah saya hanya bersikap baik kepada karyawan. Saya memberikan banyak toleransi dan pengampunan terhadap setiap kesalahan yang mereka buat. Apabila mereka membutuhkan bantuan, saya menjadi “nice guy” yang akan berusaha membantu.

Masalahnya, belum tentu semua orang yang kita berikan sikap baik, akan menghargainya. Sering kali malah mereka menganggap itu adalah keharusan dan mereka layak mendapatkannya! Hal ini membuat sebagian besar pengusaha enggan untuk terus bersikap baik kepada karyawan. Mereka merasa dikecewakan dan mulai malas melakukan perbuatan baik kepada karyawannya.

Tentunya perbuatan baik tidak salah, asalkan dilakukan dengan sistem yang tepat pula. Apabila kita tidak menggunakan sistem yang tepat, tentunya akan membuat kita kelelahan. Pada sisi lain, perbuatan baik yang kita lakukan bisa disalahartikan karyawan lain.

Bisa jadi sikap baik pada salah satu karyawan akan membuat pandangan bahwa kita lebih lebih perhatian dengan karyawan tersebut. Hal itu membuat iri hati dari karyawan lain. Belum lagi kalau karyawan semakin banyak, pengusaha tidak lagi memiliki waktu dan kesempatan untuk melakukan hal baik kepada seluruh karyawan dengan tangannya sendiri.

Oleh karena itu, perlu dibuat sistem yang baik di dalam perusahaan. Sistem yang baik akan mengatur seluruh kegiatan operasional dan memberikan penghargaan yang adil untuk seluruh karyawan. Sistem yang baik akan mendidik dan membuat karyawan bisa semakin berkembang. Bagaimana langkahnya? Tenang, saya juga akan jelaskan di bab-bab berikutnya.

E. Tidak Ada Kontrol yang Jelas untuk Kinerja Karyawan

Kesalahan kelima adalah saya tidak membuat kontrol yang baik. Masih ingat cerita saya dicurangi oleh karyawan? Karyawan memberikan laporan, dia melakukan sesi konsultasi kepada klien sesuai dengan jadwal kerja. Akan tetapi, ternyata laporan dari klien malah sebaliknya, karyawan tidak pernah mengunjungi klien! Inilah yang dinamakan tidak ada kontrol yang baik dalam usaha saya saat itu.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Jawabannya karena saya lebih fokus untuk memperbesar skala usaha. Tenaga saya lebih banyak dicurahkan untuk membangun pasar, melakukan networking, mencari partner, mencari klien, dan upaya-upaya lainnya. Ketika fokus dan tenaga saya banyak dicurahkan untuk membangun pasar, hal-hal mendetail sering kali terlupakan. Hal ini juga sering terjadi dalam diri pengusaha-pengusaha yang saya kenal.

Mereka juga melakukan kesalahan yang sama seperti saya, ditambah lagi tidak tahu bagaimana cara melakukan pengontrolan usaha.

Apabila ditambahkan dengan “sistem kepercayaan” yang dilakukan oleh pengusaha kepada karyawan-karyawan lama dan dianggap sudah loyal dengan perusahaan akan memperburuk keadaan. Sistem kepercayaan ini sering disalahgunakan oleh karyawan. Karena dipercaya, tentunya kontrol dari pengusaha pun berkurang serta timbul rasa sungkan apabila ingin menanyakan hal yang bersifat sensitif. Contoh, pertanggungjawaban keuangan atau barang. Hal tersebut menimbulkan kelonggaran dari fungsi kontrol dan menimbulkan kesempatan untuk berbuat curang. Tentunya tidak sedikit kasus kecurangan di perusahaan yang timbul karena hal ini.

F. Tidak Melakukan Pengelolaan Keuangan dengan Benar

Kesalahan terakhir yang saya lakukan pada 5 tahun awal memulai usaha adalah tidak melakukan pengelolaan keuangan dengan baik. Pada saat itu, rekening perusahaan dan rekening pribadi masih tercampur. Pengeluaran pribadi tercampur dengan pengeluaran perusahaan. Akibatnya, terkadang keuangan perusahaan terpakai untuk kebutuhan pribadi.

Belum lagi ditambah dengan piutang usaha yang lama terbayar oleh klien. Saat itu, umur piutang usaha perusahaan bisa mencapai lebih dari 6 bulan. Meskipun sudah ditagih, kadang klien bertindak semaunya sendiri untuk membayar piutang usaha. Kami belum membuat perjanjian atau kontrak kerja yang menguatkan dalam hal pembayaran piutang.

Masalah ini membuat cash flow dconsulting.id menjadi sulit. Bahkan, kami bisa stres saat membayar gaji atau THR saja karena di rekening belum menyiapkan dana. Ditambah lagi, kami belum membuat laporan keuangan yang benar. Laporan yang ada, hanya laporan penjualan, laporan biaya, dan laporan laba rugi sederhana saja. Akan tetapi, laporan keuangan yang sesuai belum pernah dibuat.

Pertanyaannya, mengapa kok tidak membuat laporan keuangan yang sesuai? Kembali ke penjelasan saya di poin sebelumnya bahwa waktu dan fokus saya tercurah untuk membangun pasar. Akibat laporan keuangan yang belum dibuat dengan benar ini, membuat saya kesulitan untuk menganalisis kondisi kesehatan perusahaan. Saya tidak bisa menetapkan secara pasti, langkah apa yang harus saya lakukan ke depan. Saya tidak bisa menganalisis biaya-biaya yang terlalu boros atau biaya-biaya yang bisa dioptimalkan. Akibatnya, perusahaan berjalan biasa-biasa saja dan tidak bisa berkembang dengan maksimal.

Dari kesalahan-kesalahan pada 5 tahun pertama berbisnis dan perbaikan-perbaikan yang sudah saya lakukan hingga saat ini, saya menyimpulkan bahwa ada rumusnya jika perusahaan ingin berkembang. Seperti ungkapan yang sering diutarakan oleh orang-orang sukses, kalau Anda ingin sukses maka tirulah apa yang dilakukan oleh orang yang sudah sukses. Hal ini berlaku sama untuk perusahaan! Kalau Anda ingin perusahaan bisa sukses, tirulah langkah-langkah yang dilakukan oleh perusahaan sukses.

Pengalaman saya lebih dari 12 tahun di dunia bisnis membuat saya menyimpulkan bahwa syarat bisnis bisa berkembang ada 3 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, hal yang harus diperhatikan adalah manusia. Mengapa hal yang pertama adalah manusia di dalam bisnisnya? Saya yakin Anda akan sependapat bahwa bisnis Anda tidak bisa berjalan tanpa adanya manusia yang membantu. Meskipun Anda berusaha mengotomatisasi usaha Anda menggunakan mesin atau robot, bahkan artificial inteligence (AI) sekalipun, tetap akan membutuhkan manusia dalam mengoperasikan atau membuatnya. Jadi, tidak bisa dihindari bahwa Anda tidak ingin bekerja dengan manusia! Anda harus berdamai bahwa selamanya bisnis Anda tetap membutuhkan bantuan manusia. Oleh karena itu, hal pertama yang akan diperbaiki di dalam bisnis Anda adalah manusia.

Kedua, hal yang perlu diperhatikan adalah sistem. Kalau perusahaan saya ibaratkan seperti kereta api, sistem bisa dianalogikan sebagai rel. Kereta api mungkin bisa berjalan tanpa ada rel, tapi tentunya tidak bisa berjalan dengan cepat dan baik. Begitu kereta api diletakkan di atas rel, kereta api akan berjalan dengan lebih cepat dan teratur. Bahkan ketika kereta api sudah di atas rel, masinisnya pun tidak harus mengeluarkan tenaga maksimal untuk mengoperasikan kereta api tersebut.

Masinis hanya perlu mengontrol saja, apakah di depan ada halangan atau kereta api sudah berada di jalur rel yang tepat. Analogi kereta api dan rel ini seperti perusahaan Anda.

Apabila perusahaan Anda sudah menggunakan sistem yang tepat, Anda sebagai “masinis” perusahaan akan memiliki banyak waktu untuk melakukan hal lain. Anda hanya perlu memantau perusahaan dan menyiapkan strategi-strategi perbaikan yang akan dilakukan di depan.

Ketiga, hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha adalah keuangan. Banyak pengusaha berpikir bahwa dalam pengembangan bisnis, hal terpenting adalah omzet. Memang anggapan itu adalah anggapan yang umum dan banyak pengusaha-pengusaha di Indonesia pun melakukannya. Namun, dari penelitian yang dilakukan atas 10 penyebab usaha bangkrut, penyebab utama yang sering terjadi adalah masalah keuangan. Bila pengusaha pandai mencari omzet, tapi tidak pandai mengelola uang itu seperti kesebelasan sepak bola yang memiliki striker (penyerang) andal, namun memiliki kiper yang payah.

Apa yang terjadi jika kesebelasan sepak bola tersebut memiliki tim seperti itu? Bisa jadi mereka mendapatkan goal dari striker andal, namun sering juga bola lawan masuk ke dalam gawang mereka. Kalau striker lawan lebih jago lagi dalam melakukan penyerangan, kemungkinan atas kesalahan bisa terjadi di dalam kesebelasan tersebut. Sebagai pengusaha, kemampuan mendatangkan omzet memang diperlukan. Namun, kemampuan mengelola keuangan pun sangat dibutuhkan untuk menjaga perusahaan tetap bisa berjalan dengan baik.

Dari 3 hal di atas, saya membuat suatu kerangka kerja dalam membangun bisnis sukses yaitu PSF (People, System, and Finance). Dengan memperbaiki 3 hal tersebut akan membuat bisnis Anda berkembang dan sukses. Langkah ini sudah saya terapkan di dalam dconsulting.id dan ratusan perusahaan klien. Apabila Anda menerapkannya 100%, saya yakin langkah ini akan berhasil juga untuk perusahaan Anda. Lantas, apa saja yang harus dilakukan untuk memperbaiki dari setiap hal yang saya sebutkan tadi.

3 Pilar PSF pendukung perkembangan perusahaan

Gambar 28. 3 Pilar PSF pendukung perkembangan perusahaan

Dari sisi people, ada 7 hal yang perlu diperhatikan, yaitu

  1. Proses perekrutan karyawan yang baik.
  2. Proses pengarahan karyawan yang tepat
  3. Proses pelatihan karyawan secara intens.
  4. Proses pengembangan yang berkelanjutan.
  5. Proses pengontrolan kinerja yang adil.
  6. Proses pendelegasian kepada karyawan berkapabilitas baik dan siap.
  7. Proses penghargaan kepada karyawan berprestasi.

Dari sisi system ada 7 hal yang perlu diperhatikan, yaitu

  1. Proses pembuatan struktur organisasi yang ideal.
  2. Proses pengategorian jabatan dan job description seefisien mungkin.
  3. Penempatan key user dan user yang sesuai dengan kebutuhan job.
  4. Proses pembuatan Standard Operating Procedure (SOP) yang efektif dan efisien.
  5. Proses pendampingan dalam menjalankan sistem usaha dengan proyek manajer yang tepat.
  6. Pemanfaatan teknologi dalam percepatan otomatisasi usaha.
  7. Proses kontrol dan evaluasi revisi SOP yang berjalan serta update SOP secara berkala.

Dari sisi finance ada 6 hal yang perlu diperhatikan, yaitu

  1. Pengadministrasian segala bukti transaksi di dalam perusahaan.
  2. Pembuatan laporan keuangan yang real time dan valid.
  3. Proses auditing secara berkala untuk meminimalkan terjadinya kecurangan di perusahaan.
  4. Proses analisis keuangan perusahaan untuk menentukan langkah perbaikan yang bisa dilakukan.
  5. Proses cashflow management yang efektif dan efisien.
  6. Proses membangun divisi internal control untuk mengurangi ketergantungan dari pihak eksternal.

Seperti yang sudah pernah saya tuliskan di bab sebelumnya, manusia adalah aspek paling penting dalam kemajuan suatu usaha. Tanpa manusia di dalamnya, tentunya sebuah bisnis akan kesulitan mengoperasikan kegiatan di dalam perusahaan. Seperti proses marketing, sales, delivery, penyimpanan barang, dan proses lainnya pasti tetap akan membutuhkan tenaga manusia. Oleh karena itu, perusahaan perlu memiliki karyawan yang baik pula. Demi memiliki karyawan yang baik tidak cukup hanya melakukan pelatihan kepada karyawan.

Banyak pengusaha melakukan pelatihan secara berkala dengan harapan karyawannya memiliki kemampuan dan karakter bagus setelah mendapatkan pelatihan bernilai jutaan. Namun, ternyata tidak banyak karyawannya yang mengalami kemajuan pesat setelah menjalani pelatihan. Lantas apa masalahnya? Masalahnya bukan materi pelatihannya kurang baik atau pemateri tidak bisa menyampaikan materinya. Akan tetapi, manusianya tidak memiliki kualitas baik untuk berkembang atau tidak mau berkembang dengan kemauannya sendiri. Saya menyimpulkan, demi memiliki karyawan baik, harus dimulai dengan mendapatkan karyawan yang baik pula. Nah, proses mendapatkan karyawan yang baik dimulai dari proses perekrutan karyawan.

A. Proses Perekrutan Karyawan yang Baik

Banyak perusahaan melakukan perekrutan karyawan dengan cara sederhana atau mungkin cara standar yang sering dilakukan oleh perusahaan lainnya. Dengan itu, mereka berharap supaya mendapatkan karyawan yang baik. Masalahnya, tidak hanya perusahaan Anda yang ingin mendapatkan karyawan baik. Perusahaan kompetitor juga ingin mendapatkan karyawan yang baik pula. Saat ini, banyak perusahaan berlomba-lomba mendapatkan karyawan yang memiliki kapabilitas dan akhlak yang baik. Harapannya, karyawan tersebut bisa membantu perkembangan perusahaan.

Berdasarkan pengalaman saya melakukan rekrutmen ribuan karyawan, karyawan yang memiliki kapabilitas dan akhlak baik jumlahnya terbatas. Lebih banyak karyawan yang memiliki kapabilitas dan karakter biasa-biasa saja, bahkan kurang. Ditambah lagi karyawan yang baik akan memilih perusahaan terbaik pula. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan melakukan strategi perekrutan dengan tepat agar bisa mendapatkan kandidat yang baik.

1. Step 1: Pembuatan Profil Perusahaan Terpercaya

Langkah awal melakukan strategi perekrutan karyawan dimulai dengan membuat perusahaan Anda pantas dilamar oleh para kandidat. Ketika kandidat melihat perusahaan Anda adalah perusahaan yang tidak cocok dengan kriteria, mereka enggan mengirimkan lamaran kerja. Hal ini tentu berpengaruh sehingga Anda kesulitan mendapatkan kandidat yang baik. Sering saya melihat perusahaan UMKM(Usaha Mikro Kecil dan Menengah) tidak terlalu memperhatikan profiling perusahaan. Contohnya, banyak dari pengusaha UMKM tidak memiliki website usahanya. Ketika suatu perusahaan tidak memiliki website, kandidat akan menganggap perusahaan tersebut tidak terpercaya dan mengurungkan niat melamar pekerjaan.

Saat ini pelamar kerja yang ada, didominasi oleh generasi Z atau mungkin masih ada beberapa yang berasal dari generasi Y. Menurut Google, Generasi Z memiliki rentang tahun lahir 1997—2012. Sedangkan, Generasi Y memiliki rentang tahun lahir 1981—1996. Kandidat dari Generasi Y dan Z sangat melek teknologi dan informasi. Setelah mendapatkan informasi lowongan kerja, biasanya mereka dengan cepat memeriksa profil perusahaan melalui internet. Mereka ketik nama perusahaannya di Google. Ketika nama perusahaan yang bersangkutan tidak muncul di indeks pencarian Google, bisa jadi mereka akan mengganggap perusahaan tersebut tidak nyata. Mereka bisa beranggapan seperti itu karena sering terjadi kasus penipuan kepada calon kandidat yang diharuskan membayar sejumlah nominal tertentu sebelum proses wawancara.

Ilustrasi pencarian profil perusahaan di Google.com

Gambar 29. Ilustrasi pencarian profil perusahaan di Google.com Sumber: https://www.google.com/search?q=dconsulting.id

Setelah mengetahui hal ini, bisa jadi Anda buru-buru mencari pihak yang bisa membuat website secara cepat hehehe. Boleh saja Anda mencari atau bahkan menggunakan templat yang sudah disiapkan provider layanan pembuatan website otomatis, seperti WordPress, Jimdo, dan sebagainya. Namun yang perlu diperhatikan, jangan sampai asal membuat website. Anda juga harus memperhatikan aspek profesionalitas di halaman website. Semakin profesional dan tepercaya, website Anda akan membuat kandidat lebih tertarik untuk melamar pekerjaan.

“Ketika Anda ingin mendapatkan karyawan yang baik, ingatlah bahwa Anda sedang bersaing dengan perusahaan lain yang memiliki keinginan sama.”
Dedy Sidarta

a. Memiliki Infrastruktur Kantor Profesional

Selain website, hal penting lainnya untuk profiling perusahaan adalah tempat wawancara kerja. Sebagian kandidat akan mendatangi perusahaan tempat mereka melamar pada hari sebelum dilakukan wawancara kerja. Permasalahan sebagian pengusaha, terutama pengusaha UMKM, lokasi perusahaan mereka tidak terlalu menarik para kandidat. Ada yang kantornya hanya di ruang tamu rumah, bahkan di garasi rumah. Begitu kandidat mendatangi lokasi perusahaan tempat dia melamar dan melihat kondisi bangunannya seperti itu, mereka akan mengurungkan niatnya dan tidak datang dalam proses wawancara awal. Sebaik apa pun tawaran yang Anda akan berikan, apabila kandidat tidak datang dalam proses wawancara, Anda tidak akan bisa memberikan penjelasan apa pun kepada mereka.

Coba bayangkan, jika Anda menjadi kandidat yang akan melamar kerja. Lalu, Anda mendapati bahwa lokasi kantor perusahaan kondisinya tidak profesional dan tidak tampak elegan. Bisa jadi Anda sendiri akan merasa bahwa perusahaan ini bukanlah perusahaan yang cocok untuk Anda. Anda akan mempertanyakan kelangsungan hidup perusahaan. Apakah perusahaan ini nantinya bisa memberi penghasilan yang baik untuk Anda. Apakah perusahaan ini akan bisa memberikan jenjang karier yang baik untuk Anda.

Tentunya akan banyak lagi pertanyaan yang muncul dalam benak Anda. Ketika Anda berpikir demikian, tentunya kandidat yang akan melamar ke lokasi Anda juga akan berpikir demikian.

Contoh kantor Google pada tahun 1998

Gambar 30. Contoh kantor Google pada tahun 1998 Sumber: https://mastel.id/yuk-lihat-kantor-google-di-tahun-1998/

b. Penggunaan Layanan Virtual Office

Apa yang bisa dilakukan jika lokasi perusahaan atau tampilan kantor Anda belum tampak profesional dan layak? Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi hal tersebut. Pertama, Anda bisa menyewa ruangan di virtual office. Virtual office adalah sebuah ruang kerja atau ruang kantor yang disewakan kepada pihak lain. Dengan harapan pihak penyewa tidak perlu mengeluarkan dana besar untuk membeli dan merenovasi kantor.

Penyewa bisa menggunakan kantor dan segala fasilitasnya hanya dengan membayar biaya sewa tertentu. Layanan virtual office ini bisa Anda gunakan untuk menggantikan posisi kantor ketika bertemu dengan kandidat. Apabila dirasa biaya sewa kantor bulanannya terlalu besar, Anda tidak perlu menyewa kantor tersebut secara bulanan. Anda cuma perlu mendaftarkan nama kantor dan secara legal Anda diakui berlokasi di alamat virtual office tersebut. Anda bisa mengambil paket beberapa jam saja untuk bisa berkantor di sana(periksa dulu terkait dengan layanan yang diberikan oleh virtual office di kota Anda).

Di kota-kota besar, layanan virtual office ini sering tersedia. Namun, belum tentu tersedia di kota-kota lain. Lalu, apa yang bisa Anda lakukan seandainya layanan virtual office ini tidak ada di kota Anda? Anda juga bisa menyiasatinya dengan mengajak kandidat yang hendak Anda wawancara ke kafe atau coffee shop. Biasanya coffee shop didesain dengan tampilan menarik. Hal ini menyebabkan kandidat yang akan melakukan wawancara tidak akan terlalu cemas terkait tampilan kantor Anda sebenarnya.

Saat Anda melakukan wawancara dan merasa cocok, sebaiknya Anda langsung menjelaskan hal-hal positif di perusahaan yang bisa membuat kandidat tetap menyelesaikan proses wawancara sampai tahap akhir. Contoh, penghasilan yang baik, lingkungan kerja harmonis dan saling mendukung, jenjang karier jelas, kesempatan berkembang, dan sebagainya. Anda juga bisa meyakinkan, perusahaan adalah tempat yang cocok untuk mereka. Tentunya harus dengan cara tertentu supaya Anda tidak terkesan terlalu butuh dengan kandidat dan tidak membuat mereka besar kepala.

Strategi ini juga pernah kami gunakan pada tahun awal dconsulting.id berdiri. Kantor kami waktu itu masih berada di ruang tamu, rumah orang tua saya. Awalnya kami juga tidak terlalu memperhatikan tampilan kantor. Kami merasa baik-baik saja dan merasa kantor kami adalah kantor yang normal. Suatu hari ada seorang klien yang datang ke kantor, lalu memandang cemas tampilan kantor.

Secara spontan beliau berkata, “Ini kantor, ya?” Pertanyaan itu membuat berpikir bahwa kantor kami tidak layak dianggap sebagai kantor. Apalagi didatangi calon klien, bahkan calon kandidat pelamar kerja. Jujur saat itu pelamar yang mengirimkan surat lamaran hanya puluhan orang saja. Seingat saya hanya kisaran 50—60 pelamar setiap kali kami membuka lowongan kerja. Memang kami cukup kesulitan mencari karyawan yang berkapabilitas baik karena jumlah pelamar sedikit, ditambah lagi yang cocok dengan kriteria kami tidak banyak jumlahnya.

c. Peran Media Sosial untuk Branding Perusahaan

Pada era sekarang, hampir semua manusia menggunakan media sosial. Mulai dari Facebook, Instagram, Youtube, Tiktok, dan lain-lain. Tentu saja media sosial ini sebagai tempat unjuk gigi penggunanya. Entah mereka suka menampilkan kegiatannya, prestasi, keluarga, makanan, dan lain-lain. Ketika mereka mengunggah sesuatu di media sosial, secara tidak langsung mencerminkan profil diri mereka masing-masing.

Contohnya, ada orang yang sering mengunggah foto makanan, bisa jadi kita beranggapan bahwa orang tersebut hobi kuliner atau hobi mencari destinasi kuliner baru. Jika ada orang yang suka mengunggah foto dirinya di mobil mewah, foto dirinya berada di rumah mewah, foto dirinya sedang berada di pesawat first class, bisa jadi kita langsung beranggapan dia adalah orang kaya atau orang sukses. Meskipun belum tentu orang tersebut benar-benar kaya, tapi minimal citra dirinya sudah tampak kaya di mata orang yang melihat hasil unggahannya di media sosial.

Inilah yang juga perlu Anda lakukan untuk menciptakan brand profil perusahaan kepada para kandidat. Ketika perusahaan Anda memiliki media sosial, cobalah mengunggah hal-hal positif di dalam media sosial perusahaan. Misalnya, Anda bisa mengunggah kegiatan perusahaan, tampilan kantor yang elegan, kegiatan Anda bersama klien atau partner, hal-hal positif lain yang bisa menambahkan value, dan citra positif perusahaan. Semakin sering perusahaan Anda melakukan unggahan hal-hal positif di media sosial, tentunya akan membuat kandidat semakin tahu tentang perusahaan dan memperbesar kemungkinan mereka bekerja di perusahaan Anda.

Media sosial apakah yang cocok Anda gunakan sebagai upaya branding perusahaan? Kalau memang Anda memiliki tenaga kerja yang fokus dalam media sosial, saran saya Anda bisa menggunakan seluruh platform media sosial yang ada. Platform media sosial yang saat ini sering digunakan adalah Facebook, Instagram, Tiktok, dan Youtube. Anda bisa mengutamakan 4 media sosial tersebut sebelum beranjak ke media sosial lainnya. Apabila Anda tidak memiliki tenaga kerja yang fokus terhadap hal tersebut, saran saya Anda cukup menggunakan instagram sebagai sarana branding.

Website dconsulting.id

Gambar 31. Website dconsulting.id Sumber: https://www.dconsulting.id/

Akun instagram dconsulting.id

Gambar 32. Akun instagram dconsulting.id Sumber: https://www.instagram.com/dconsulting.id/

Akun tiktok yang dimiliki dconsulting.id

Gambar 33. Akun tiktok yang dimiliki dconsulting.id Sumber: https://www.tiktok.com/@dconsulting.id?lang=id-ID

Akun Youtube dconsulting.id

Gambar 34. Akun Youtube dconsulting.id Sumber: https://www.youtube.com/channel/UC_V0jAEiGX3UmK7E6iFsjSg

d. Peran Google Business dalam Menyatakan Keberadaan Perusahaan

Seperti cerita saya sebelumnya, para pelamar kerja sering memeriksa lokasi perusahaan yang akan mereka lamar. Mereka akan menggunakan fitur search dari Google untuk mendapatkan informasi profil perusahaan yang hendak mereka lamar. Ketika indeks Google menampilkan website perusahaan, minimal mereka cukup bisa mempercayai keberadaan perusahaan. Namun kepercayaan tersebut akan berkurang, jika lokasi perusahaan tidak tercantum dalam Google Business.

Apa itu Google Business? Bagi Anda yang mungkin belum familiar dengan hal ini, saya akan memberikan sedikit penjelasan mengenai Google Business. Google Business adalah suatu fitur yang dibuat oleh Google. Google Business lebih berfokus pada pengindentifikasian unit usaha tertentu di dalam sebuah peta digital yang sering disebut sebagai Google Maps.

Sebuah unit usaha dapat teridentifikasi di dalam Google Maps bukanlah hal yang mudah. Pertama, perusahaan tersebut harus memiliki lokasi riil. Lalu, perusahaan harus mengajukan kepada Google supaya unit usahanya terindeks di dalam platform Google Maps. Pihak Google tentunya akan melakukan proses verifikasi kepada perusahaan dan memastikan bahwa lokasi perusahaan tersebut benar adanya. Proses verifikasi yang cukup detail akan membuat kandidat lebih percaya dengan perusahaan yang sudah terindeks di dalam Google Business.

e. Pentingnya Rating dan Ulasan Bagus di Google Business

Setelah perusahaan Anda berhasil masuk ke dalam Google Business, masih ada langkah berikutnya yang perlu dilakukan demi membuat pelamar lebih yakin terhadap perusahaan Anda. Apakah itu? Yakni dengan testimoni atau ulasan dari pihak lain yang sudah mengenal Anda. Setelah perusahaan terindeks di dalam Google Business, setiap orang yang mengetahui perusahaan Anda, bisa melakukan penilaian terhadap perusahaan. Penilaian yang bisa diberikan berupa rating dan ulasan. Bagi generasi Y dan Z, rating ini sangat menentukan keputusan mereka supaya lebih yakin ke perusahaan yang hendak mereka lamar. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan mendapatkan rating bintang 4 ke atas dan ulasan baik dari pihak-pihak yang mengetahui usaha Anda.

Akun Google Business dconsulting.id

Gambar 35. Akun Google Business dconsulting.id Sumber: https://shorturl.at/jsNZ1

Bagaimana caranya agar Anda bisa mendapatkan ulasan dan rating yang baik? Baik, coba saya bongkar beberapa strategi yang sering kami lakukan guna mendapatkan rating dan ulasan yang baik. Pertama, kami mengarahkan karyawan memberikan rating dan ulasan ke akun Google Business dconsulting.id. Kami meminta mereka supaya memberikan review positif kepada perusahaan dari pandangan mereka masing-masing.

Tentunya ketika kami melakukan hal tersebut, kami sudah membangun lingkungan kerja yang positif agar mereka bisa berkembang. Kami juga memberikan bukti-bukti bahwa visi-misi dan goal secara perlahan mulai tercapai. Jadi, review yang diberikan oleh masing-masing karyawan adalah review yang tulus dan riil. Penting, ketika review diberikan oleh pengguna adalah review yang riil. Jangan sampai Anda hanya memaksa untuk diberikan review baik, namun secara nyata perusahaan Anda masih kurang baik. Hal ini akhirnya bisa menimbulkan efek negatif terhadap perusahaan Anda ataupun hasil review yang sudah dilakukan.

Kedua, meminta pelanggan memberikan rating atau review positif. Namun pastikan service atau produk Anda sudah memuaskan mereka. Bila Anda meminta review karyawan, minimal mereka masih bekerja di dalam perusahaan Anda. Kemungkinan untuk mendapatkan rating yang baik akan lebih besar. Namun, apabila Anda di-review oleh pelanggan, bisa jadi pendapat mereka bisa bermacam-macam dan Anda tidak bisa memaksa mereka untuk memberikan review positif saja. Oleh karena itu, apabila Anda belum benar-benar yakin mereka puas dengan perusahaan, penting bagi Anda memiliki strategi pemberian hadiah setelah memberikan review positif di Google Business perusahaan.

Minimal dengan hadiah yang Anda berikan akan membuat mereka lebih memandang positif perusahaan. Mereka akan lebih senang dalam memberikan review tersebut. Contoh, Anda memberikan voucher dengan jumlah tertentu untuk bisa berbelanja kembali di perusahaan. Anda juga bisa memberikan produk gratis setelah mereka melakukan review atau hal lain yang bisa membuat mereka lebih tertarik memberikan review secara tulus. Jujur di dconsulting.id, kami tidak memberikan hadiah apa pun sih hehehe. Kami sudah mengupayakan memberikan layanan terbaik untuk para klien sehingga cukup mudah kami meminta review tanpa harus memberikan bonus.

Ketiga, Anda meminta pihak ketiga memberikan review positif di perusahaan. Pihak ketiga ini mungkin saja supplier, partner usaha, orang yang melamar untuk bekerja di perusahaan, ataupun pihak lain yang Anda anggap cocok untuk memberikan review riil dan tulus. Langkah ini juga sering kami pakai. Kami meminta supplier dan pelamar kerja untuk memberikan review positif. Tentunya kami juga tidak memaksa mereka memberikan rating bintang 5 atau ulasan positif saja ke perusahaan. Alhasil ada juga yang memberikan rating bintang 4 atau di bawahnya. Namun, sebagian besar akan memberikan rating bintang 5 karena kami berupaya sebaik mungkin supaya bisa berdampak positif bagi mereka.

Review dari pelamar kerja dan partner di Google Business

Gambar 36. Review dari pelamar kerja dan partner di Google Business

Setelah Anda melakukan 3 strategi untuk mendapatkan review positif di Google Business perusahaan, minimal pelamar akan membaca dan melihat isi review. Hal itu akan membuat mereka lebih mudah mengambil keputusan untuk tetap melamar di perusahaan Anda.

“Tidak ada kata terlambat untuk mendigitalkan usaha Anda. Hal yang sering terjadi hanyalah ketakutan untuk berubah.”
~Dedy Sidarta

2. Step 2: Pemasangan Lowongan Kerja yang Tepat

Setelah menyelesaikan langkah pertama dalam strategi melakukan perekrutan yang baik, minimal Anda sudah mempersiapkan perusahaan memiliki branding menarik dan siap dilamar oleh para kandidat. Langkah berikutnya, membuat para pelamar mau mengirimkan lamaran kerjanya di perusahaan Anda. Langkah ini sangat penting diperhatikan karena semakin rendah keinginan mereka untuk melamar, kemungkinan Anda mendapatkan kandidat yang berkualitas pun akan semakin kecil.

Banyak perusahaan yang membuat lowongan kerja hanya seperti memberikan pengumuman saja kepada calon pelamar. Mereka biasanya hanya akan menulis dengan huruf besar terkait dengan posisi kosong dan memerlukan kandidat pelamar kerja. Setelah itu, mereka akan mencantumkan kualifikasi dari pelamar yang dibutuhkan dan tugas yang akan dikerjakan apabila masuk perusahaan. Lalu, informasi lainnya yang biasanya akan ditampilkan adalah contact person atau e-mail(surel) untuk melakukan pendaftaran lowongan kerja tersebut. Ini adalah templat umum yang dipakai oleh banyak perusahaan dalam membuat lowongan kerja.

Contoh poster lowongan kerja

Gambar 37. Contoh poster lowongan kerja Sumber: https://bengkuluekspress.disway.id/

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, apabila Anda ingin perusahaan berkembang, Anda harus memiliki karyawan yang berkapabilitas dan siap berkembang pula. Oleh karena itu, Anda harus mendapatkan karyawan yang baik dan berkualitas. Ketika Anda memasang lowongan kerja yang umum, perusahaan lain pun memasang lowongan kerja dengan templat sama. Hal yang menjadi penentu adalah besar atau kecilnya usaha yang hendak dilamar oleh kandidat. Tentunya begitu poster lowongan kerja Anda sama dengan perusahaan lain, kandidat akan memilih perusahaan dengan skala yang lebih besar dan lebih menjanjikan dibandingkan perusahaan Anda.

Nah ini satu hal yang perlu Anda pikirkan ketika membuat sebuah lowongan kerja. Anda tidak boleh membuat lowongan kerja yang biasa-biasa saja! Anda harus membuat lowongan kerja dengan cara berbeda sehingga lebih menarik minat pelamar untuk mengirimkan lowongan kerja.

Desain poster lowongan kerja penting dalam menarik perhatian pelamar dari banyaknya lowongan yang ada. Ketika Anda membuat lowongan kerja, penting dipikirkan penetapan desain, warna, besarnya huruf, dan kata-kata dalam poster tersebut. Poster juga sebaiknya disesuaikan dengan media publikasi lowongan kerja. Anda harus menyesuaikan besar kecilnya tulisan atau gambar dengan media publikasi yang akan digunakan

Berikan 3—5 alasan positif mengapa kandidat harus melamar ke perusahaan Anda.

Selain desain yang perlu Anda perhatikan dalam membuat poster, ada lagi hal yang tidak kalah penting untuk dicantumkan di dalam poster lowongan kerja. Yaitu, poin keunggulan Anda dibandingkan perusahaan lain. Secara sederhana, Anda harus memberikan alasan yang menarik agar kandidat mau melamar ke perusahaan.

Anda harus memberikan poin-poin baik yang memang sudah ada di perusahaan tanpa mengada-ada. Contoh, di perusahaan Anda sudah ada jenjang karier yang jelas dan tingkatan penghasilan menarik. Hal ini bisa Anda cantumkan sebagai alasan mengapa mereka harus melamar di perusahaan. Contoh lain, ada hadiah berangkat ke luar negeri. Hal ini juga perlu Anda cantumkan di dalam poster lowongan kerja.

Poin-poin ini harus Anda pikirkan matang-matang supaya lebih membuat pelamar tertarik melamar. Namun, bagaimana bila perusahaan Anda masih baru atau belum memiliki hal-hal yang bisa menarik minat pelamar? Tentunya ini bisa menjadi opsi perbaikan yang bisa Anda pikirkan. Apabila memang di perusahaan Anda saat ini belum mempersiapkan jenjang karier yang baik, alangkah baiknya mulai dipikirkan untuk membuat jenjang karier lebih jelas untuk karyawan Anda.

Apabila perusahaan Anda belum pernah melakukan gathering bersama karyawan, baik di dalam kota maupun di luar kota, bisa jadi ini adalah opsi yang bisa Anda lakukan pada tahun ini atau tahun depan. Di poster lowongan Anda bisa mencantumkan apa yang sudah ada atau rencana pada masa mendatang. Namun, jangan terlalu melebih-lebihkan janji-janji manis Anda di dalam lowongan kerja. Pastikan ketika Anda sudah menulis di dalam lowongan kerja yang di publikasi, Anda harus melaksanakannya di dalam perusahaan.

Pemberian tautan atau informasi mengenai website dan media sosial yang dimiliki oleh perusahaan penting untuk dilakukan. Tentunya di dalam poster lowongan kerja, tidak semua informasi tentang perusahaan bisa Anda berikan. Oleh karena itu, ketika Anda memberikan alamat website atau media sosial, para pelamar bisa mencari tahu perusahaan lewat website atau sosial media yang diinfokan dalam poster.

Penting juga di dalam poster mencantumkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Karena, belum semua orang melek digital. Apabila Anda hanya berikan tautan pendaftaran atau mungkin alamat surel untuk mendaftar, bisa jadi mereka masih ingin bertanya, meskipun semua informasi sudah Anda berikan secara jelas. Oleh karena itu, pihak yang bisa dihubungi melalui saluran telepon, sangat penting dicantumkan di dalam poster lowongan kerja.

Contoh poster lowongan kerja dconsulting.id

Gambar 38. Contoh poster lowongan kerja dconsulting.id Sumber: dconsulting.id

Setelah membuat poster lowongan kerja yang menarik, langkah berikutnya Anda harus mengunggah lowongan kerja tersebut ke media-media publikasi lowongan kerja yang cocok. Apabila Anda membuat poster, media yang bisa Anda gunakan untuk publikasi adalah Instagram atau Facebook lowongan kerja. Pihak pengelola akun Instagram tersebut akan meminta sejumlah uang sebagai pengganti jasa mereka dalam memasang lowongan kerja.

Namun, biasanya untuk memasang lowongan kerja di Instagram dan Facebook, Anda tidak perlu mengeluarkan biaya besar. Biasanya hanya kisaran puluhan sampai ratusan ribu rupiah saja untuk setiap poster lowongan kerja yang hendak dipublikasikan.

Salah satu akun instagram untuk publikasi lowongan kerja

Gambar 39. Salah satu akun instagram untuk publikasi lowongan kerja Sumber: https://www.instagram.com/lokaloker.surabaya/?hl=id

Adapun media publikasi lain yang bisa Anda gunakan yaitu Linkedin, Jobstreet, Glints, dan sebagainya. Namun, mengunggah lowongan kerja di platform tersebut akan membutuhkan biaya relatif lebih besar. Tentunya biaya tersebut sebanding dengan jangkauan lebih luas karena mereka sudah memiliki database pelamar kerja yang besar. Selain itu, Anda bisa memasang poster dalam bentuk cetak ke sekolah atau universitas yang bisa Anda ajak kerja sama. Hal ini akan membuat informasi lowongan kerja perusahaan Anda lebih dekat dengan sumber pelamar kerja.

Pastikan Anda mencantumkan batas waktu melamar setiap lowongan kerja yang dipublikasikan. Hal ini akan membuat pelamar kerja lebih cepat untuk mengirimkan lowongan kerja ke perusahaan Anda. Selain itu, mereka juga lebih yakin bahwa lowongan kerja yang dipublikasikan adalah lowongan terbaru dan posisi dilamar masih tersedia. Penting juga diketahui, jangan sampai Anda memberikan iklan lowongan kerja yang terlalu bombastis. Beriklan sewajarnya dan jangan memberikan janji-janji yang tidak bisa Anda tepati. Apabila Anda bombastis dalam beriklan tentu akan membuat pelamar yang diterima menjadi kecewa. Selanjutnya, akan menjadi testimoni yang buruk untuk bisnis Anda dan pelamar lainnya.

3. Step 3: Proses Wawancara Kerja yang Ideal

Setelah melakukan pemasangan iklan lowongan kerja, Anda harus menunggu selama beberapa saat sampai mendapatkan berkas lamaran kerja. Biasanya waktu yang dibutuhkan hingga pelamar mengirimkan lamaran kerjanya adalah sekitar 3—7 hari dari pemasangan iklan lowongan kerja. Setelah pelamar mengirimkan berkas lamaran, Anda punya waktu terbatas untuk segera memproses lamaran sampai dengan proses wawancara kerja. Secepat mungkin Anda harus memproses pemanggilan kandidat yang sudah melamar dengan harapan masih segar di benak pelamar kerja bahwa ia melamar di tempat Anda. Minimal Anda tidak terdahului oleh perusahaan kompetitor dalam memproses lamaran mereka.

Ketika memproses lamaran yang sudah masuk, sebisa mungkin tidak lebih dari 7 hari. Anda harus melakukan panggilan via panggilan telepon atau via pesan. Namun, sebisa mungkin gunakan panggilan langsung untuk menghubungi kandidat. Bila Anda menggunakan panggilan langsung, informasi pemanggilan wawancara pasti diketahui oleh kandidat. Apabila Anda menggunakan fitur pesan, bisa jadi pelamar tidak membaca pesan Anda, dan informasi pemanggilan wawancara kerja terlewatkan. Setelah dihubungi dan tersambung dengan pelamar, pastikan Anda sudah menyiapkan beberapa hal, antara lain.

a. Opsi tanggal untuk proses wawancara awal;
b. Peralatan atau dokumen yang perlu dibawa; dan
c. Menginfokan kandidat agar menyimpan waktu wawancara di handphone.

Pastikan bahwa Anda sudah menyiapkan beberapa alternatif pemberian tanggal dan waktu wawancara untuk para pelamar. Terkadang mereka juga ada wawancara kerja atau kegiatan lain sehingga tidak bisa menghadiri wawancara pada waktu yang sudah Anda tawarkan. Ketika mereka berhalangan, segera tawarkan opsi waktu lain yang sudah Anda persiapkan. Sering kandidat lupa akan jadwal wawancara yang akan dilakukan. Oleh karena itu, mendekati hari pelaksanaan wawancara, pastikan Anda memberikan informasi ulang melalui pesan kepada kandidat. Tentunya apabila Anda sudah memiliki departmen HRD, Anda bisa meminta mereka untuk melakukannya.

Ketika melakukan wawancara kerja, kami biasanya membagi dalam beberapa tahap. Tentunya tahap-tahap ini akan berbeda antara perusahaan satu dengan yang lain. Saya akan memberikan contoh tahapan wawancara yang kami lakukan supaya bisa menjadi referensi di perusahaan Anda.

Kami biasa membagi tahapan wawancara menjadi 4 tahapan sebagai berikut.

a. Tahap wawancara 1
Pada tahap ini kami melakukan profilling terhadap para kandidat yang kami wawancara. Kami melakukan berbagai macam tes tulis dan melihat sikap mereka selama wawancara. Tentunya tahap ini menjadi filter awal para kandidat. Sebab, di proses ini kami tidak melakukan wawancara lisan kepada para kandidat.

b. Tahap wawancara 2
Setelah lolos tahap wawancara pertama, berikutnya tim HRD akan melakukan wawancara secara lisan. Tim HRD menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan karakter dan riwayat hidup kandidat. Di proses ini kami sudah memiliki indikator yang digunakan HRD dalam rangka pemilihan kandidat. Mulai dari karakter, sikap, latar belakang, pendidikan, motivasi hidup, level komunikasi, dan sebagainya. Kalau Anda ingin proses ini bisa diwakili oleh tim HRD, pastikan Anda sudah mengidentifikasikan secara jelas profil karyawan yang diinginkan. Hal ini penting dilakukan agar HRD tidak kebingungan dalam memilih kandidat yang sesuai dan tidak asal memilih kandidat berdasar opini pribadinya.

c. Tahap wawancara 3
Tahap wawancara ketiga, tentunya kandidat yang lolos sampai tahap ini akan semakin sedikit. Tahap ini dilakukan oleh user dengan kandidat. Contoh, kami melakukan wawancara untuk staf marketing maka yang akan melakukan wawancara di tahap 3 ini adalah manajer marketing. Wawancara di tahap ini dilakukan dengan tujuan mencocokkan antara karakter kandidat yang ada dan kualifikasi yang dibutuhkan oleh user. Ketika user bertemu secara langsung dengan kandidat, mereka yang akan menentukan apakah kandidat tersebut lolos atau tidak. Harapannya, kandidat yang akan diterima benar-benar sudah sesuai dengan cara kerja atau cara pandang user. Selain itu, user lebih bisa menerima keberadaan kandidat karena mereka sendiri yang memutuskan.

d. Tahap wawancara 4
Sampai tahap ini, kami berusaha memproses wawancara awal hingga wawancara terakhir tidak lebih dari 2 minggu. Pada tahap ini biasanya saya sendiri yang akan turun tangan. Jujur kami sangat selektif dalam memilih karyawan. Kami tidak ingin hanya mendapatkan karyawan yang pandai secara keilmuan, namun kami ingin memiliki karyawan yang memiliki hati dan karakter baik. Pada tahap ini memang cukup banyak pertimbangan yang saya lakukan. Mulai dari melihat kemampuan mereka, karakter, dan sikap selama wawancara hingga hasil analisis tulisan tangan yang mereka miliki. Kami menggunakan jasa grafolog(seorang ahli yang bisa membaca karakter dari setiap tulisan tangan) untuk menganalisis tulisan tangan kandidat.

Foto kegiatan wawancara office boy di dconsulting.id

Gambar 40. Foto kegiatan wawancara office boy di dconsulting.id Sumber: dconsulting.id

Setelah melewati 4 tahap wawancara ini, tentunya kami akan mendapatkan kandidat terbaik. Setelah yakin bahwa kandidat cocok dan mereka mau bekerja, kami akan melakukan proses dealing gaji dan kontrak kerja. Ketika melalui proses wawancara ke-1 sampai dengan ke-4, tentunya akan ada waktu bagi para kandidat memutuskan berhenti atau melanjutkan proses wawancara.

Pada waktu tunggu mereka, penting bagi Anda untuk memberikan asupan positif ke kandidat agar mereka tetap bertahan hingga akhir wawancara. Oleh karena itu, kami memberikan video profil dconsulting. Dalam video tersebut, kami menjelaskan visi-misi, budaya kerja, dan tujuan perusahaan. Kami mengajak para kandidat untuk ambil bagian dalam langkah ke depan.

Setelah kami memberikan video profil kepada kandidat, persentase kandidat yang bertahan semakin besar. Ditambah lagi, kami juga mengusahakan agar tahap wawancara 1 sampai dengan wawancara 3 diselesaikan tidak lebih dari 1 minggu.

B. Proses Pengarahan Karyawan yang Tepat

Sering saya melihat bahwa setelah perusahaan menerima karyawan baru, tidak ada proses pengarahan yang berkualitas untuk karyawan baru. Umumnya setelah diterima, karyawan baru hanya akan menjalani pelatihan secara singkat diperkenalkan dengan rekan sekerjanya dan diakhiri diminta belajar kepada senior atau teman sedivisi. Pengusaha yang melakukan hal tersebut berharap karyawan baru akan diberikan pengarahan sungguh-sungguh oleh senior atau rekan sekerjanya. Padahal yang terjadi sebaliknya.

Saya mau coba melakukan tes sederhana saja ya kepada Anda. Coba sebutkan makanan yang Anda makan 2 hari lalu! Apakah Anda masih ingat jenis makanan yang Anda makan 2 hari lalu? Hehehe… sering kali Anda lupa, ya. Bagi Anda yang bisa mengingatnya, berarti Anda memiliki daya ingat tajam. Banyak orang yang bahkan cuma ingat sarapan pagi saja. Kalau untuk makanan saja Anda bisa lupa, bayangkan kalau Anda berharap karyawan baru diberikan pengarahan oleh senior atau rekan sekerjanya! Apakah mungkin mereka bisa memberikan pengarahan dengan baik dan detail? Jawabannya sering kali tidak bisa!

Di dconsulting.id, kami sudah menyiapkan apa saja yang perlu diinformasikan kepada para karyawan baru. Adapun hal-hal yang kami persiapkan untuk karyawan baru agar mereka dapat lebih memahami apa yang akan mereka kerjakan di perusahaan.

  1. Penjelasan Visi-Misi dan Budaya Kerja
    Pada awal wawancara, kami sudah memberikan video penjelasan mengenai visi-misi dan budaya kerja. Namun setelah masuk perusahaan, kami berikan penjelasan visi-misi dan budaya kerja dengan lebih mendalam. Kami menceritakan sejarah perusahaan, visi-misi, dan budaya kerja tersebut dibentuk. Setelah menceritakan mengenai visi-misi dan budaya kerja, kami juga menceritakan peran mereka dalam mewujudkannya. Terakhir, kami memberi alasan kuat agar mereka bisa berjalan bersama mewujudkan hal tersebut.
  2. Penjelasan Tujuan Perusahaan
    Tujuan perusahaan juga perlu disampaikan secara detail kepara karyawan baru. Tujuan ini menjadi bahan bakar semangat mereka, apalagi dalam tujuan yang Anda buat mempertimbangkan juga aspek perkembangan dan kesejahteraan karyawan. Hal tersebut akan menambah daya juang karyawan yang baru dan membuat mereka bisa berkerja dengan lebih maksimal. Bahkan, sering kali kami melihat dengan penyampaian tujuan yang tepat, malah membuat karyawan bisa berkarya dengan luar biasa di perusahaan.
  3. Manual book untuk Bekerja
    Begitu karyawan baru masuk di dconsulting.id, kami sudah mempersiapkan manual book lengkap. Tujuan manual book adalah informasi atas segala arahan yang perlu mereka tahu ketika memasuki lingkungan dconsulting.id. Di dalam manual book, kami berikan informasi mengenai peraturan perusahaan, tata cara berpakaian, username dan password terkait peralatan yang digunakan, tata cara pertanggungjawaban, dan hal-hal penting yang perlu mereka tahu ketika mulai bekerja.
  4. Penjelasan SOP dan Job Description Karyawan Baru
    Di dalam manual book, kami juga menyertakan SOP yang wajib mereka tahu. SOP yang kami sertakan di setiap karyawan tentunya akan berbeda. Kami memberikan informasi SOP yang berhubungan dengan departemen atau kegiatan mereka saja. Hal ini dilakukan agar karyawan tidak menjadi bingung karena banyaknya informasi yang mereka baca padahal belum tentu berkaitan dengan mereka.
  5. Check list yang Harus Dilakukan
    Kami selalu memberikan mereka check list yang harus mereka lakukan. Check list mulai harian, mingguan hingga bulanan. Namun, hal ini akan dibantu oleh senior atau leader karyawan tersebut. Adanya check list membuat karyawan lebih fokus terhadap apa yang harus mereka selesaikan. Tentunya juga akan membuat karyawan baru lebih produktif.

“Sebagian karyawan yang masuk di perusahaan seperti kertas putih. Tinggal cara Anda untuk bisa menuliskan kata indah di dalamnya.”
~Dedy Sidarta

C. Proses Pelatihan Karyawan secara Intens

Banyak pengusaha enggan melakukan pelatihan kepada karyawannya. Menurut sebagian pengusaha, melatih karyawan sama dengan membuang-buang biaya yang tidak diperlukan. Apakah Anda masih beranggapan sama? Semoga tidak, ya. Karena menurut pengalaman saya selama 12 tahun lebih berbisnis, ketika kita tidak melakukan pelatihan karyawan dengan baik, sama saja kita sedang “mematikan” bisnis sendiri. Seperti yang pernah saya katakan di bab sebelumnya, apabila Anda ingin perusahaan berkembang maka karyawan Anda juga harus ikut berkembang.

Di dconsulting.id kami melakukan pelatihan secara intens. Pada awal karyawan masuk ke dalam perusahaan, kami sudah memberikan pelatihan induksi selama seminggu penuh. Di dalam pelatihan tersebut, kami memberikan segala informasi yang perlu mereka tahu. Mulai dari pengenalan perusahaan, jenjang karier, aturan perusahaan, dan tentunya modul-modul pelatihan dari level basic hingga intermediate.

Setelah melalui 7 hari pelatihan induksi, karyawan baru juga akan diarahkan untuk mengikuti pelatihan lanjutan hingga ke level advanced. Di dalam modul pelatihan, kami juga menyiapkan pelatihan untuk hardskill setiap karyawan hingga pelatihan softskill yang perlu dimiliki karyawan. Tentunya pelatihan yang kami berikan tidak lagi menggunakan tenaga manusia untuk melakukan pelatihannya. Kami sudah menggunakan platform pembelajaran untuk memudahkan proses pelatihan tersebut.

Mungkin sebagian besar perusahaan masih kesulitan untuk melakukan pelatihan secara berkelanjutan. Itulah yang menjadi dasar bagi kami untuk membuatnya dalam bentuk pelatihan online sehingga kualitas pelatihan sama dan dapat diukur. Kami memberikan juga tes kepada peserta pelatihan guna mengetahui tingkat pemahaman mereka dari materi yang dipelajari. Setelah kami memberikan pelatihan melalui platform pelatihan online, kami tetap melakukan upgrade skill tim dengan mengundang narasumber dari lembaga pelatihan lain. Tentunya kami akan melakukan pelatihan dengan narasumber eksternal terkait materi yang diperlukan dan tidak ada dalam modul pelatihan.

Pentingnya Membuat Kurikulum Pelatihan

Memang untuk membuat modul pelatihan yang komprehensif sampai jadi seperti saat ini, kami membutuhkan waktu panjang. Awalnya, kami melakukannya dengan cara biasa dan melakukan pelatihan secara berkelanjutan saja. Kami lakukan pelatihan minimal 1 hingga 2 kali per bulan. Kami mencari tahu terlebih dulu kualifikasi kemampuan yang harus dimiliki oleh tim dan kualifikasi yang masih belum tercapai. Dari daftar kualifikasi yang belum tercapai, barulah kami menemukan topik-topik yang bisa digunakan untuk pelatihan.

Setelah hal tersebut berjalan cukup lama, kami mencoba mengidentifikasi kembali kualifikasi skill yang harus dimiliki oleh tim di setiap jabatan. Kami mencoba untuk mengidentifikasikan secara mendetail. Bahkan, kami menentukan kualifikasi yang dibutuhkan berdasarkan lama kerja tiap tim. Kami mencoba mengidentifikasi kesulitan dan tantangan yang harus mereka pecahkan. Dari hasil identifikasi tersebut, akhirnya kami membuat kurikulum kebutuhan pelatihan tim di setiap level jabatan dan departmen. Lalu, secara perlahan kami buatkan pelatihan yang terdokumentasi dengan video pelatihan dan kami tempatkan di platform online supaya mudah dipelajari oleh semua tim.

“Ketika perusahaan berkembang, karyawan harus ikut berkembang.”
~Dedy Sidarta

D. Proses Pengembangan yang Berkelanjutan

Proses keempat dalam strategi membangun manusia di dalam perusahaan membutuhkan waktu dan hati dalam melakukannya. Dalam proses pengembangan berkelanjutan, kita tidak hanya melatih hardskill dan softskill karyawan. Proses pengembangan berkelanjutan kita lakukan untuk membangun karakter kepemimpinan dan akhlak karyawan. Tentunya hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena proses ini membentuk hati dan kepercayaan karyawan.

Ketika Anda mulai melakukan pengembangan karyawan, tujuan akhirnya adalah membuat karyawan bisa menjadi pemimpin yang memiliki akhlak baik. Arti dari kata akhlak menurut Wikipedia adalah budi pekerti, penakai, tingkah laku atau tabiat. Minimal karyawan bisa menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri, bahkan pemimpin tim yang akan dibimbingnya.

Ketika Anda mendidik karyawan untuk menjadi pemimpin, memang bisa dilakukan dengan memberikan pelatihan secara teori.

Pemimpin yang bijaksana tidak bisa dibentuk melalui teori belaka. Praktik di dalam menyikapi kehidupan lebih berguna untuk meningkatkan kebijaksanaan mereka dalam memimpin. Proses ini akan menuntut Anda menjadi contoh karyawan. Secara sederhana, sebelum Anda meminta orang lain menjadi pemimpin bijaksana, Anda terlebih dulu harus menjadi pemimpin yang bijaksana. Karyawan tidak hanya belajar dari lisan atau membaca saja, tapi juga melalui contoh nyata yang Anda tunjukkan kepada mereka.

Contoh nyata yang Anda tunjukkan akan membuat karyawan belajar dari tingkah laku. Ketika Anda menunjukkan tingkah laku bijaksana, secara tidak langsung Anda sedang membangun kepercayaan karyawan. Seperti yang saya pernah pelajari sebelumnya bahwa untuk menjadi bijaksana, tidak bisa melalui belajar saja. Kita harus melalui proses kehidupan dan menyikapinya.

Tentunya kemampuan ini tidak bisa hanya diajarkan, namun juga harus dipraktikkan. Proses pendampingan Anda sebagai pemimpin perusahaan penting dilakukan pada awal. Terutama, bagi Anda yang masih dalam upaya membangun tim solid dan mempersiapkan pemimpin-pemimpin baru di setiap departemen. Mengapa perlu pendampingan? Tentunya hal ini terkait memimpin manusia cukup kompleks.

Leader Anda bisa jadi menghadapi kebingungan ketika menghadapi kasus berbeda. Di dalam proses ini juga butuh komunikasi yang lebih intens dan mendalam. Anda harus mempersiapkan waktu untuk mendengarkan, memberikan masukan, menjadi coach, dan mentor mereka. Ketika proses sudah berjalan dengan lancar maka ke depannya Anda tidak harus melakukan pendampingan secara personal. Mungkin Anda perlu melakukan pendampingan tim tertentu yang terpilih. Proses berkelanjutannya bisa dilakukan oleh tim HRD atau tim leader Anda.

“Demi menjadi bijaksana, kita tidak bisa melalui belajar saja. Kita harus melalui proses kehidupan dan menyikapinya.”
~Dedy Sidarta

E. Proses Pengontrolan Kinerja yang Adil

Setelah Anda melakukan langkah ke-1 hingga langkah ke-5 dalam strategi membangun manusia dalam perusahaan. Apabila langkah-langkah itu Anda jalankan dengan konsisten akan membuat perusahaan memiliki karyawan-karyawan yang berkapabilitas baik. Namun, tetap perlu Anda pahami dalam usaha membangun karyawan akan ada karyawan baik, karyawan biasa saja, dan karyawan kurang baik. Penting setelah berbagai macam langkah sudah dilakukan, sekarang saatnya melakukan penilaian karyawan.

Penilaian karyawan bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Namun, sebelum melakukan penilaian, konsep penting yang perlu Anda pikirkan adalah cara melakukan penilaian yang adil untuk seluruh karyawan. Jangan sampai Anda membuat proses penilaian di dalam perusahaan dari sudut pandang salah satu pihak tertentu saja. Ketika hal tersebut Anda lakukan, sering kali berdampak kurang baik terhadap kinerja karyawan yang dinilai. Terutama, bila penilaian tersebut bersifat subjektif dan ada unsur ketidaksukaan dari penilai kepada karyawan.

1. Melakukan Penilaian Kinerja Karyawan

Saya pernah merasa tidak nyaman dan tidak mendapatkan keadilan dalam penilaian karyawan di suatu perusahaan. Terutama, status si penilai adalah atasan saya. Dampaknya, motivasi saya dalam berkerja menjadi menurun dan kinerja jadi kurang baik. Berikut saya berikan beberapa contoh yang bisa Anda lakukan kepada karyawan.

a. Konsep Penilaian Top Down
Konsep penilaian ini biasanya dilakukan manajemen puncak dalam menilai karyawannya. Contoh, Anda sebagai seorang owner atau CEO perusahaan selayaknya tidak harus dinilai oleh karyawan. Namun, karyawan yang ada langsung di bawah bimbingan Anda sampai 2 level ke bawah biasanya perlu dinilai. Contoh, Anda menilai GM, level manajer, atau supervisor. Mengapa hanya 2 level ke bawah saja yang bisa Anda nilai? Karena begitu turun lagi ke level organisasi berikutnya, Anda tidak sering berhubungan langsung dengan karyawan tersebut. Hal itu menyebabkan penilaian yang dilakukan kurang akurat.

Penilaian top down

Gambar 41. Penilaian top down

b. Konsep Penilaian Bottom Up
Konsep penilaian bottom up digunakan apabila perusahaan ingin mengetahui kinerja leader. Penilaian ini digunakan untuk menilai leader yang masih berada di jajaran manajemen menengah. Contoh, Anda ingin tahu kinerja manajer atau supervisor ketika memimpin karyawan. Anda bisa meminta karyawan yang dipimpin oleh manajer atau supervisor tersebut untuk melakukan penilaian terhadap pimpinannya. Namun, penilaian ini juga mesti diatur dengan baik. Jangan sampai penilaian ini malah membuat karyawan yang menilai semena-mena dan tidak menghormati pemimpinnya.

Penilaian bottom up

Gambar 42. Penilaian bottom up

c. Konsep Penilaian kombinasi Top Down dan Bottom Up
Metode top down dan bottom up merupakan kombinasi metode pertama dan kedua. Metode ini cocok dilakukan agar penilaian lebih adil ke semua karyawan. Jadi, setiap posisi karyawan akan bisa dinilai oleh tim yang dipimpinnya dan bisa dinilai juga oleh atasannya. Seperti metode pertama, biasanya tim yang bisa menilai hanya 2 level ke atas dan 2 level ke bawah. Metode ini sering kami coba terapkan juga di perusahaan sendiri atau perusahaan klien. Menurut kami, penilaian ini menjadi cukup objektif karena penilaian kinerja dari satu orang dinilai oleh orang-orang yang bekerja sama dengan karyawan tersebut. Selain itu, penilaian yang dilakukan oleh beberapa orang membuat hasil penilaian lebih objektif.

Kombinasi penilaian top down dan bottom up

Gambar 43. Kombinasi penilaian top down dan bottom up

d. Konsep Penilaian 360 Derajat
Metode penilaian terakhir adalah metode penilaian 360 derajat. Metode ini digunakan untuk melakukan penilaian terhadap 1 orang karyawan, tapi yang menilai adalah keseluruhan karyawan. Metode ini cukup efektif apabila jumlah karyawan yang mengikuti proses penilaian tidak terlalu banyak. Apabila jumlah karyawan terlalu banyak, sering terjadi penilaiannya bias. Kelemahan lainnya, karyawan yang mendapatkan penilaian baik adalah karyawan yang dikenal secara dekat oleh karyawan lain.

Kelebihan metode ini adalah cocok digunakan untuk mengetahui karakter karyawan yang sesungguhnya. Contoh, ada orang yang peduli, namun ia hanya peduli kepada atasan atau timnya saja. Karyawan tersebut peduli karena tuntutan pekerjaan dan jabatannya. Namun, karyawan yang tidak satu departemen dengannya tidak akan dia pedulikan dan terkesan lebih cuek. Oleh karena itu, penilaian 360 derajat ini bisa digunakan untuk menemukan karyawan yang memiliki karakter seperti itu.

Konsep penilaian 360 derajat

Gambar 44. Konsep penilaian 360 derajat

Dari keempat metode tersebut, Anda tinggal pilih yang cocok untuk diterapkan di perusahaan. Ketika melakukan pemilihan metode, Anda tidak harus menggunakan metode yang sama untuk semua penilaian. Bisa jadi untuk penilaian A, Anda bisa menggunakan metode pertama. Lalu, penilaian B, Anda bisa menggunakan metode kedua.

Kami melakukan penilaian untuk tim teladan dconsulting. Penilaian ini kami lakukan bulanan. Kami menggunakan metode penilaian 360 derajat untuk penilaian tim teladan. Di sisi lain, kami juga melakukan penilaian KPI (key performance indicator) setiap karyawan. Penilaian KPI ini kami lakukan setiap 6 bulan sekali. Metode yang kami gunakan adalah kombinasi top down dan bottom up.

Seandainya perusahaan Anda masih belum melakukan proses penilaian kinerja, saran saya segeralah dimulai. Menurut pengalaman saya, metode penilaian kinerja yang adil bisa membuat karyawan yang berkapabilitas menjadi lebih semangat dan semakin menunjukkan kinerja baik ketika dinilai. Kebetulan saya sudah pernah membuat sebuah pelatihan mengenai cara membuat KPI dan bisa Anda pakai dalam usaha. Berikut tautan untuk mempelajarinya https://academy.dconsulting.id/cartflows_step/mahir-menyusun-kpi-perusahaan/.

2. Membuat Sistem Reward dan Punishment

Setelah melakukan proses penilaian kinerja, langkah berikutnya Anda harus menentukan sistem reward dan punishment karyawan. Tujuan sistem reward dan punishment adalah Anda memberikan penghargaan untuk karyawan yang berprestasi baik dan memberikan tantangan tertentu untuk karyawan kurang berprestasi. Salah satu contoh penggunaan metode reward dan punishment paling umum di perusahaan adalah kenaikan gaji.

Setelah mendapatkan penilaian KPI, Anda dapat menentukan range kenaikan gaji karyawan. Contoh, range angka 1—10, Anda punya standar penilaian KPI seperti berikut ini.

a. 8,5—10 : Grade A
b. 7,5—8,4 : Grade B
c. 6,5—7,4 : Grace C
d. 5,5—6,4 : Grade D
e. <5,5 : Grade E

Contoh penerapan reward dan punishment dari setiap kategori adalah sebagai berikut. Karyawan yang masuk kategori grade A, perusahaan Anda akan memberikan kenaikan gaji sebesar 15% dari gaji pokok. Lalu, karyawan yang masuk kategori grade B akan diberikan kenaikan gaji sebesar 10% dari gaji pokok. Adapun karyawan yang masuk kategori grade C akan mendapatkan kenaikan 5% dari gaji pokok. Sedangkan karyawan yang mendapatkan grade D akan mendapatkan kenaikan 2,5% dari gaji pokok. Terakhir, karyawan yang masuk kategori grade E tidak akan mendapatkan kenaikan gaji.

Penetapan reward dan punishment tersebut tentunya akan membuat karyawan yang masuk kategori grade A akan menjadi lebih senang dan bersemangat bekerja. Sebaliknya, karyawan yang mendapatkan grade D atau E mungkin akan berpikir resign dari perusahaan dan mencari perusahaan lain. Sebab, mereka tidak mendapatkan kenaikan gaji yang cukup.

Sistem reward dan punishment bisa Anda gunakan di segala kegiatan perusahaan. Intinya, Anda lebih memacu karyawan berprestasi dan memberikan tantangan lebih baik untuk karyawan kurang berprestasi.

3. Pentingnya Sistem Remunerasi Ketika Usaha Anda Semakin Besar

Anda tahu arti remunerasi? Mungkin tidak semua paham hal ini. Saya pun awalnya tidak paham sampai membutuhkan sistem ini dalam perusahaan. Menurut Wikipedia, remunerasi adalah pembayaran atau kompensasi finansial lainnya yang dapat diberikan sebagai imbalan atas jasa karyawan maupun pegawai yang bisa dikatakan sebagai penghargaan perusahaan kepada karyawan. Jadi, sistem remunerasi ini mengatur seluruh sistem terkait penghargaan kepada karyawan dan prestasi ketika bekerja.

Apa saja yang diatur di dalam sistem remunerasi? Tentunya banyak hal terkait kompensasi dan benefit yang diatur di dalam sistem remunerasi. Berikut beberapa hal yang diatur di dalam sistem remunerasi.

a. Penetapan struktur organisasi dan job description tiap tingkatan dan divisi
Penetapan struktur organisasi akan saya bahas lebih detail di bab SISTEM. Pada intinya, struktur organisasi penting dibuat terlebih dulu. Ketika membuat struktur organisasi, pastikan Anda membuat leveling jabatan yang tepat. Contoh, Anda memiliki jabatan supervisor di salah satu divisi dan jabatan kepala toko. Pertanyaannya, apakah level supervisor dan kepala toko memiliki level jabatan yang sama atau berbeda? Ini salah satu hal yang perlu Anda pertimbangkan ketika menetapkan struktur organisasi.

b. Penetapan kapabilitas yang perlu dimiliki oleh karyawan di tiap tingkatan dan divisi
Dalam poin ini perusahaan perlu menetapkan kapabilitas yang perlu dimiliki oleh karyawan di setiap level jabatan. Contoh, ketika Anda memiliki karyawan yang menjadi staf biasa dan satunya lagi menjadi manajer, pasti kapabilitas dan kemampuan yang Anda harapkan dari kedua orang ini akan berbeda.

Posisi staf, mungkin Anda mengharapkan karyawan yang cekatan, bisa menggunakan Microsoft Office, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, teliti, dan kemampuan mendasar lainnya. Namun, ketika berhubungan dengan manajer, tentunya akan berbeda kapabilitas yang Anda harapkan. Bisa jadi Anda mengharapkan manajer yang bisa memimpin, memiliki manajemen waktu dan pekerjaan yang baik, memiliki kemampuan problem solving, dan sebagainya. Inilah yang nantinya perlu diperinci ketika menetapkan kapabilitas karyawan.

c. Penetapan struktur skala upah tiap tingkatan dan divisi
Setelah Anda menetapkan leveling jabatan yang ideal dan pengklasifikasian kapabiltas karyawan, langkah berikutnya Anda perlu membuat struktur skala upah setiap level jabatan. Hal ini penting untuk dilakukan sehingga Anda tidak kebingungan menetapkan kenaikan atau penurunan gaji untuk setiap karyawan. Secara tidak langsung ketika membuat hal ini, Anda sedang membuat sistem penggajian yang adil berdasarkan kapabiltas masing-masing. Hal ini bisa didelegasikan kepada HRD atau bagian keuangan untuk memberikan penggajian, apabila struktur dan skala upah ini sudah jadi.

F. Proses Pendelegasian kepada Karyawan Berkapabilitas Baik dan Siap

Setelah Anda melakukan langkah 1 sampai dengan langkah 5, sudah waktunya untuk perlahan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan usaha kepada karyawan yang berkapabilitas baik dan siap. Ini langkah penting agar memiliki bisnis yang autopilot, Anda harus memiliki orang yang berkapabilitas dan dapat dipercaya untuk menggantikan beberapa pekerjaan penting yang Anda lakukan. Dalam perusahaan besar, bukan lagi menggantikan perkerjaan penting, namun menggantikan Anda menjalankan operasional perusahaan sebagai direktur atau CEO.

“Apa? Menjadi CEO menggantikan Anda?” Mungkin itu yang ada di benak Anda saat ini. Ya benar, menggantikan Anda sebagai CEO atau direktur perusahaan. Kalau memang Anda benar-benar ingin autopilot, usaha harus bisa berjalan tanpa Anda berada di dalamnya. Coba Anda perhatikan, apakah pengusaha besar yang Anda kenal seperti Pak Hermanto Tanoko, Pak Tung Desem Waringin, atau pengusaha besar lainnya akan menjalankan berbagai perusahaannya seorang diri? Tentunya tidak! Mereka akan memiliki direktur atau CEO yang mengelola perusahaan masing-masing.

Sebelum Anda mencari CEO untuk perusahaan, kita mulai saja dari Anda mencari calon pemimpin yang bisa dipromosikan untuk menjadi kepala atau manajer. Seandainya Anda sekarang adalah pengusaha UMKM yang masih mengerjakan banyak hal di dalam perusahaan. Contoh, Anda masih mengurus pembelian barang, mengontrol stok barang, penjualan, bahkan mengurus keuangan perusahaan. Anda bisa mencari kandidat yang tepat untuk berikan wewenang dalam mengatur gudang terlebih dulu. Cari calon pemimpin yang bisa Anda promosikan menjadi kepala gudang. Setelah bertemu kandidat yang tepat, secara perlahan Anda bisa mulai mencari calon lain yang bisa menggantikan penjualan, dan begitu seterusnya.

Ada langkah-langkah yang bisa Anda lakukan dalam melakukan proses pendelegasian ini, yaitu

1. Berikan Tantangan Baru untuk Tim Berprestasi
Ketika Anda selesai melakukan penilaian dan menemukan calon pemimpin yang baik, langkah selanjutnya Anda perlu melakukan tes kapabilitas dan kepemimpinan mereka secara nyata. Berikan tantangan baru untuk tim yang berprestasi. Contoh, tim tersebut berada di posisi staf keuangan dan pajak. Bisa saja Anda memberikan tantangan kepada tim tersebut untuk menjadi narasumber dalam seminar kecil yang dibuat untuk klien. Bisa juga beri tantangan menjadi ketua pelaksana event perusahaan. Intinya, Anda harus berusaha melihat potensi tim yang sebenarnya. Bukan hanya berdasarkan penilaian semata, namun langsung Anda tes di kegiatan nyata.

2. Ajak Tim Terpilih Memiliki Tujuan dan Buatlah Mereka Terus Tertantang
Ketika tim yang Anda pilih sudah lolos di tahap pertama, langkah berikutnya Anda harus mencari tahu motivasinya untuk berkembang. Terkadang ada tim yang memiliki kapabilitas baik, tapi enggan menerima tanggung jawab lebih. Mereka lebih suka berada di zona nyaman dan enggan naik ke level lebih tinggi. Oleh karena itu, Anda perlu tahu tujuan tim yang ingin Anda promosikan. Terkadang mereka sudah memiliki tujuan pribadi dan belum sejalan dengan apa yang Anda ingin berikan kepada mereka.

Proses penyelarasan tujuan ini penting dilakukan antara mereka dan Anda. Anda ajak mereka bermimpi dan mungkin memiliki mimpi baru. Ajak mereka melihat dari sudut pandang Anda dan berikan alasan mengapa mereka harus ke sana. Setelah mereka menerima pandangan Anda menjadi tujuan pribadi, pondasi awal calon pemimpin yang hebat sudah mulai terbentuk.

3. Berikan Kepercayaan untuk Memimpin Proyek atau Departemen
Pemimpin yang hebat dan bijaksana didapatkan dari praktik berkelanjutan. Oleh karena itu, penting bagi Anda memberikan kepercayaan kepada calon pemimpin untuk memimpin proyek tertentu. Misalnya, Anda memiliki beberapa proyek yang memiliki tingkat kesulitan berbeda. Cobalah Anda berikan tantangan kepada mereka untuk menyelesaikan proyek yang bahkan belum pernah mereka lalui. Coba cari tahu, setangguh apa mereka dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian, Anda bisa melihat apakah kandidat tersebut adalah calon pemimpin yang sesuai dengan kualifikasi.

Setelah melewati tahap ketiga dan Anda benar-benar dapat mempercayai tim pilihan, sudah waktunya Anda mempercayakan beberapa hal penting dan mulai mendelegasikan kepadanya.

“Anda tidak akan bisa memiki bisnis autopilot hingga Anda bisa mendelegasikan pekerjaan.”
~Dedy Sidarta

G. Proses Penghargaan Karyawan Berprestasi

Proses terakhir pengelolaan manusia di dalam perusahaan adalah memberikan penghargaan kepada karyawan berprestasi. Pada suatu titik Anda akan menemukan karyawan-karyawan loyal. Karyawan dengan prestasi terbaik dan berkarya bersama Anda dalam waktu lama. Bisa juga Anda mendapatkan karyawan baru, namun kinerjanya sangat luar biasa. Dalam beberapa waktu, setelah karyawan tersebut bergabung di perusahaan, dia bisa berdampak luar biasa dalam perkembangan usaha Anda. Tentunya untuk tipe-tipe karyawan seperti ini, tidak bisa hanya diberikan penghargaan seperti karyawan lain. Anda harus memberikan treatment khusus.

Penting mendesain model penghargaan yang cocok untuk karakter karyawan dengan kinerja luar biasa. Hal yang umum dilakukan oleh banyak perusahaan adalah memberikan bonus berupa sejumlah uang. Namun, hal tersebut terlalu umum untuk dilakukan dan kadang tidak menjadi suatu yang berarti bagi karyawan. Perlu Anda ketahui, memang karyawan yang bekerja di perusahaan Anda pasti mencari penghasilan memadai dan uang mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan. Namun, bukan berarti uang merupakan hal utama bagi mereka.

Ada hal-hal lain yang mereka juga cari saat bekerja. Antara lain penghargaan dari perusahaan, rasa aman untuk hidup keberlanjutan dengan keluarga, pengalaman baru, dan sebagainya.

Anda harus kreatif dalam mendesain bentuk penghargaan. Bisa jadi ada beberapa penghargaan berupa uang tunai, tapi bisa juga Anda kombinasikan dengan hal lain. Misalnya, Anda memberikan penghargaan berupa perjalanan umroh atau liburan karyawan bersama keluarga. Anda juga bisa memberikan beasiswa lanjut sekolah atau mendapatkan gelar untuk karyawan, bahkan memberikan beasiswa sekolah anak dari karyawan. Tentunya banyak hal yang bisa Anda pertimbangkan sebagai bonus karyawan. Semakin kreatif dan menyentuh pemberian benefit ini akan menjadi poin penting untuk membuat karyawan Anda semakin loyal dan berkarya bersama.

“Ketika usaha Anda berkembang, ingatlah siapa yang selalu bersama dan mendukung Anda untuk sukses.”
Dedy Sidarta

Setelah Anda selesai membenahi persoalan people di perusahaan, tugas Anda belum selesai. Meskipun Anda memiliki orang-orang berkapabilitas dan kompeten di perusahaan, tetap saja karyawan harus diatur. Apalagi perusahaan Anda semakin besar dan jumlah karyawan semakin banyak. Mengapa itu penting Anda lakukan? Pada dasarnya, setiap manusia memiliki kemampuan untuk memahami segala sesuatu. Masalahnya, pemahaman setiap orang berbeda-beda. Apabila tidak ada aturan tentang cara pandang setiap orang di dalam perusahaan, bisa jadi ada kekacauan dalam perusahaan.

Apalagi karyawan di tempat Anda jumlahnya sudah ratusan, bahkan ribuan maka pendekatan secara personal seperti yang dilakukan di bagian people tidak bisa lagi dilakukan dengan mendalam dan konsisten. Perlu dibuatkan sebuah sistem yang mendasari hal tersebut supaya bisa dilakukan secara konsisten. Bagaimana cara membangun sistem yang tepat di usaha Anda? Saya akan membagikan 7 strategi pengelolaan sistem yang baik di perusahaan Anda. Mungkin penjelasan saya akan sedikit teknis dan detail. Jadi, coba Anda pelajari secara perlahan, ya. Apabila nanti ada yang kurang jelas, Anda boleh menghubungi tim dconsulting.id untuk konsultasi secara privat. Namun, bila hanya pertanyaan-pertanyaan singkat, Anda bisa mengirimkan DM melalui akun instagram saya @dedysidarta_official.

A. Proses Pembuatan Struktur Organisasi yang Ideal

Langkah awal membangun sistem di perusahaan Anda dimulai dengan menata dulu struktur organisasinya. Apabila perusahaan Anda saya analogikan sebagai sebuah gedung, struktur organisasi adalah kerangkanya. Penting untuk membangun struktur organisasi yang tepat dan ideal untuk perusahaan Anda, terutama apabila perusahaan masuk ke dalam fase perusahaan yang sedang berkembang.

Ketika Anda membuat struktur organisasi biasanya saya akan mengarahkan dulu menjadi ke 4 pilar utama, yaitu pilar marketing, pilar operasional, pilar finance, dan pilar HRD. Mengapa harus membagi menjadi 4 pilar? Kalau saya menjawab menggunakan analogi sebuah gedung, pasti Anda sudah paham alasannya hehehe. Di gedung selalu minimal ada 4 pilar besar yang akan menyangga bangunannya. Di bagian kanan atas, kiri atas, kanan bawah dan kiri bawah, selalu ada pilar-pilar besar yang menyangga sebuah bangunan.

4 Pilar penyangga perusahaan

Gambar 45. 4 Pilar penyangga perusahaan

Empat pilar ini akan menyangga perusahaan agar bisa berjalan maksimal. Pentingnya lagi keempat pilar ini bisa saling menjaga agar perusahaan tidak rawan mendapatkan kecurangan. Coba sekarang bayangkan, bagaimana jika Anda punya karyawan yang berada di departemen marketing, namun merangkap bekerja di departemen finance. Tugas karyawan tersebut menjual barang kepada pelanggan dan melakukan penagihan. Apakah kemungkinan kecurangan akan kecil atau besar? Tentunya akan besar! Karena tidak boleh orang di dalam perusahaan punya otoritas untuk menjual dan menagih pada saat bersamaan. Hal ini akan menyebabkan kesempatan untuk berbuat curang akan lebih mudah dilakukan.

Sekarang coba kita detailkan lagi apa fungsi dari setiap pilar tersebut.

1. Tugas Pilar Marketing dan Sales
Pilar marketing adalah pilar yang bertanggung jawab mendatangkan penjualan di perusahaan. Pilar ini hanya fokus ke konsumen mengetahui keberadaan perusahaan, menciptakan kebutuhan, dan keinginan konsumen atas produk atau jasa yang dimiliki perusahaan. Kemudian, marketing menangkap kebutuhan dan keinginan konsumen menjadi penjualan. Tentunya akan banyak yang dilakukan pilar marketing. Detailnya akan saya jelaskan di bagian job description.

Namun yang perlu ditekankan bahwa pilar marketing hanya berhubungan dengan menarik perhatian calon konsumen, penjualan produk atau jasa, serta memastikan kepuasan konsumen. Pilar ini tidak diperkenankan bertanggung jawab atas pekerjaan lain, seperti pengiriman produk atau jasa langsung ke konsumen, melakukan penagihan, melakukan pembelian barang atau jasa untuk perusahaan, atau kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan kegiatan utama pilar marketing.

2. Tugas Pilar Operasional
Pilar operasional adalah pilar yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan produk atau jasa, kualitas produk atau jasa, menyimpan dan mendata segala produk atau jasa, mengirimkan produk atau jasa yang sudah dibeli oleh konsumen, dan bertanggung jawab atas keluhan konsumen terkait kualitas barang atau jasa yang dijual. Intinya, pilar ini hanya berfungsi untuk menerima tongkat estafet dari pilar marketing setelah berhasil melakukan penjualan kepada konsumen. Pilar operasional juga memiliki batasan-batasan dalam melakukan tugas dan fungsinya. Pilar ini tidak boleh berhubungan dengan penjualan atau berhubungan dengan uang!

3. Tugas Pilar Keuangan
Pilar keuangan adalah pilar yang bertanggung jawab atas segala urusan keuangan dan pencatatan keuangannya. Pilar ini tidak melakukan kegiatan apa pun yang berhubungan dengan transaksi penjualan ataupun operasional. Pilar ini hanya menjadi perpanjangan dari pilar marketing dalam hal melakukan penagihan kepada konsumen dan perpanjangan tangan pilar operasional dalam melakukan pembayaran kepada supplier.

Pada sisi lain, segala bentuk transaksi keuangan untuk perusahaan juga akan ditangani oleh pilar ini. Misalnya, ada biaya-biaya yang perlu dibayar maka pilar ini akan menjadi penanggung jawab kegiatan tersebut. Pilar keuangan juga bertugas menghitung keuntungan atau kerugian perusahaan. Bahkan urusan perpajakan juga menjadi tanggung jawab pilar keuangan.

4. Tugas Pilar Human Resource Development
Pilar HR adalah pilar yang bertugas mengatur segala urusan yang terkait manusia di dalam perusahaan. Mulai mempersiapkan karyawan yang dibutuhkan perusahaan, melakukan pengarahan dan pengontrolan kinerja karyawan, menghitung dan mempersiapkan data penggajian hingga memberikan reward dan punishment kepada karyawan. Intinya, segala yang berhubungan dengan manusia di dalam perusahaan akan ditangani oleh pilar ini. Namun pilar ini juga memiliki batasan seperti pilar-pilar lain. Pilar ini tidak bisa berhubungan dengan kegiatan penjualan, konsumen, dan keuangan.

Apakah Wajib Menggunakan 4 Pilar untuk Perusahaan?
Di luar sana banyak juga perusahaan yang tidak menggunakan standar 4 pilar di dalam perusahaannya. Ada juga perusahaan yang hanya menggunakan 3 pilar. Bahkan, sering juga yang memiliki 1 pilar saja, seperti gabungan divisi keuangan dan HRD. Terkadang juga divisi markerting dan operasional digabungkan. Bagaimana dengan hal tersebut? Menurut saya sah-sah saja dilakukan karena tidak ada struktur organisasi yang salah atau benar. Semuanya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan setiap perusahaan.

Namun, pastikan ketika membuat struktur organisasi selalu perhatikan aspek kontrol di dalamnya. Ketika Anda membagi menjadi 3 pilar, tentunya fungsi kontrolnya akan semakin berkurang. Contoh, Anda menggabungkan pilar keuangan dan HRD, bisa saja kecurangan area penggajian bisa terjadi. Kasus lain, saat Anda menggabungkan pilar marketing dan pilar operasional, bisa jadi kecurangan saat melakukan penjualan atau pembelian.

Bagaimana bila perusahaan Anda membagi lebih dari 4 pilar? Anda merasa perusahaan semakin berkembang dan kebutuhan departemen yang lebih fokus terhadap hal tertentu perlu Anda buat. Apakah boleh membuat beberapa pilar tambahan? Jawaban saya, boleh saja. Semakin berkembang usaha Anda, kebutuhan mengerjakan segala sesuatu dengan orang yang fokus, memang menjadi tuntutan yang harus Anda penuhi.

Jika sebelumnya Anda punya pilar marketing dan sales. Kemudian, Anda memisahkan kedua pilar tersebut, pilar marketing dan pilar sales berdiri sendiri. Mungkin suatu ketika Anda butuh tim yang fokus dalam pengembangan perusahaan. Bisa jadi Anda menambahkan pilar lain yang fokus terhadap hal tersebut dan dinamakan pilar business development.

Intinya, boleh saja menambahkan pilar-pilar lain, asalkan fungsi dan tugasnya tepat serta mencegah terjadinya kecurangan.

Hal penting dalam menetapkan pilar perusahaan adalah jangan terlalu melebar! Maksudnya, Anda boleh menambahkan lebih dari 4 pilar dalam perusahaan, tapi jangan lebih dari 7 pilar. Mengapa tidak boleh lebih dari 7 pilar karena Anda akan kelelahan mengurus semua bagian. Akhirnya, fungsi Anda sebagai pemberi arahan dan keputusan bagi perusahaan menjadi berkurang. Anda akan banyak menggunakan waktu untuk terlibat dengan semua pilar yang Anda pimpin.

Struktur organisasi 7 pilar

Gambar 46. Struktur organisasi 7 pilar

B. Proses Pengategorian Jabatan dan Job Description

Setelah Anda menentukan pilar-pilar yang ideal bagi perusahaan, langkah berikutnya adalah mengategorikan jabatan yang cocok untuk setiap pilar departemen. Dalam menentukan jabatan di dalam struktur organisasi Anda dimulai dari pengategorian tugas dan fungsi jabatan tersebut. Supaya Anda tidak bingung, saya coba berikan Anda contoh. Misalnya, ada jabatan yang bertugas menangani keluhan pelanggan. Berhubung memiliki kaitan dengan pelanggan, sebaiknya jabatan ini diposisikan di pilar marketing dan sales. Contoh lain, orang yang berurusan dengan pencatatan pengeluaran kas perusahaaan sebaiknya ditempatkan di pilar keuangan.

Saya coba bantu Anda memilah jabatan-jabatan di dalam 4 pilar yang saya jelaskan. Tentunya belum tentu sama dengan jabatan di perusahaan Anda, tapi saya akan coba memberikan posisi terbaik di setiap pilar, ya.

1. Alternatif Jabatan Pilar Marketing dan Sales
Dalam pilar marketing dan sales, biasanya akan terisi dengan jabatan marketing, digital marketing, content creator, ads specialist, video editor, photo designer, sosial media specialist, web developer, marketing event, marketing communication, sales, sales online, SPG/SPB (sales promotion girl/boy), customer service, dan sebagainya.

2. Alternatif Jabatan Pilar Operasional
Dalam pilar operasional, biasanya akan terisi dengan jabatan purchasing, warehouse, logistic and delivery, production, head oultet, kitchen, koki, waiter/ss, surveyor, asset management dan sebagainya.

3. Alternatif Jabatan Pilar Keuangan
Dalam pilar keuangan, biasanya akan terisi dengan jabatan finance cash, finance bank, finance account receivable, finance account payable, accounting staff, staf pajak, internal auditor, dan sebagainya.

4. Alternatif Jabatan Pilar Human Resources Development
Dalam pilar human resources, biasanya akan terisi dengan jabatan staf HRD (human resource development), GA staff (general affair), payroll staff, legal staff, dan sebagainya.

Setelah mengategorikan jabatan, langkah selanjutnya adalah melakukan penentuan job description jabatan. Penentuan job description (jobdes) sangat penting dilakukan supaya setiap jabatan dapat lebih memahami tugasnya dan tidak terjadi tumpang-tindih pekerjaan antara satu jabatan dan jabatan lainnya. Pastikan menentukan rincian pekerjaan setiap jabatan dan menjelaskan mereka bertanggung jawab kepada siapa dan memiliki tanggung jawab memimpin siapa. Jelaskan juga tugas harian, tugas mingguan, dan tugas bulanannya.

Berikut saya berikan contoh job description yang bisa Anda pakai. Tentunya saya tidak akan menuliskan semua job description secara detail, Anda bisa mengakses contoh lengkapnya melalui tautan berikut ini, ya https://academy.dconsulting.id/cartflows_step/business-system-mentoring/.

a. Contoh Marketing Staff Job Description
Berikut ini rincian tugas yang dimiliki oleh staf marketing.
1) Membuat rencana kegiatan yang perlu dilakukan setiap bulan atau setiap tahun dalam rangka mengenalkan produk/jasa yang dimiliki oleh perusahaan.
2) Bekerja sama dengan para partner seperti influencer, affiliator, komunitas, KOL (Key Opinion Leader), media, dan partner lain dalam upaya mengenalkan produk/jasa yang dimiliki oleh perusahaan.
3) Menyelenggarakan kegiatan secara mingguan/bulanan sesuai dengan rencana dan mengontrol jalannya kegiatan.
4) Membuat program promosi bulanan dengan tujuan mendorong pertumbuhan penjualan dan mengoordinasikan dengan divisi sales terkait progam.
5) Berkoordinasi dengan influencer dalam rangka pelaksaan program live setiap minggu.
6) Berkoordinasi dengan tim kreatif dan konten dalam rangka persiapan materi iklan yang akan dipublikasikan.
7) Berkoordinasi dengan tim iklan online atau offline dalam rangka publikasi iklan yang akan dijalankan.
8) Bertanggung jawab kepada manager marketing atas segala pekerjaan yang dilakukan.

b. Contoh Purchasing Staff Job Description
Berikut ini rincian tugas yang dimiliki oleh staf purchasing.
1) Memilih dan melakukan survei terhadap supplier yang akan bekerja sama dengan perusahaan.
2) Melakukan proses pemilihan, penawaran, dan pembelian kebutuhan barang/jasa kepada supplier yang sudah bekerja sama dengan perusahaan.
3) Memastikan pembelian yang telah dilakukan dapat diproses dengan baik oleh para supplier dengan kualitas barang/jasa yang telah disepakati.
4) Berkoordinasi dengan tim warehouse atas proses penerimaan barang dari supplier yang akan atau telah dilakukan.
5) Berkoordinasi dengan tim warehouse terkait pemenuhan kebutuhan barang/jasa perusahaan.
6) Bertanggung jawab kepada purchasing manager atas segala pekerjaan yang dilakukan.

c. Contoh Accounting Staff Job Description
Berikut ini rincian tugas yang dimiliki oleh staf accounting.
1) Melakukan pengecekan dokumen atas setiap transaksi yang ada di perusahaan.
2) Melakukan proses audit yang diperlukan di setiap departemen, seperti stock opname, AP/AR opname, asset opname, dan proses audit lainnya.
3) Memeriksa kewajaran setiap transaksi dalam usaha pengendalian fraud yang mungkin terjadi di dalam perusahaan.
4) Menerbitkan laporan keuangan perusahaan secara lengkap (Neraca, Laporan Laba Rugi, Arus Kas, dsb.) setiap bulan.
5) Melakukan analisis keuangan dan memberikan saran-saran perbaikan yang bisa dilakukan perusahaan.
6) Bertanggung jawab kepada accounting manager atas segala pekerjaan yang dilakukan.

d. Contoh Human Resources Development Staff Job Description
Berikut ini rincian tugas yang dimiliki oleh staf HRD.
1) Membuat dan memperbarui peraturan perusahaan sesuai dengan peraturan internal perusahaan dan pihak eksternal terkait.
2) Mengontrol jalannya peraturan perusahaan dan memberikan peringatan atau sanksi untuk karyawan yang melanggar.
3) Melakukan proses perekrutan karyawan, mulai dari pemasangan lowongan kerja hingga proses wawancara karyawan.
4) Melakukan proses pengarahan dan kontrak kerja atas komitmen karyawan.
5) Merancang program terkait pengarahan, pengembangan, dan kebersamaan karyawan.
6) Melakukan proses penilaian kinerja atas seluruh karyawan.
7) Bertanggung jawab kepada manajer HRD atas segala pekerjaan yang dilakukan.

C. Penempatan Key User dan User

Langkah ketiga dalam pembenahan sistem di dalam perusahaan adalah menempatkan orang di posisi yang tepat. Sering kali saya temui, penempatan jabatan dilakukan karena faktor hubungan atau faktor “orang baik” saja. Maksudnya, pengusaha memberikan jabatan tertentu kepada seseorang karena ada hubungan keluarga atau sudah kenal baik dengan pihak yang bersangkutan. Padahal belum tentu orang yang ditempatkan itu berkapabilitas.

Ada juga stigma bahwa lebih baik menerima orang jujur, tapi tidak terlalu berkapabilitas daripada orang yang tidak jujur, tapi berkapabilitas.

Jujur bagi saya, lebih baik menerima orang jujur dan berkapabilitas hehehe. Anda pasti juga berpendapat sama. Akan tetapi ini faktanya! Perusahaan Anda bisa berkembang dan terotomatisasi, Anda butuh orang tepat di tempat yang tepat. Perusahaan profesional tidak bisa asal dalam menjalankan usahanya. Tentunya langkah-langkah profesional harus dilakukan, salah satunya adalah penempatan key user dan user. Key user yang saya maksud di sini adalah pemimpin di tiap departemen. User adalah tim yang membantu key user dalam menjalankannya perannya di dalam sebuah departemen.

Langkah pertama menentukan key user atau user adalah melakukan tes karakter orang yang bersangkutan. Misalnya, Anda ingin mencari kandidat untuk mengisi posisi sales, Anda harus mencari karyawan dengan karakter supel, suka ngobrol, suka berhubungan dengan manusia lain, ceria, dan sebagainya. Untuk mengetahui karakter seperti itu, Anda bisa melakukan tes karakter terlebih dulu.

Di dconsulting.id, kami menggunakan tes karakter seperti DISC. Tes tersebut bisa menunjukkan karakter karyawan yang bersangkutan. Tes DISC memperkenalkan kita dengan 4 karakter dasar manusia, yaitu dominant, influential, compliant, dan steady. Namun, saya tidak menjelaskan secara terperinci ya untuk DISC. Anda silakan mencari literasinya di Google atau buku-buku lain.

Ilustrasi metode penilaian karakter manusia melalui DISC

Gambar 47. Ilustrasi metode penilaian karakter manusia melalui DISC Sumber: dconsulting.id

Adapun kesalahan yang sering dilakukan pengusaha terkait penetapan key user ataupun user, yaitu memaksakan penempatan karyawan yang tidak cocok karakternya. Misalnya, karyawan yang dibutuhkan harusnya adalah posisi sales. Posisi tersebut harusnya diisi dengan karakter orang yang supel, ramah, dan mudah bergaul. Namun, keterbatasan kandidat ataupun karyawan yang ada, serta tidak kunjung bertemu dengan orang yang tepat, akhirnya menempatkan orang seadanya. Hal ini adalah kesalahan fatal yang harus dihindari oleh para pengusaha dalam membangun sistem di perusahaan. Meskipun sulit mencari orang yang tepat, namun tetap harus diupayakan. Bila terpaksa harus menempatkan orang yang tidak sesuai, tetap ke depannya harus diganti dengan kandidat yang sesuai dengan posisi tersebut.

Selain karakter yang harus sesuai dengan jabatan, hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kemampuan memimpin. Bisa jadi Anda memiliki seorang yang sangat jago dalam satu bidang, misalnya saja dia berada di posisi sales. Ketika menjadi sales, orang tersebut sangat jago dalam mencari omzet. Dia sangat mahir memikat hati klien dan mendapatkan kontrak penjualan dengan nilai fantastis. Lalu, Anda menaikkan jabatannya menjadi sales manager.

Bisa jadi ketika dia menjadi sales manager, kinerjanya langsung menurun. Sudah Anda motivasi, Anda ikutkan pelatihan ataupun upaya-upaya lain secara maksimal, namun kinerjanya tidak kunjung naik. Kadang Anda bisa mendapatkan tipe karyawan seperti ini.

Belum tentu orang yang jagoan dalam satu bidang usaha dan naik jabatan menjadi pemimpin sebuah divisi kinerjanya naik. Ada juga yang malah turun! Mengapa bisa turun kinerjanya? Karena, ada karakter orang yang memang lebih bagus ketika bekerja sendiri. Karakter seperti ini, memang tidak bisa Anda promosikan menjadi pemimpin. Oleh karena itu, Anda juga harus tahu kemampuan dan kemauan memimpin karyawan sebelum mempromosikan.

D. Proses Pembuatan SOP yang Efektif dan Efisien

Banyak perusahaan yang ingin memiliki bisnis autopilot, tapi enggan membuat SOP. Hal itu sama halnya dengan bermimpi dan enggan mewujudkan mimpinya hehehe. SOP adalah salah satu dasar untuk membuat bisnis autopilot. Dengan SOP yang tepat, bisa membuat karyawan dan perusahaan berjalan dengan teratur dan terkontrol.

Salah satu alasan owner enggan membuat SOP adalah mereka merasa SOP membuat ribet dan tidak bebas bertindak. Memang awalnya terasa seperti itu, tapi apabila dijalankan secara konsisten hal tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan dan mudah dilakukan. Tinggal kembali kepada mimpi Anda! Apakah Anda masih ingin memiliki bisnis yang tersistem dan autopilot atau tidak? Bila iya, langkah ini wajib dilakukan.

SOP yang dibuat di dalam bisnis sebaiknya SOP efektif dan efisien. Efektif adalah tepat sasaran dan membuat seluruh divisi bisa bekerja dengan baik. Efisien adalah SOP yang dibuat sebaiknya mempermudah proses dan kegiatan di dalam perusahaan. Bukan malah membuat ribet dan mempersulit transaksi. Saya sering menemui perusahaan yang tidak membuat SOP dengan baik sehingga mempersulit karyawan dan merugikan pelanggannya.

Saya pernah menggunakan jasa salah satu maskapai penerbangan, tiba-tiba pesawat terbang mendahului jadwal penerbangan yang tertera. Menurut informasi yang diberikan dari pihak customer service, pemberitahuan sudah diinfokan melalui e-mail dan whatsapp. Namun, saya tidak menerima pemberitahuan tersebut! Akhirnya, saya minta diaturkan jadwal penerbangan lanjutan, namun tanggapan dari pihak customer service malah meminta saya untuk membeli tiket baru secara mandiri. Jelas saya tidak bisa menerima saran dari customer service tersebut karena informasi perubahan jadwal tersebut tidak saya terima. Kami berdebat di ruangan maskapai dan datanglah seorang petinggi maskapai tersebut, beliau mengganti penerbangan ke jadwal lain.

Seharusnya SOP pihak maskapai tersebut jelas, mereka tinggal mengganti jadwal tiket saja untuk orang-orang yang tidak mendapatkan pemberitahuan perpindahan jadwal penerbangannya. Tentunya mereka menggunakan sistem pemberitahuan otomatis dan bisa saja ada eror di sistemnya sehingga sebagian penumpang tidak mendapatkan pemberitahuan tersebut. Tidak ada SOP yang jelas membuat karyawan maskapai tersebut menghabiskan tenaganya untuk menanggapi saya. Saya juga dibuat jengkel karena tidak ada solusi yang baik dari pihak maskapai.

Saya akan memberikan rincian SOP yang harus Anda buat di perusahaan. Minimal ini adalah daftar SOP dasar untuk usaha Anda bisa berjalan dengan baik dan meminimalkan kemungkinan kecurangan. Terkait pembuatan SOP dan flowchart Anda bisa pelajari selengkapnya di tautan berikut ini https://academy.dconsulting.id/cartflows_step/landing-page-template-sop/.

1. SOP Proses Pembelian
Berikut ini rincian daftar SOP yang wajib dimiliki ketika melakukan proses pembelian.
a. SOP Pemilihan Supplier
SOP ini mengatur kriteria supplier yang bisa diajak kerja sama dalam menyediakan barang yang dibutuhkan perusahaan.
b. SOP Pengisian Data Supplier
SOP ini mengatur data-data yang perlu dilengkapi oleh supplier. Seperti nama perusahaan, alamat, NPWP, nomor rekening, jatuh tempo, dan sebagainya.
c. SOP Permintaan Pembelian
SOP ini mengatur tata cara melakukan permintaan pembelian kepada departemen purchasing.
d. SOP Order Pembelian
SOP ini mengatur tata cara order kepada supplier. Selain itu, memastikan supplier mengirimkan barang setelah mendapatkan purchase order (PO) dari perusahaan.
e. SOP Penerimaan Barang
SOP ini mengatur tata cara department warehouse menerima barang dan melakukan pencatatan atas penerimaan barang tersebut.
f. SOP Retur Pembelian
SOP ini mengatur tata cara melakukan retur barang kepada supplier atas barang yang rusak waktu kirim atau barang yang tidak sesuai dengan spesifikasi order.
g. SOP Diskon Pembelian
SOP ini mengatur tata cara mendapatkan diskon dari supplier, baik secara tunai atau produk dan melakukan pencatatan atas penerimaan diskon tersebut.
h. SOP Invoicing Pembelian
SOP ini mengatur tata cara mengakui pembelian yang sudah diterima dan mencatatkan utang usaha di dalam program keuangan.
i. SOP Uang Muka Pembelian
SOP ini mengatur tata cara memberikan down payment (DP) kepada supplier dan melakukan pencatatan atas transaksi DP tersebut.
j. SOP Pembayaran Pembelian
SOP ini mengatur tata cara melakukan pembayaran atas utang atau pembelian kepada supplier. Selain itu, SOP pembayaran pembelian memperhatikan aspek term of payment (TOP) atau jatuh tempo dari utang usaha kepada supplier.

2. SOP Proses Produksi
Berikut ini rincian daftar SOP yang wajib dimiliki ketika melakukan proses produksi.
a. SOP Pembuatan Formula Produk
SOP ini mengatur proses pembuatan formula rahasia dari setiap produk di dalam perusahaan. Hasil formula ini akan menjadi suatu yang bersifat confidential dan tidak boleh dipublikasikan kepada pihak lain.
b. SOP Pengaturan Jadwal Produksi
SOP ini mengatur penjadwalan produksi agar tidak saling berbenturan dan kebutuhan produk jadi dapat terpenuhi dengan baik.
c. SOP Surat Perintah Kerja Produksi
SOP mengatur tata cara pemberian tugas kepada departemen produksi, departemen gudang, dan departemen terkait lainnya dalam melakukan proses produksi.
d. SOP Pengambilan Bahan Produksi
SOP ini mengatur tata cara pertanggungjawaban pengambilan bahan dan pencatatannya dalam proses produksi.
e. SOP Proses Produksi
SOP ini mengatur tata cara proses produksi di dalam pabrik dari setiap mesin dan prosesnya.
f. SOP Penambahan Bahan Produksi
SOP ini mengatur tata cara melakukan penambahan bahan apabila terjadi cacat produk atau kekurangan bahan dikarenakan formula yang kurang tepat.
g. SOP Reject Barang Produksi
SOP ini mengatur tata cara memperlakukan barang produksi yang cacat dan proses pencatatannya.
h. SOP Pencatatan dan Penyimpanan Barang Jadi
SOP ini mengatur tata cara menyimpan barang jadi, siapa yang bertanggung jawab, dan cara mencatat transaksinya.

3. SOP Proses Penjualan
Berikut ini rincian daftar SOP yang wajib dimiliki ketika melakukan proses penjualan.
a. SOP Penawaran Barang/Jasa Kepada Calon Customer
SOP ini mengatur tata cara melakukan penawaran kepada calon customer dan segala bentuk upaya agar customer tertarik membeli produk serta jasa yang ditawarkan.
b. SOP Permintaan Penjualan
SOP ini mengatur tata cara mencatat permintaan barang/jasa dari customer dan waktu yang diharapkan untuk mengirimkan produk atau jasa yang diminta.
c. SOP Pengisian Data Pelanggan
SOP ini mengatur tata cara mencatat segala data pelanggan. Contoh, nama perusahaan, alamat kirim, NPWP, penanggung jawab, jatuh tempo, dan sebagainya.
d. SOP Pengecekan Kepastian Data Pelanggan
SOP ini mengatur tata cara memastikan bahwa pelanggan secara riil benar adanya dan bukan pelanggan fiktif.
e. SOP Pemberian Nominal Kredit dan Jatuh Tempo Pelanggan
SOP ini mengatur tata cara memberikan piutang usaha kepada customer. Kriteria customer, nominal kredit, lama piutang, dan sebagainya.
f. SOP Pengiriman Barang
SOP ini mengatur tata cara pengiriman barang dari perusahaan sampai kepada customer.
g. SOP Retur Penjualan
SOP ini mengatur kriteria penjualan yang boleh diretur customer dan tata cara melakukan retur penjualannya.
h. SOP Diskon Penjualan
SOP ini mengatur tata cara pemberian diskon penjualan kepada customer, kriteria penjualan yang mendapatkan diskon, persentase diskon, dan sebagainya.
i. SOP Invoicing Penjualan dan Penagihan
SOP ini mengatur tata cara pengakuan penjualan, penagihan penjualan kepada customer sampai dengan administrasinya.
j. SOP Uang Muka Penjualan
SOP ini mengatur tata cara penerimaan down payment (DP) dari customer, kriteria, dan pencatatannya.
k. SOP Penerimaan dan Pelunasan Penjualan
SOP ini mengatur tata cara pengakuan penerimaan uang pelunasan piutang usaha dari customer.

4. SOP Proses Manajemen Keuangan
Berikut ini rincian daftar SOP yang wajib dimiliki ketika melakukan proses manajemen keuangan.
a. SOP Pengisian Kas Besar/Kas Kecil
SOP ini mengatur tata cara pengisian dana kas besar atau kas kecil yang dikelola divisi keuangan.
b. SOP Pengeluaran Kas/Bank
SOP ini mengatur tata cara pengeluaran kas dan bank, serta cara pencatatannya.
c. SOP Penerimaan Kas/Bank
SOP ini mengatur tata cara penerimaan kas dan bank, serta tata cara pencatatannya.
d. SOP Kas Bon
SOP ini mengatur tata cara pemberian uang terlebih dulu kepada karyawan untuk melakukan proses pembelian secara langsung kepada supplier, tanpa menerbitkan purchase order (PO). Biasanya digunakan untuk membeli ke toko kecil atau ke pasar.
e. SOP Perizinan Piutang Karyawan
SOP ini mengatur tata cara pemberian piutang kepada karyawan yang ingin meminjam dana dari perusahaan untuk kebutuhan pribadinya.
f. SOP Pemindahan Saldo Bank ke Bank Lain
SOP ini mengatur tata cara pemindahan dana dari bank yang berkelebihan dana ke bank lain.
g. SOP Penyetoran Kas Kasir ke Bank
SOP ini mengatur tata cara melakukan penyetoran dana tunai dari kasir ke rekening bank. Hal ini bertujuan meminimalkan uang tunai yang dikelola kasir.
h. SOP Pembagian Deviden/Prive
SOP ini mengatur tata cara pengambilan deviden/prive oleh pemilik, baik melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) maupun metode lain yang dihendaki dari pemilik usaha.
i. SOP Pengeluaran Tanpa Bukti
SOP ini mengatur tata cara mengeluarkan dana dari perusahaan sebab sulit untuk mendapatkan bukti pengeluaran secara fisik.

5. SOP Proses Manajemen Persediaan
a. SOP Pengodean dan Penamaan Barang
SOP ini mengatur standardisasi pengodean dan penamaan barang. Selain itu, SOP ini mengatur penyelarasan pemberian kode dan nama barang di cabang perusahaan.
b. SOP Perhitungan dan Update Buffer Stock
SOP ini mengatur tata cara menghitung stok minimal dan maksimal yang wajib dimiliki perusahaan. Hal ini penting dilakukan dalam rangka meminimalkan terjadinya kehabisan barang yang berujung pada hilangnya kesempatan menjual kepada pelanggan.
c. SOP Penyimpanan Barang
SOP ini mengatur tata cara penempatan barang, menyimpan barang, mengambil, dan mencatat persediaan barang yang ada di dalam perusahaan.
d. SOP Penataan Barang
SOP ini mengatur tata cara layouting barang di dalam gudang dan penempatannya. Dengan demikian, bisa mengoptimalkan space gudang dan meminimalkan barang tertinggal untuk dijual.
e. SOP Stock Opname
SOP ini mengatur tata cara perhitungan fisik persediaan secara berkala. SOP ini juga bertujuan menghindari kecurangan di area gudang.
f. SOP Pemindahan Barang
SOP ini mengatur tata cara pemindahan persediaan dari gudang satu ke gudang lain.
g. SOP Pemusnahan Barang
SOP ini mengatur tata cara pemusnahan persediaan yang rusak ataupun sudah tidak bisa dimanfaatkan.
h. SOP Penyesuaian Persediaan
SOP ini mengatur tata cara penyesuaian persediaan yang selisih karena proses stock opname ataupun proses lainnya.
i. SOP Penggantian Barang Setelah Opname
SOP ini mengatur tata cara penggantian barang yang hilang atau selisih setelah melalui proses stock opname.

6. SOP Proses Pengembangan Sumber Daya Manusia
a. SOP Pemasangan Lowongan Kerja
SOP ini menyangkut tata cara memasang lowongan kerja sesuai dengan proses di strategi people.
b. SOP Pemanggilan Kandidat
SOP ini mengatur tata cara pemanggilan kandidat untuk menghadiri proses wawancara kerja.
c. SOP Wawancara Kerja Kandidat
SOP ini mengatur tata cara wawancara kepada kandidat. Mulai pertanyaan yang akan dilontarkan sampai dengan kriteria penilaian yang dilakukan.
d. SOP Kontrak Kerja Karyawan
SOP ini mengatur tata cara kontrak kerja karyawan yang meliputi isi kontrak, teknis perjanjian, dan sebagainya.
e. SOP Pelatihan SDM
SOP ini mengatur tata cara pelatihan SDM, membuat kurikulum, penentuan karyawan yang berhak mendapatkan pelatihan, dan sebagainya.
f. SOP Evaluasi dan Penilaian Kinerja
SOP ini mengatur tata cara evaluasi kinerja karyawan, standardisasi nilai, dan penilaian.
g. SOP Izin dan Cuti Karyawan
SOP ini mengatur tata cara izin atau cuti yang boleh dilakukan karyawan dan mengatur pemberian persetujuan atau penolakan terkait cuti tersebut.
h. SOP Permohonan Lembur
SOP ini mengatur tata cara lembur karyawan. Dalam SOP ini diatur kriteria kegiatan yang diperbolehkan lembur dan siapa yang berwenang untuk menyetujui permintaan lembur dari karyawan.
i. SOP Penggajian Karyawan
SOP ini mengatur tata cara penggajian karyawan, mulai presensi, perhitungan gaji, hingga pembagian gaji kepada karyawan.
j. SOP Reward dan Punishment
SOP ini mengatur tata cara pemberian reward dan punishment kepada karyawan.
k. SOP Pemutusan Hubungan Kerja
SOP ini mengatur tata cara karyawan yang mendapatkan pemutusan hubungan kerja.

Tentunya SOP yang saya tuliskan tidak akan bisa mengakomodir keseluruhan SOP di dalam perusahaan. Anda harus menambahkan SOP lain yang dibutuhkan. Indikator bahwa usaha Anda memerlukan SOP tambahan, yaitu apabila terjadi sesuatu hal yang tidak bisa langsung diputuskan oleh karyawan dan masih membutuhkan pertimbangan Anda maka kejadian tersebut perlu dibuatkan SOP. Semakin detail SOP di dalam perusahaan, akan membuat usaha Anda semakin cepat autopilot. Pertanyaannya, bagaimana mengetahui usaha Anda sudah memiliki SOP yang lengkap? Salah satunya Anda bisa menguji keandalan SOP Anda melalui sertifikasi ISO. Anda bisa membaca informasi lengkap sertifikasi ISO melalui tautan https://www.dconsulting.id/konsultasi-persiapan-iso-90012015/.

E. Proses Pendampingan Sistem Usaha dengan Proyek Manajer

Rahasia yang dilakukan dconsulting.id selama ini sehingga 99% dari proyek sistem bisnis berhasil dilakukan adalah adanya proyek manajer (PM) yang berkapabilitas. PM bertugas mengawal implementasi SOP dilakukan dengan maksimal. Pastinya akan ada banyak kendala di lapangan dalam melakukan implementasi. Mulai dari SOP yang dibuat kurang fit untuk diterapkan di perusahaan, penolakan dari karyawan atas penerapan SOP hingga kemungkinan sabotase oleh karyawan. Mereka yang melakukan kecurangan takut apabila SOP diterapkan. Sebab, hal itu memungkinkan kecurangan akan diketahui.

Meskipun sudah ada PM untuk melakukan penerapan SOP di dalam perusahaan, belum tentu implementasi SOP dapat dijalankan dengan baik. Apa penyebabnya? Pertama, perusahaan memilih proyek manajer dari karyawan yang sudah memiliki pekerjaan utama. Misal, Anda menjadikan manajer keuangan sebagai PM karena dianggap paling berpengaruh secara keuangan. Anda meminta manajer keuangan melakukan implementasi SOP yang baru. Anda tidak mempertimbangkan tugas dan tanggung jawab manajer keuangan sudah sangat banyak. Ketika ia ditunjuk menjalankan proyek penerapan SOP yang baru, sering kali tidak berjalan maksimal. Manajer keuangan tentunya akan memprioritaskan tugas sehari-hari yang diembannya dan implementasi SOP menjadi terhambat.

Kendala lainnya adalah kemampuan PM yang kurang pas. Kemampuan utama yang perlu dimiliki oleh PM adalah paham keseluruhan proses bisnis yang dimiliki oleh perusahaan. Pemahaman tersebut akan membuat PM lebih bisa melihat dengan jelas kondisi di lapangan, termasuk permasalahan. Ketika membuat sebuah kebijakan perlu mempertimbangkan kebutuhan departemen-departemen lain. Selain itu, kemampuan komunikasi, koordinasi, dan leadership dari seorang proyek manajer sangatlah dibutuhkan. Apabila proyek manajer tidak memiliki kemampuan ini, tentunya proses menemukan problem di lapangan dan mencari solusi sulit dilakukan.

Ketika mencari seorang proyek manajer dalam penerapan SOP haruslah orang khusus yang bertugas mengawal implementasi SOP dari awal hingga berjalan maksimal. Proyek manajer harus memiliki kapabilitas untuk memahami keseluruhan proses bisnis perusahaan, memiliki kemampuan komunikasi dan koordinasi yang baik, serta menjadi pemimpin andal dalam proyek ini.

F. Pemanfaatan Teknologi dalam Percepatan Otomatisasi Usaha

Setelah langkah membuat SOP efektif dan efisien dilakukan dan Anda menemukan proyek manajer yang andal, langkah selanjutnya adalah menggunakan teknologi. SOP yang dibuat memang bisa dikontrol secara manual, namun tentunya tidak mudah ketika mau melakukan pengontrolan secara manual. Utamanya, bila perusahaan Anda sudah semakin besar dan karyawan semakin banyak. Kontrol manual yang sering dilakukan dalam penerapan SOP adalah bukti fisik setiap transaksi dan tanda tangan dari pihak yang menyetujui dan melakukan transaksi.

Contoh bukti transaksi perusahaan yang sudah ditandatangani

Gambar 48. Contoh bukti transaksi perusahaan yang sudah ditandatangani Sumber: dconsulting.id

Tujuan bukti fisik ini adalah bukti pelaksanaan transaksi di lapangan. Tanda tangan digunakan untuk mengetahui pihak terkait transaksi yaitu pihak yang mengajukan transaksi, pihak yang menyetujui, dan pihak yang mengetahui transaksi. Dalam menerapkan fungsi kontrol yang baik, biasanya persetujuan dari setiap transaksi dilakukan minimal oleh 2 pihak.

Bayangkan, apabila Anda memiliki ribuan transaksi setiap bulannya, apakah Anda mampu memeriksa setiap transaksi? Tentunya Anda akan kesulitan melakukannya sehingga menyebabkan suatu celah dalam kontrol transaksi yang ada di dalam perusahaan. Oleh karena itu, penggunaan teknologi adalah salah satu jawabannya.

Teknologi atau program yang tepat akan membantu Anda melakukan pengontrolan jalannya SOP dengan lebih baik. Anda bisa tahu SOP mana yang berjalan atau tidak berjalan, transaksi yang pending hingga transaksi yang tidak disetujui. Lalu, teknologi apa yang bisa digunakan dalam rangka melakukan percepatan penerapan SOP dan melakukan kontrol atas SOP yang dijalankan? Tentunya banyak sekali teknologi saat ini yang bisa Anda gunakan, seperti program keuangan, program warehouse management, program sales, program payroll, dan sebagainya.

Saat ini teknologi pendukung sudah sangat banyak tersedia, bahkan sistem ERP (entreprise resouces planning) sudah sangat umum diterapkan di dalam perusahaan. Di dalam buku ini, saya tidak ingin membahas suatu program tertentu yang bisa Anda gunakan. Apabila Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai penggunaan dan penerapan teknologi ideal di dalam perusahaan, Anda bisa menghubungi tim dconsulting.id di 08213232.8878/0878.5216.1789.

G. Proses Kontrol, Evaluasi, dan Update SOP Berkala

Kesalahan pengusaha dalam menjalankan proses sistem bisnis di perusahaannya adalah setelah membuat SOP, tidak pernah lagi dievaluasi, apakah SOP tersebut berjalan dengan maksimal atau tidak. Bahkan, ketika usaha sudah berkembang jauh lebih besar dari sebelumnya, sering kali SOP yang digunakan masih SOP lama. Bayangkan, Anda dulu memiliki 10 orang karyawan, lalu saat ini Anda memiliki 100 orang karyawan. Apakah Anda masih relevan jika menggunakan SOP yang sama ketika Anda memiliki 10 orang karyawan? Tentunya tidak! Anda harus mengubah SOP sesuai dengan kondisi usaha Anda.

Inilah fenomena yang terjadi di banyak perusahaan. Mereka enggan melakukan evaluasi terkait kecocokan SOP yang ada dengan usaha saat ini. Tentunya seiring berkembang usaha, sering kali SOP tidak cocok lagi digunakan. Oleh karena itu, perlu penyesuaian SOP secara mandiri oleh karyawan yang ada di lapangan.

Masalahnya penyesuaian SOP tersebut dilakukan berdasarkan kehendak masing-masing departemen atau PIC (person in charge) yang bersangkutan. Tentunya setiap PIC akan memiliki cara pandang berbeda dan menyebabkan pembuatan SOP secara mandiri akan bergeser dari tujuan perusahaan. Penting sekali bagi Anda melakukan kontrol dan evaluasi SOP secara berkala. Anda perlu membentuk tim yang bertanggung jawab untuk tugas tersebut. Selain itu, tim bertugas memberikan evaluasi SOP yang tidak relevan dan revisi SOP baru sesuai dengan kondisi perusahaan.

Setelah 2 framework sebelumnya (people dan system) selesai Anda benahi, harapannya perusahaan Anda sudah berjalan dengan lebih baik dan tersistem. Langkah selanjutnya membuat bisnis Anda benar-benar autopilot adalah membenahi aspek keuangan di dalam perusahaan. Jika Anda masuk ke dunia pendidikan, ketika selesai melakukan pendidikan maka kontrol kemampuan Anda adalah hasil rapor. Kontrol dari bisnis Anda adalah hasil keuangan.

Penting sekali mengatur segala aspek terkait keuangan di perusahaan dikontrol dengan baik. Berikut ini saya akan jelaskan satu per satu, langkah-langkah pengontrolan keuangan di dalam perusahaan Anda.

A. Administrasi Bukti Transaksi

Dengan semakin berkembangnya perusahaan dan karyawan dalam perusahaan, Anda tidak bisa lagi mengingat transaksi yang terjadi. Awalnya banyak pengusaha yang mengontrol keuangannya secara mandiri. Akan tetapi, seiring berkembangnya perusahaan, kontrol keuangan dapat didelegasikan kepada divisi keuangan. Oleh karena itu, bentuk pertanggungjawaban setiap transaksi penting untuk dikontrol. Salah satu bentuk pertanggungjawaban transaksi adalah bukti fisik atau nota.

Dalam penetapan fungsi kontrol di dalam perusahaan, bukti fisik atau nota ini harus disimpan dan diarsip oleh tiap divisi. Mulai transaksi pembelian, penyimpanan persediaan, penjualan, penerimaan atau pengeluaran uang, dan transaksi lainnya. Semua bukti transaksi harus disimpan. Bukti transaksi bisa bersumber dari transaksi internal dan transaksi eksternal.

Misalnya, Anda melakukan transaksi pembelian dan perusahaan menerbitkan bukti purchase order. Dokumen purchase order adalah dokumen yang diterbitkan secara internal perusahaan. Apabila Anda melakukan transaksi penerimaan barang, dokumen yang terkait bisa bersumber dari internal perusahaan ataupun eksternal perusahaan. Dokumen yang bersumber dari internal perusahaan adalah bukti penerimaan barang yang dibuat oleh divisi warehouse. Adapun dokumen yang bersumber dari eksternal perusahaan adalah surat jalan dari supplier. Kedua dokumen ini harus disimpan oleh divisi warehouse sebagai bukti autentik dari penerimaan barang yang telah dilakukannya.

Apa yang terjadi jika transaksi tidak memiliki bukti fisik? Ini adalah hal biasa di perusahaan, khususnya saat menerapkan SOP awalnya. Saran saya untuk setiap transaksi wajib ada dokumen pembuktiannya. Namun, pembuktian transaksi awal kembali ke kebijakan Anda masing-masing. Penting dipertimbangkan bahwa toleransi berlebihan atas transaksi yang tidak memiliki bukti dokumennya akan menyebabkan celah kecurangan dari karyawan.

Jadi, penting membuat penegasan bahwa setiap transaksi wajib memiliki bukti.

B. Pembuatan Laporan Keuangan Real Time dan Valid

Setelah menyimpan dan mencatat bukti transaksi, output-nya seharusnya usaha Anda akan memiliki laporan keuangan. Laporan dibuat real time dan valid. Laporan keuangan real time adalah laporan keuangan tersebut mencerminkan kondisi saat ini dari keuangan perusahaan.

Banyak perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan H+10 dari transaksi sebenarnya. Misalnya, Anda ingin mengetahui lapangan bulan Maret 2023, namun Anda baru bisa mengetahuinya pada 10 April 2023. Memang itu sudah cukup bagus untuk mengetahui kondisi keuangan Anda 10 hari setelah tanggal seharusnya laporan. Akan tetapi, lebih baik jika Anda dapat mengetahui kondisi keuangan hari ini dan saat ini juga. Penggunaan software keuangan berbasis ERP akan membuat Anda bisa mengakses laporan keuangan secara real time dan valid.

Adapun laporan keuangan yang wajib Anda buat dalam perusahaan adalah minimal laporan laba rugi, laporan neraca, dan laporan arus kas. Laporan laba rugi berisi perincian omzet dan biaya yang dimiliki oleh usaha Anda. Hasil akhir laporan laba rugi akan menunjukkan bahwa usaha Anda mengalami keuntungan atau kerugian usaha. Laporan neraca berisi aktiva dan passiva yang dimiliki perusahaan.

Aktiva adalah kesuluruhan aset yang usaha Anda miliki. Misalnya, usaha Anda memiliki saldo rekening bank, nilai persediaan, aset berupa bangunan, kendaraan, mesin, dan aset-aset lainnya. Adapun passiva adalah perincian utang, modal disetor, dan laba ditahan yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam passiva akan terperinci nilai utang Anda kepada supplier atau pihak lain, nilai modal yang telah Anda setor, nilai laba yang tidak Anda ambil, dan masih disimpan di perusahaan.

Contoh laporan laba rugi

Gambar 49. Contoh laporan laba rugi Sumber: dconsulting.id

Contoh laporan neraca standar

Gambar 50. Contoh laporan neraca standar Sumber: dconsulting.id

Laporan neraca akan mencerminkan apakah kondisi perusahaan Anda saat ini sehat atau tidak secara permodalan. Apakah di dalam usaha Anda akan memiliki lebih banyak utang atau usaha Anda lebih banyak memiliki modal dan laba ditahan? Ini akan memudahkan Anda menilai apakah usaha sehat atau tidak secara analisis neraca keuangan. Laporan terakhir yang perlu Anda miliki adalah laporan arus kas. Banyak pengusaha mengeluh bahwa mereka mengalami keuntungan usaha, namun uangnya hilang entah ke mana. Keuntungan usaha tidak selalu berbentuk dana tunai yang tersimpan di dalam perusahaan. Bisa jadi keuntungan tersebut merupakan dalam bentuk aset, persediaan, atau bentuk lain. Dalam rangka mengetahui aliran dana, Anda perlu melihat laporan arus kas.

Contoh laporan arus kas standar

Gambar 51. Contoh laporan arus kas standar Sumber: dconsulting.id

Tentunya masih ada laporan-laporan lain yang bisa Anda buat, namun minimal 3 laporan utama ini yang harus Anda miliki. Jika Anda ingin mengetahui laporan lain yang perlu dibuat, saya coba daftarkan beberapa laporan yang juga perlu Anda miliki berikut ini: laporan rincian pembelian; laporan utang usaha per supplier; laporan rincian penjualan; laporan piutang usaha per pelanggan; laporan inventory/stok barang; laporan rincian kas/bank; dan laporan manajemen aset.

C. Audit Berkala untuk Meminimalkan Kecurangan

Proses audit ini sangat penting di dalam perusahaan. Tujuan audit adalah memastikan bahwa segala transaksi yang dicatat di laporan keuangan adalah benar adanya. Adapun proses-proses yang wajib dilakukan ketika melakukan audit laporan keuangan adalah cash opname, stock opname, AR (account receivable) opname, AP (account payable) opname, asset opname, dan sampling vouching.

1. Audit Cash Opname
Proses audit ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui kebenaran penggunaan dana tunai di dalam perusahaan. Dana tunai biasanya dikelola oleh divisi keuangan. Namun, dalam pelaksanaannya bisa saja terjadi kecurangan. Salah satu kecurangan yang bisa saja terjadi dalam pengelolaan keuangan ini adalah penggunaan dana tunai untuk kepentingan pribadi.

Biasanya dana ini digunakan sementara sampai pada saat penggajian karyawan barulah dana ini dikembalikan oleh divisi keuangan. Contoh kasus tersebut bukan berarti dilakukan juga oleh divisi keuangan Anda ya. Saya hanya memberikan contoh saja yang pernah terjadi di lapangan.

Harus ada kontrol pengelolaan dana, salah satu adalah cash opname secara mendadak kepada divisi keuangan yang memegang dana tunai. Ketika melakukan cash opname, tentunya Anda harus menghitung keseluruhan sisa uang tunai dan catatan di laporan kas. Apabila ada selisih, Anda harus meminta pertanggungjawaban divisi keuangan.

2. Audit Stock Opname
Proses audit stock opname adalah proses mencocokkan saldo persediaan yang tercatat dengan kondisi perhitungan sebenarnya persediaan di dalam gudang. Proses stock opname sangat penting dilakukan untuk memastikan kebenaran data persediaan yang ada di dalam perusahaan.

Saya sering menemukan perusahaan UMKM tidak melakukan stock opname. Salah satu alasannya, mereka kesulitan melakukan stock opname. Kasus lain, mereka sering kali melakukan stock opname, tapi hasilnya tidak pernah akurat dan kesulitan menentukan nilai stok yang benar. Kesulitan tersebut membuat para pengusaha UMKM tidak melakukan stock opname dan menganggap semuanya “baik-baik” saja. Sering kali anggapan tersebut malah membuat kerugian yang besar dari pengusaha UMKM tersebut.

Saya sering kali menangani kasus seperti ini, pengusaha mengabaikan stock opname. Ketika tim dconsulting.id berhasil melakukan stock opname, malah ditemukan kerugian dengan nilai miliaran rupiah. Keuntungan usaha selama sekian periode harus lenyap karena kerugian selisih stok. Seandainya ditemukan siapa yang bertanggung jawab atas kerugian stok tersebut, sering kali masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan baik.

Jika divisi gudang melakukan kecurangan, lalu Anda proses secara hukum dan orang tersebut mengaku bersalah kepada pihak berwenang. Ia bisa mengajukan mencicil kerugian tersebut sebesar Rp1.000.000,00 per bulan. Secara hukum, orang tersebut akan tetap dilepaskan dari jerat hukuman. Ia hanya akan menanggung cicilan sebesar Rp1.000.000,00 per bulan. Bayangkan jika Anda mengalami kerugian sebesar 1 miliar dan pihak yang melakukan kecurangan mencicil sebesar Rp1.000.000,00 per bulan. Berapa lama kerugian Anda bisa kembali? Tentunya lama sekali bukan.

Sebelum kerugian bertambah besar setiap periode, Anda wajib melakukan stock opname di dalam perusahaan. Cara membuat stock opname mudah dilakukan di dalam perusahaan tentu ada strateginya. Anda bisa pelajari strateginya di tautan berikut ini https://dconsulting.id/wmsmastery-bk.

3. Audit Account Receivable Opname
Account receivable diartikan sebagai piutang usaha. Anda melakukan penjualan kepada klien, namun belum mendapatkan pelunasan penjualan. Pelunasan penjualan bisa saja dilakukan oleh klien dengan metode transfer bank atau menggunakan tenaga tim penagihan internal perusahaan secara manual. Biasanya tim penagihan akan datang ke toko atau lokasi klien dan melakukan penagihan secara langsung.

Proses penagihan ini memungkinkan celah kecurangan sebab ada dana tunai yang dipegang pihak lain. Kecurangan bisa terjadi sebab pihak penagih tidak langsung menyetorkan piutang usaha ke perusahaan dan memakai terlebih dulu dana tersebut. Tidak adanya kontrol atas nota yang belum tertagih dan sudah tertagih membuat celah kecurangan oleh pihak penagih atau pihak keuangan yang terlibat di dalam urusan piutang usaha.

4. Audit Account Payable Opname
Account payable diartikan sebagai utang usaha. Anda melakukan pembelian kepada supplier, namun belum membayar. Meskipun di proses pembelian ini harusnya sulit terjadi kecurangan, namun saya pernah menemukan kasus kecurangan terkait account payable. Kecurangan yang saya temui terjadi karena manipulasi data rekening pembayaran supplier. Data rekening yang diberikan adalah rekening kerabat dari divisi purchasing yang melakukan pembelian.

Pembayaran kepada supplier dilakukan ke rekening tersebut. Supaya tidak langsung ditemukan kecurangan yang dilakukan, pihak purchasing menyicil secara perlahan pembayaran utang usaha kepada supplier. Ia menghubungi supplier dan meminta persetujuan atas pembayaran cicilan tersebut. Padahal perusahaan sudah membayar lunas utang usaha tersebut.

Saat dana yang terkumpul di rekening fiktif sudah semakin besar, tiba waktunya untuk divisi purchasing “melarikan diri” dari perusahaan. Setelah itu, baru ditemukan pembayaran supplier dilakukan ke rekening yang salah. Belajar dari kejadian ini, penting sekali Anda memiliki SOP untuk pendataan supplier awal.

5. Audit Asset Opname
Proses asset opname dilakukan dengan menghitung dan mengetahui secara pasti posisi aset tetap berupa tanah, bangunan, mesin, kendaraan, peralatan, dan aset tetap lainnya. Sering kali semakin berkembangnya sebuah usaha, membuat aset yang dimiliki tersebar di setiap penjuru cabang. Parahnya tidak pernah sekalipun aset tersebut dicek keberadaannya. Tidak ada pengontrolan aset membuat aset perusahaan sering dipakai atau dijual pihak tertentu.

Oleh karena itu, penting sekali perusahaan Anda memiliki data aset yang riil dan secara rutin memeriksa keberadaan aset.

6. Proses Sampling Vouching
Vouching adalah proses memastikan kebenaran dari bukti-bukti fisik dokumentasi transaksi. Vouching digunakan untuk mengecek nota pembelian, nota penjualan, atau nota pengeluaran dana perusahaan. Proses ini penting sekali dilakukan karena terkadang nota yang dibuat bisa saja nota fiktif. Pihak yang berniat melakukan kecurangan menulis secara mandiri dari nota tersebut. Padahal, secara riil transaksinya tidak ada. Tentunya pihak tersebut akan mencurangi terkait dengan dana ataupun hal lainnya.

D. Analisis Keuangan Perusahaan

Setelah proses melakukan proses audit, minimal Anda sudah berusaha memastikan kevalidan laporan keuangan perusahaan. Selanjutnya, Anda harus melakukan analisis terhadap keuangan usaha untuk mendapatkan hasil maksimal. Banyak pengusaha yang hanya peduli untung atau rugi daripada laporan keuangannya. Bila laporan keuangan menunjukkan posisi untung, segalanya akan tampak baik bagi pengusaha tersebut. Namun bila laporan keuangan menunjukkan posisi rugi, ini pertanda ada yang tidak beres dalam perusahaan.

Memang untung atau rugi bisa menjadi salah satu indikator atas sehat atau tidaknya keuangan perusahaan. Apabila perusahaan mengalami kerugian terus-menerus maka perusahaan terindikasi memiliki keuangan yang tidak sehat. Akan tetapi, belum tentu juga perusahaan selalu untung bisa menjadi perusahaan sehat. Saya sering menemukan perusahaan mengalami keuntungan dalam laporan keuangannya, namun setelah dianalisis ternyata perusahaan tersebut tidak sehat.

Beberapa faktor yang menyebabkan perusahaan tidak sehat adalah berikut ini.

  1. Perusahaan memiliki nilai keuntungan bersih terlalu kecil.
  2. Perusahaan tidak memiliki dana cukup untuk melunasi utang.
  3. Perusahaan memiliki banyak persediaan yang tidak bisa terjual.
  4. Perusahaan memiliki piutang usaha yang nilainya besar dan sulit tertagih.
  5. Perusahaan memiliki terlalu banyak aset tetap yang tidak produktif.
  6. Dana perusahaan banyak terpakai untuk kepentingan pribadi pemilik usaha.

1. Perusahaan Memiliki Nilai Keuntungan Bersih Terlalu Kecil
Salah satu yang menyebabkan perusahaan tidak sehat adalah nilai keuntungan bersih perusahaan terlalu kecil. Keuntungan bersih tiap jenis perusahaan tentu akan berbeda tergantung dari jenis dan skala usahanya. Namun, semakin kecil persentase keuntungan bersih suatu usaha akan membuat usaha tersebut sulit berkembang. Misalnya, perusahaan secara laporan keuangan memiliki untung bersih sebesar 1—2% per periode. Tidak berarti perusahaan ini jelek, tapi tentunya untuk berkembang membutuhkan waktu lebih lama dan usaha lebih banyak.

2. Perusahaan Tidak Memiliki Dana Cukup untuk Melunasi Utang
Akibat sering membeli barang atau berinvestasi terhadap aset, sering kali perusahaan tidak memiliki dana cukup untuk membayar utang. Padahal kecukupan dana untuk membayar utang usaha atau utang jangka pendek lainnya penting diperhatikan. Belajar dari ilmu manajemen keuangan, perusahaan perlu memperhatikan rasio likuiditas perusahaan. Dana tunai yang terlalu banyak tidak bagus untuk perusahaan, namun dana tunai terlalu sedikit tidak baik pula untuk perusahaan. Pengusaha harus berusaha menyeimbangkan dana yang dimiliki.

3. Perusahaan Memiliki Banyak Persediaan yang Tidak Bisa Terjual
Begitu melihat ada promo atau diskon barang yang akan dijual dalam usahanya, sering kali pengusaha kalap. Mereka membeli barang dalam jumlah sangat besar karena berpikir akan mendapatkan keuntungan dari pembelian barang tersebut. Strategi promo atau diskon besar ini sering dimanfaatkan oleh para pemilik merek untuk meningkatkan penjualan distributor atau reseller-nya. Membeli barang yang sedang diskon tidaklah salah, asalkan pembelian dilakukan dengan terukur. Saya pernah menemukan perusahaan saking banyaknya melakukan pembelian barang sampai akhirnya gudangnya penuh oleh barang-barang yang tidak berhasil dijual. Barang-barang tersebut tidak diminati oleh klien, tertimbun dalam gudang, dan tidak bisa terjual.

Barang yang tidak terjual ini dinamakan dead stock atau barang mati. Risiko dead stock adalah barang tidak bisa terjual, memenuhi kapasitas gudang, dan berisiko barangnya akan rusak. Sebenarnya memiliki banyak barang adalah hal yang baik. Memiliki banyak barang akan baik, bila barang tersebut dapat segera terjual. Apabila tidak segera terjual malah akan menjadi beban perusahaan.

4. Perusahaan Memiliki Piutang Usaha yang Nilainya Besar dan Sulit Tertagih
Banyak pengusaha lebih mementingkan omzet dibandingkan apa pun. Mereka berpikir dengan adanya omzet akan membuat usaha mereka bisa bertahan dan berkembang. Memang anggapan tersebut tidak salah, namun saya lebih sepakat dengan konsep omzet yang dapat tertagih. Dengan kata lain, omzet penting, namun lebih penting lagi setiap omzet yang ada dapat diubah menjadi dana tunai dalam tempo cepat.

Banyak pengusaha memikirkan penjualan, tapi penjualannya tidak langsung dapat tertagih. Tertagihnya bisa jadi lebih dari 3 bulan! Bahkan, saya pernah menemui pengusaha yang omzetnya dapat tertagih lebih dari 6 bulan! Omzet yang belum tertagih itu dinamakan piutang usaha. Bayangkan saja Anda memiliki piutang usaha selama 6 bulan lebih. Berapa dana yang perlu Anda persiapkan untuk mengatasi hal tersebut? Tentunya adalah nilai penjualan Anda selama 6 bulan dan nilai barang yang perlu Anda simpan di dalam perusahaan.

Semakin besar piutang Anda, semakin besar modal usaha yang Anda perlukan. Ditambah lagi kemungkinan pelanggan mengalami kejadian buruk di dalam perusahaannya. Misalnya, perusahaan pelanggan mengalami kebakaran, tentunya piutang usaha Anda juga akan mengalami masalah. Oleh karena itu, penting sekali memiliki tempo piutang usaha yang lebih pendek.

5. Perusahaan Memiliki Terlalu Banyak Aset Tetap yang Tidak Produktif
Apabila memiliki terlalu banyak dana tunai, sering kali pengusaha gelap mata dan membeli aset yang mungkin tidak produktif. Contohnya, bangunan yang tidak terpakai, tanah yang tidak produktif, kendaraan dan mesin yang jarang digunakan. Begitu membeli aset tentunya dana perusahaan akan teralihkan kepada aset tersebut. Namun, aset yang tidak produktif tentunya membuat dana tidak berkembang. Belum lagi bila membeli aset dengan cicilan bank, tentunya akan menambah lagi biaya bunga di dalam perusahaan.

Saya juga sering menemui bahwa pengusaha memiliki banyak aset bergerak seperti kendaraan. Akibat tidak pernah dianalisis, akhirnya tidak tahu bahwa produktivitas aset bergeraknya sangatlah kecil. Banyak aset yang tidak terpakai maksimal, namun tidak dijual oleh pengusaha. Coba Anda bayangkan jika memiliki 1 aset tidak bergerak, berapa biaya yang sudah Anda keluarkan. Minimal Anda mendapati biaya penyusutan aset yang akan terjadi setiap bulannya. Belum lagi penurunan nilai aset secara nilai pasar, biaya perawatan, dan biaya pajak yang menyertai aset bergerak tersebut.

6. Dana Perusahaan Banyak Terpakai untuk Kepentingan Pribadi Pemilik Usaha
Ini salah satu hal klise yang sering terjadi pada pengusaha UMKM. Tidak memisahkan rekening perusahaan dan pribadi adalah masalah pertama yang bisa menyebabkan gulung tikarnya sebuah perusahaan. Berikutnya, pengusaha sering menggunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi, tanpa memperhatikan faktor kesehatan dari usaha. Hal ini sering saya temui di perusahaan keluarga, aliran dana keluar bisa dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Asas kekeluargaan yang membuat setiap anggota keluarga merasa sungkan untuk menegur atau mengingatkan saudara lain atas pemakaian uangnya.

Namun, perusahaan tetaplah perusahaan! Perusahaan yang baik tidak bisa diperlakukan dengan cara kekeluargaan. Perusahaan harus menggunakan cara profesional. Semakin tidak profesional pengelolaan keuangan suatu perusahaan, semakin cepat juga perusahaan tersebut akan gulung tikar.

E. Proses Cashflow Management yang Efektif dan Efisien

Dalam pengelolaan keuangan usaha, keuntungan adalah salah satu faktor yang perlu diperhatikan agar usaha memiliki kemungkinan berkembang. Tidak kalah penting adalah cashflow yang positif. Cashflow adalah pergerakan uang di dalam perusahaan. Bila diibaratkan perusahaan seperti tubuh Anda, cashflow seperti aliran darah yang mengalir ke tiap bagian tubuh Anda. Darah akan masuk ke tiap organ tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, dan sebagainya. Tugasnya adalah mengalirkan energi agar setiap organ bisa bekerja dengan maksimal.

Analogi ini sama seperti cashflow dalam perusahaan. Aliran uang berfungsi untuk memastikan setiap kegiatan yang ada di perusahaan dapat berjalan maksimal. Tanpa adanya dana yang mengalir, bisa jadi kegiatan operasional bisa terhenti. Oleh karena itu, penting menjaga aliran uang selalu bergerak dengan baik. Salah satu cara memastikan aliran uang bisa berjalan baik yaitu pengusaha harus memiliki aliran uang yang positif.

Lalu bagaimana caranya agar bisa mendapatkan cashflow yang positif? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan berikut ini.

  1. Menjaga perusahaan agar selalu mendapatkan untung bersih yang optimal.
  2. Memperkecil durasi dan biaya untuk menyimpan persediaan.
  3. Memperkecil durasi dan nilai piutang usaha pelanggan.
  4. Memperpanjang durasi utang usaha kepada supplier.
  5. Memperkecil durasi cash conversion cycle.

1. Menjaga Perusahaan agar Selalu Mendapatkan Untung Bersih yang Optimal
Keuntungan bersih yang optimal adalah faktor awal untuk mendapatkan cashflow positif. Bagaimana caranya mendapatkan cashflow positif kalau perusahaan tidak untung? Keuntungan inilah yang nanti bisa digunakan sebagai penambahan modal usaha yang sudah disetor oleh pemilik. Banyak perusahaan yang tidak tahu berapa untung optimal dari perusahaannya. Memang untung optimal dari setiap perusahaan bisa berbeda-beda, tergantung dari jenis perusahaannya. Namun, saya coba berikan Anda range untuk untung optimal yang bisa dimiliki oleh setiap jenis usaha sebagai berikut.

  • a. Keuntungan optimal usaha retail: 10—25%;
  • b. Keuntungan optimal usaha grosir: 5—15%;
  • c. Keuntungan optimal usaha manufaktur: 10—25%;
  • d. Keuntungan optimal usaha jasa: 20—30%;
  • e. Keuntungan optimal usaha FnB: 15—30%; dan
  • f. Keuntungan optimal usaha konstruksi: 5—15%.

Belum tentu range ini cocok untuk usaha Anda. Minimal Anda tahu perkiraan untung yang mungkin bisa didapatkan perusahaan sesuai dengan karakternya. Saya banyak menangani perusahaan yang keuntungan lebih kecil daripada range tersebut. Ternyata setelah saya telusuri, banyak biaya-biaya yang tidak efektif dan membuat beban berat untuk perusahaan. Kalau bisa memastikan bahwa biaya yang Anda keluarkan optimal, keuntungan Anda bisa meningkat pula.

2. Memperkecil Durasi dan Biaya untuk Menyimpan Persediaan
Sering kali pengusaha memiliki persediaan banyak barang di dalam gudang, namun barang tersebut terjual dalam tempo lebih dari 6 bulan. Bahkan, ada barang yang terjual lebih dari setahun. Menurut beberapa pengusaha, itu adalah hal yang wajar. Namun, saya ingin memberikan gambaran bahwa menyimpan barang terlalu lama di gudang akan membuat masalah untuk perkembangan usaha Anda. Masalah pertama, tentunya dana Anda akan terpakai untuk membeli barang. Ketika dana Anda terpakai, bisa jadi Anda harus menambah modal baru atau meminjam uang di bank.

Ketika Anda meminjam uang di bank, tentunya akan ada biaya bunga yang dibebankan ke perusahaan. Inilah hal yang jarang dipikirkan oleh para pengusaha, khususnya pengusaha UMKM. Ketika Anda meminjam uang di bank, ada biaya bunga misal 12% per tahun. Artinya, setiap bulan Anda menanggung biaya bunga sebesar 1% per bulan. Bayangkan saja bila persediaan Anda terjual dalam 6 bulan, sebenarnya Anda sedang mengalami kerugian sebesar 6% dalam 6 bulan. Itulah sebab banyak pengusaha yang mengeluh kepada saya, perusahaannya untung secara kertas, tapi uangnya entah ke mana. Salah satu faktor juga karena banyak menyimpan barang ini.

3. Memperkecil Durasi dan Nilai Piutang Usaha Pelanggan
Piutang usaha juga salah satu aspek yang menghabiskan dana perusahaan. Kalau Anda memberikan piutang usaha kepada pelanggan, sebenarnya Anda sedang mendanai usaha pelanggan. Semakin banyak jumlah piutang usaha Anda, semakin besar juga modal yang Anda butuhkan untuk menjalankan perusahaan. Hampir sama dengan konsep persediaan, jika Anda memberikan piutang usaha ke pelanggan. Dana tidak cukup di dalam perusahaan membuat Anda harus berutang kepada bank. Selama Anda memberikan piutang ke pelanggan, Anda juga sedang mendapatkan tambahan biaya sebesar 1% per bulan. Anggap saja Anda mendapat untung 10% dari penjualan. Lalu, Anda memberikan piutang usaha selama 6 bulan. Perhitungan sebenarnya Anda hanya untung tinggal 4% saja dari pelanggan. Sebab, 6 bulan piutang bisa diartikan Anda berkurang keuntungannya sebesar 6%.

4. Memperpanjang Durasi Utang Usaha kepada Supplier
Lain halnya dengan persediaan dan piutang usaha yang diharapkan semakin singkat waktunya akan semakin baik. Sebaliknya, semakin lama waktu utang usaha akan semakin baik. Sebab, utang usaha adalah dana tambahan yang diberikan supplier ke perusahaan Anda. Dengan adanya utang usaha, malah menambah kecukupan dana untuk kegiatan operasional perusahaan.

Sebaiknya Anda mencari strategi agar supplier mau memberikan nilai utang lebih besar dalam tempo lebih lama. Tentunya perlu diingat, Anda berkewajiban membayar utang. Jangan sampai Anda menunggak atau mengabaikan pembayaran utang usaha! Apabila Anda melakukan hal tersebut akan berdampak buruk untuk reputasi dan usaha Anda.

5. Memperkecil Durasi Cash Conversion Cycle (CCC)
Cash conversion cycle (siklus konversi kas) adalah perhitungan yang digunakan perusahaan untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan agar dana yang diinvestasikan dalam bentuk persediaan menjadi uang tunai kembali. Semakin lama durasi CCC akan membuat dana Anda semakin minim dan kemungkinan memperbesar permodalan secara mandiri atau melakukan pinjaman kepada pihak perbankan semakin kecil peluangnya.

Anda harus mengatur strategi agar CCC semakin kecil. Lalu, bagaimana caranya agar CCC Anda semakin kecil? Anda bisa memperkecil umur piutang usaha, memperkecil umur persediaan, dan menambah umur utang usaha. Contoh, usaha Anda memiliki umur piutang rata-rata 2 bulan, lalu persediaan tersimpan di gudang hingga terjual rata-rata 2 bulan. Padahal, Anda hanya mendapatkan tempo utang usaha dari supplier selama 1 bulan. Artinya, Anda akan mendapatkan defisit cash flow selama 3 bulan.

Contoh CCC defisit: Umur Utang Usaha 1 bulan – Umur Piutang Usaha 2 bulan – Umur Persediaan 2 bulan = Cash Conversion Cycle minus 3 bulan

Seandainya Anda bisa mengoptimalkan utang usaha, piutang usaha, dan umur persediaan, bisa jadi hasilnya berbeda. Misalnya, Anda bisa negosiasi dengan supplier sehingga supplier memberikan jatuh tempo utang selama 3 bulan. Dengan cara tertentu, piutang usaha Anda ke klien tinggal 1 bulan dan persediaan di gudang sampai terjual tinggal 1 bulan, hasilnya Anda akan mendapatkan surplus cashflow selama 1 bulan. Anda bisa mendapatkan tambahan modal secara gratis 1 bulan untuk operasional perusahaan.

Contoh CCC surplus: Umur Utang Usaha 3 bulan – Umur Piutang Usaha 1 bulan – Umur Persediaan 1 bulan = Cash Conversion Cycle surplus 1 bulan

Di dalam proses cashflow management tentunya banyak sekali rasio-rasio yang bisa Anda pelajari supaya keuangan perusahaan semakin sehat. Berikut saya berikan tautan untuk mempelajari penataan cashflow dan analisis keuangan Anda secara mendalam https://academy.dconsulting.id/cartflows_step/mahir-analisis-rasio-keuangan-di-perusahaan/

F. Proses Membangun Divisi Internal Control

Akhir pembenahan sistem keuangan adalah membuat tim independen. Saat dconsulting.id membantu klien melakukan pembenahan sistem bisnis, keuangan, dan perpajakan di perusahaan klien, kami selalu memiliki tujuan akhir, klien bisa mandiri. Alasannya, dalam kasus-kasus yang terjadi di lapangan, ada kasus yang membutuhkan keputusan cepat dan tidak bisa menunggu lama. Ketika Anda bergantung dengan pihak lain, bisa jadi Anda akan membuat keputusan lebih lambat dan masalah yang terjadi lebih parah.

Dalam strategi ini, saya juga selalu mendorong Anda memiliki divisi internal control. Tugas divisi ini adalah melakukan proses review, evaluasi, dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Tim internal control biasanya akan bertindak secara independen, tanpa terikat dengan divisi apa pun. Selain itu, tim internal control langsung bertanggung jawab kepada direktur atau business owner. Divisi ini akan mengecek keseluruhan aktivitas divisi lainnya dan tidak memegang kendali apa pun atas aktivitas perusahaan. Jadi divisi ini diharapkan bisa menjadi divisi netral dan memang berfungsi sebagai pengawas dari kinerja semua divisi.

Silakan ikuti beberapa pelatihan yang diselenggarakan oleh dconsulting.id untuk memperdalam pemahaman dan praktik penerapan ilmu dari buku ini. Berikut ini adalah pelatihan yang sudah pernah dibuat Dedy Sidarta bersama dconsulting.id.

A. FINANCIAL MASTERY FOR NON FINANCE
Pelatihan yang ditujukan untuk para business owner dan manajemen atas (Direktur, GM, dan Manajer) yang tidak paham sama sekali mengenai keuangan. Materi pelatihan ini adalah strategi sederhana agar business owner dan manajemen atas bisa mahir keuangan tanpa harus belajar dalam waktu panjang.

B. BALANCING BUSINESS SYSTEM AND PEOPLE IN ORDER TO DEVELOP THE COMPANY
Pelatihan yang ditujukan untuk para business owner atau manajemen atas (Direktur, GM dan Manajer) agar mengerti strategi dalam implementasi sistem di perusahaan baru atau perusahaan yang sudah berjalan. Pelatihan ini akan membuat perusahaan bisa berjalan maksimal dan berdampak pada peningkatan produktivitas perusahaan serta SDM perusahaan.

C. IDEAL WAREHOUSE MANAGEMENT SYSTEM
Pelatihan yang ditujukan untuk para business owner, manajemen atas, tim gudang, dan accounting agar mengerti strategi dalam melakukan penataan warehouse yang ideal. Selain itu, peserta pelatihan ini akan belajar strategi dalam meminimalkan kecurangan, khususnya di area warehouse.

D. STRATEGI TO REDUCE FRAUD AND MAXIMIZE PROFIT
Pelatihan yang ditujukan untuk para business owner, manajemen atas, tim accounting dan audit agar mengerti strategi yang bisa dilakukan dalam pencegahan kecurangan dari segala lini bisnis dan divisi.

E. CREATING BUDGETING AND BUSINESS PLAN
Pelatihan yang ditujukan untuk para business owner, manajemen atas dan tim accounting agar memahami cara membuat budgeting yang tepat. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membuat budgeting. Serta mendorong peserta untuk bisa memiliki goal jangka panjang dan mendetailkannya ke dalam sebuah business plan.

F. HOW TO PLAN TAX LEGAL AND SAVE
Pelatihan yang ditujukan untuk para business owner, manajemen atas, tim accounting dan pajak agar bisa memahami cara-cara legal dalam melakukan perencanaan pajak di dalam perusahaan. Tentunya cara legal ini akan bertujuan membuat penghematan dalam pembayaran pajak perusahaan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2013. Edisi ke-empat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

nn. tt. “Yuk! Lihat Kantor Google di Tahun 1998”. Mastel, dilihat 3 Januari 2023. <https://mastel.id/yuk-lihat-kantor-google-di-tahun-1998/>

Santoso, Paulus Bambang W., Lumban Toruan, dan Rayendra. 2009. Lead to Bless Leader: Kepemimpinan yang Menjamin Perusahaan Sejahtera dan Karyawan Bahagia. Jakarta:: Elex Media Komputindo,

Triadiniata, Firman. 2023. “Lowongan Kerja PT BRI Persero 2023 untuk Lulusan SMA hingga S2, Ini Formasinya”. Benglulu Ekspres, 14 Januari 2023, dilihat 5 Februari 2023. https://bengkuluekspress.disway.id/read/141559/lowongan-kerja-pt-bri-persero- 2023-untuk-lulusan-sma-hingga-s2-ini-formasinya/30

Wikipedia. 2022. “Remunerasi”. Wikipedia, dilihat 2 Januari 2023. <https://en.wikipedia.org/wiki/Remuneration>

Wikipedia. 2023. “Akhlak”. Wikipedia, dilihat 10 April 2023. Wikipedia. 2023. “Pelayan”. Wikipedia, dilihat, 13 Maret 2023.
<https://id.wikipedia.org/wiki/Pelayan>

Wikipedia. 2023. “Pemungut Cukai”. Wikipedia, dilihat 18 Maret 2023.
<https://id.wikipedia.org/wiki/Pemungut_cukai> <https://www.dconsulting.id/> <https://www.google.com/search?q=dconsulting.id> <https://www.instagram.com/dconsulting.id/> <https://www.tiktok.com/@dconsulting.id?lang=id-ID> <https://www.youtube.com/channel/UC_V0jAEiGX3UmK7E6iFsjSg>

Dedy sidarta adalah seorang konsultan, pembicara, entrepreneur, dan investor. Kepiawaiannya dalam mengatur sistem bisnis dan keuangan merupakan modal beliau membangun, memimpin, dan mengembangkan 6 perusahaan berbeda yang dinaungi oleh D`consulting Group. Beliau juga aktif mengajar lebih dari 1.000 orang pengusaha setiap tahunnya di seluruh penjuru Indonesia.

Dengan menggunakan bendera dconsulting.id, Dedy Sidarta sudah memberikan konsultasi dan membantu pengembangan usaha lebih dari 400 perusahaan di seluruh Indonesia. Banyak perusahaan yang telah mendapatkan peningkatan keuangan ratusan persen dan berhasil membuka cabang lain usahanya.

Penulis sangat terbuka terhadap segala bentuk komunikasi dari Anda, baik pertanyaan ringan ataupun diskusi mendalam. Kunjungilah www.dconsulting.id atau telepon ke 082132328778 untuk mendapatkan informasi dan berdiskusi dengan Dedy Sidarta. Anda pun dapat mengirimkan pesan secara daring di akun instagram @dedysidarta_official.

Back Cover
Page 1 of 18

Table of Contents

DOWNLOAD APLIKASI GRATIS!

Cek Kondisi Bisnis Gratis dan Akses Course

Lebih fleksibel dimana pun tanpa ribet buka laptop